Artikel · Potret Online

Memang Gile Haji Dadan Cs Pesta Pora Korupsi di Tengah Keracunan MBG

Penulis  Rosadi Jamani
Juni 5, 2026
3 menit baca 12
57142c1d-f8e9-4ff8-9514-58046b49dfa3
Foto / IlustrasiMemang Gile Haji Dadan Cs Pesta Pora Korupsi di Tengah Keracunan MBG
Disunting Oleh

Oleh Rosadi Jamani

Memang gile, atau meminjam kata Prabowo kemarin, brengsek. Di saat ribuan ibu panik lihat anaknya muntah-muntah akibat keracunan MBG, di saat puskesmas dan rumah sakit menerima gelombang siswa yang lemas, pusing, dan diare, justru muncul pesta pora korupsi. Ngeri benar dah. Kita lanjutkan drama BGN episode ke-11. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kejaksaan Agung menggerebek kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Kebon Sirih. Bukan datang untuk minta nasi kotak. Mereka datang membawa surat penggeledahan.

Belasan jam penyidik mengobrak-abrik kantor. Dokumen disita. Laptop diangkut. Handphone dibawa. Kabarnya sampai berdus-dus HP keluar dari gedung.

Yang membuat rakyat ternganga bukan hanya jumlah barang bukti. Tapi sebuah jam tangan mewah Bell & Ross BR-X3 Blue Steel senilai sekitar Rp158 juta.

Seratus lima puluh delapan juta. Nilai yang setara lebih dari 10.000 porsi makan bergizi gratis.

Nuan bayangkan, kang. Di satu sudut negeri, seorang anak membuka kotak MBG berharap ada telur utuh. Di sudut lain, ada jam tangan yang nilainya bisa memberi makan satu sekolah.

Jam itu bukan penunjuk waktu. Jam itu seperti monumen kecil yang mengukur seberapa jauh pejabat bisa terbang meninggalkan rakyat.

Tak lama kemudian, eks Kepala BGN Haji Dadan Hindayana bersama dua wakilnya ditetapkan sebagai tersangka.

Penyidik menduga ada mark-up pengadaan 21.801 motor listrik senilai Rp1,035 triliun.

Angka yang kalau dibuat pecahan seribuan mungkin bisa menutup jalan dari Pontianak sampai perbatasan Sarawak.

Belum lagi dugaan permainan pengadaan sepatu, tablet, televisi, sampai yayasan-yayasan SPPG yang diduga mendapat karpet merah super premium.

Menurut penyidik, yayasan-yayasan tertentu diduga menerima insentif hingga sekitar Rp1 miliar per hari secara kolektif.

Per hari.

Kalau rakyat menabung seratus ribu sehari, perlu puluhan tahun untuk melihat angka seperti itu.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan mencatat sampai Mei 2026 terdapat 37.673 korban dugaan keracunan MBG. Bukan 37 orang. Bukan 370 orang. Tiga puluh tujuh ribu enam ratus tujuh puluh tiga orang.

Ada yang rawat inap. Ada yang rawat jalan. Ada yang hanya bisa berbaring di rumah sambil menahan mual.

Data itu tersebar di 445 kejadian pada 210 kabupaten dan kota di 36 provinsi. Kalau angka itu dikumpulkan di satu stadion, tribun bisa penuh.

Namun bagi sebagian pejabat, angka itu mungkin hanya deretan digit di layar komputer. “Ah, cuma 0,007 persen.”

Padahal di balik satu angka ada seorang ibu yang tidak tidur semalaman. Ada seorang ayah yang izin kerja karena anaknya harus dibawa ke rumah sakit.

Ada bocah yang seharusnya belajar matematika tetapi malah menghitung jumlah botol infus. Inilah bagian yang membuat rakyat naik pitam.

Kalau benar dugaan korupsi itu terjadi, maka uang yang diambil bukan sekadar uang negara. Itu uang lauk anak-anak. Itu uang susu anak-anak. Itu uang vitamin anak-anak. Itu uang yang seharusnya berubah menjadi tubuh sehat, otak cerdas, dan masa depan lebih baik.

Betapa kejamnya mereka. Pesta pora di tengah ribuan anak keracunan.

Anak-anak antre makanan karena percaya negara hadir. Orang tua melepas mereka ke sekolah dengan keyakinan, program ini dibuat demi gizi generasi bangsa.

Tetapi di saat yang sama muncul dugaan ada yang sibuk menghitung keuntungan, mengatur proyek, mengurus yayasan afiliasi, dan menikmati aliran uang miliaran. Ini seperti melihat kapal penyelamat yang justru dibobol awak kapalnya sendiri.

Yang paling menyedihkan, korban sesungguhnya bukan Haji Dadan, bukan pejabat, bukan kontraktor.

Korban sesungguhnya adalah anak-anak yang belum mengerti apa itu APBN, apa itu mark-up, apa itu korupsi.

Mereka hanya tahu satu hal. Mereka lapar. Ketika hak makan mereka dijadikan jalan menuju kemewahan, maka korupsi itu bukan lagi sekadar pencurian uang negara. Itu pencopetan masa depan yang dilakukan di depan wajah jutaan orang tua Indonesia.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...