Berburu Profesor, Mengubur Gagasan : Mengapa Kampus Kita Gagal Menulis?

Oleh:Teuku Muhammad Jamil
Akademisi dan Guru pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Aceh
Tulisan Saudaraku Tabrani Yunis berjudul “Mencari Korelasi Minat Menulis Mahasiswa dan Profesor” berhasil memotret noktah hitam yang selama ini menjadi kegelisahan dunia akademik: matinya budaya menulis di perguruan tinggi. Namun, mereduksi persoalan ini sekadar pada hubungan kausalitas antara mahasiswa dan profesor adalah sebuah simplifikasi yang keliru. Masalah kita jauh lebih struktural dan eksistensial. Kampus-kampus kita hari ini gagap membangun ekosistem intelektual yang menjadikan membaca, berpikir, berdiskusi, dan menulis sebagai napas kehidupan sehari-hari.
Kita kerap terjebak pada mitos akademis: bahwa kehadiran profesor yang produktif otomatis menular menjadi syahwat menulis bagi mahasiswa. Ini ilusi. Menulis bukanlah penyakit menular yang berpindah melalui SK jabatan fungsional. Ia adalah produk dari habitus intelektual yang dirawat secara radikal.
Fakta di lapangan berbicara sebaliknya: banyak profesor produktif memproduksi artikel ilmiah, namun mahasiswanya tetap pasif-bebal. Mengapa? Karena sistem pembelajaran kita masih terjebak pada feodalisme akademik, hafalan kering, dan tumpukan tugas administratif yang membunuh nalar kritis. Sebaliknya, pada ruang-ruang yang menghargai dialektika, kritik, dan kebebasan berekspresi, mahasiswa justru aktif menulis meskipun tanpa stimulus dari gelar profesor di sekeliling mereka.
Sindrom Digital dan Kematian Nalar Kritis
Ironi ini diperparah oleh pergeseran perilaku generasi digital. Mahasiswa hari ini adalah konsumen setia dari banjir informasi media sosial—ruang yang merayakan kecepatan ketimbang kedalaman, dan selebrasi ketimbang refleksi. Akibatnya, tradisi membaca runtuh. Padahal, secara epistemologis, kualitas tulisan berkorelasi lurus dengan kedalaman membaca.
Maka, akar masalahnya bukan sekadar “rendahnya minat menulis”, melainkan melemahnya budaya berpikir kritis. Menulis adalah artikulasi dari proses berpikir. Ketika tradisi berpikir kritis mengalami pembusukan, maka tradisi menulis dengan sendirinya akan mati pucuk.
Fetisisme Gelar dan Angka-Angka Kosong
Perguruan tinggi kita hari ini mengidap fetisisme akut terhadap angka dan simbol:
- Bangga pada jumlah profesor,
- Terobsesi pada peringkat akreditasi, dan
- Memuja statistik institusional.
Namun, mereka abai bertanya: sejauh mana kampus telah melahirkan komunitas intelektual yang aktif menguji gagasan?
Mahasiswa seharusnya sudah dipaksa “bertarung” di ruang publik lewat opini, esai, policy brief, hingga artikel ilmiah sejak semester awal—bukan baru dipaksa menulis saat skripsi melanda sebagai syarat pragmatis kelulusan.
Di sisi lain, para profesor juga harus turun dari menara gadingnya. Menulis semata-mata demi memenuhi indikator kinerja klinis atau mengejar angka kredit kenaikan pangkat adalah bentuk pelacuran intelektual. Profesor harus menulis untuk mengintervensi kebijakan publik, memengaruhi arah pemikiran bangsa, dan menjawab jeritan persoalan masyarakat. Profesor yang hanya aktif menulis di jurnal internasional bereputasi demi Scopus, namun absen dan bisu dalam merespons realitas sosial di sekitarnya, telah kehilangan legitimasi moralnya sebagai intelektual.
Kesimpulan : Menggugat Kemajuan Semu
Pada akhirnya, kebesaran sebuah universitas tidak diukur dari berapa banyak manusia bergelar profesor yang berbaris di ruang senat, melainkan seberapa banyak gagasan progresif yang lahir dan menguji zaman dari kampus tersebut. Kampus yang agung adalah kampus yang menghidupkan tradisi berpikir, bukan sekadar pabrik pencetak ijazah dan gelar.
Jika kita serius ingin membenahi minat menulis mahasiswa, berhentilah memberikan indoktrinasi teknis. Benahi hulu persoalannya: bangun budaya intelektual yang menghargai oposisi biner pemikiran, kritik yang tajam, argumentasi yang kokoh, dan jaminan kebebasan akademik yang mutlak. Hanya dari rahim ekosistem yang merdeka seperti itulah, akan lahir penulis-penulis bertenaga yang mampu mengguncang masyarakat, bahkan mengubah jalannya sejarah.
Sagoe Cot Irie, 3 Juni 2026












