Artikel · Potret Online

Menyembelih Sapi Di Istana, Membiarkan Serigala Di Hati

Penulis Yani Andoko
Mei 27, 2026
8 menit baca 25
IMG_1325
Foto / IlustrasiMenyembelih Sapi Di Istana, Membiarkan Serigala Di Hati
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko 

Ketika Ibadah Kehilangan Makna Dan Kuasa Meluluhlantakkan Nurani

Saban tahun, jutaan hewan kurban disembelih di seluruh Indonesia. Darah mengalir, daging dibagikan, takbir menggema. Tapi perhatikan kebiasaan aneh pemimpin-pemimpin kita: yang paginya ikut menyembelih sapi kurban di istana, siangnya bisa saja menerima amplop tebal dari kontraktor nakal. Ritual mereka sempurna. Hati mereka, celaka.

Beberapa bulan lalu, seorang pensiunan pejabat kementerian datang ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi kuota haji Indonesia tahun 2023-2024. 

Kasus ini bukan main-main: kerugian negara diperkirakan mencapai Rp622 miliar. Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan staf khususnya Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Bayangkan ironinya. Korupsi kuota haji ibadah yang paling fundamental bagi umat Islam dijadikan lahan bisnis kotor. Mantan pejabat yang sehari-hari mengurusi ritual keagamaan justru menggerogoti hak-hak jemaah haji yang menanti bertahun-tahun untuk memanggil “Labbaikallahumma Labbaik”.

Ini bukan satu-satunya. Data Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat sedikitnya 529 anggota legislatif di tingkat nasional dan daerah menjadi tersangka korupsi sejak 2011 hingga 2023. Bahkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2025 merosot dari 37 menjadi 34 dari skala 100, sementara peringkatnya ambruk dari posisi 99 ke 109 di antara 180 negara. 

Transparency International menyebut, “penurunan ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan”.

Para pemimpin kita para pejabat yang setiap pagi mungkin berdoa di masjid, yang hafal ayat-ayat tentang keadilan, yang berdiri paling depan saat shalat Idul Adha mengapa mereka begitu mudah berkhianat?

Boleh jadi, karena mereka tidak pernah belajar dari seorang penyair besar yang lahir di Balkh, Afganistan, pada 1207 Masehi. Namanya Jalaluddin Rumi. Dan ia, delapan abad lalu, sudah menuliskan jawaban paling jujur tentang persoalan moral yang membusukkan bangsa kita hari ini.

Makna Kurban Bukan Tumpahan Darah, Tapi Matinya Ego

Setiap Idul Adha, kita membaca sendiri firman Allah: “Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu” (QS al-Hajj: 37). Ayat ini jelas. Tapi entah mengapa, kita sering melompati intisarinya.

Rumi memahami ayat itu dengan sangat dalam. Lewat karya monumentalnya, Matsnawi Ma’nawi, ia mengajarkan sesuatu yang mengubah semua persepsi kita tentang kurban: penyembelihan hewan hanyalah simbol. Simbol dari apa? 

Simbol dari kewajiban setiap muslim untuk menyembelih sifat-sifat binatang dalam dirinya sendiri keserakahan, amarah, tipu daya, keangkuhan, egoisme.

Coba renungkan puisinya yang terkenal ini:

“Ketika sapimu dikurbankan, pijakkan kakimu di atas langit.”

Rumi tak sedang bicara tentang sapi sungguhan di halaman rumahmu. Yang ia maksud “sapi” adalah sifat kebinatangan dalam diri kita: “keserakahan, amarah, tipu daya”. Inilah sapi yang harus benar-benar kita sembelih. Bukan dengan pisau tajam ke leher fisik, tapi dengan tekad keras ke lubuk jiwa.

Dalam tasawuf, konsep ini dikenal sebagai jihad akbar perang besar melawan ego, melawan nafsu ammarah (nafsu yang cenderung pada kejahatan). 

Jihad ini jauh lebih berat dari sekadar perang fisik melawan musuh di medan pertempuran. Karena lawannya bukan orang lain, melainkan dirimu sendiri yang paling gelap.

Rumi mengibaratkan nafsu sebagai ular yang tidur di dalam diri. “Ularmu itu tidak mati, tapi cuma pingsan,” peringatnya. “Jangan kau sodorkan hidangan padanya. Nanti malah ia bangkit dan menerkammu”.

Dalam cerita terkenal lainnya, Rumi melukiskan nafsu sebagai istri seorang Badui “selalu menunjukkan perilaku serakah, tidak pernah puas, dan banyak mengeluh”. Sementara suami Badui melambangkan akal sehat yang stabil dan penuh kepekaan. 

Pertarungan antara istri (nafsu) dan suami (akal) ini tak pernah usai, selama manusia masih hidup.

Esensi perjuangan spiritual, kata Rumi, adalah membebaskan diri dari belenggu ego dan hawa nafsu. Ibadah ritual shalat, puasa, zakat, haji, kurban hanyalah sarana untuk mencapai pembebasan itu. Bukan tujuan akhir.

Dan di sinilah letak kepalsuan yang menganga.

Ibadah Simbolik, Hati Yang Membatu

Jika Rumi hidup di Jakarta hari ini, berdirilah ia di tengah kota yang penuh gedung kementerian megah. Lihatlah para pejabat yang pagi-pagi hadir di pengajian akbar, memberi sambutan penuh ayat suci, lalu sore harinya meneken kontrak-kontrak mencurigakan, atau diam-diam mengirim amplop untuk “kelancaran proyek”.

Rumi mungkin akan mengutip ayat sendiri: “Marah dan nafsu membuat orang menyimpang, dapat menyesatkan jiwa dari kebenaran. Apabila yang tampil kepentingan diri, kebajikan bersembunyi: seratus tabir terbentang antara hati dengan mata”.

Pejabat korup itu masih shalat. Masih kurban. Masih memakai sarung dan kopiah di momen-momen tertentu. Tapi Rumi tahu: semua itu tidak akan menyelamatkan mereka, selama mereka tidak pernah benar-benar menyembelih “sapi” dalam jiwanya.

Dalam Matsnawi, Rumi juga mengingatkan bahwa “kekikiran menguasai diri mereka, dan emas menjadi lebih berharga daripada jiwa mereka sendiri: pada saat itu seruan akal tak terdengar lagi”. Bukankah ini potret sempurna para pejabat yang menjual harga diri, keadilan, dan masa depan rakyat demi uang dan kekuasaan?

Menurut studi seorang peneliti Rumi, nafsu pada manusia yang tidak dikendalikan akan terus mendorong hasrat materialistis yang tak pernah puas “tidak ada jumlah kekayaan yang bisa memuaskan orang yang serakah”. Inilah yang kita saksikan: kasus korupsi tak pernah berhenti, karena keserakahan adalah api yang tak pernah padam.

Ibadah tanpa transformasi batin, dalam pandangan Rumi, hanyalah “kemunafikan belaka”. Ini bahkan lebih berbahaya dari kemaksiatan terbuka, karena memakai topeng kesucian.

Hilangnya Rasa Malu: Tanda Matinya Hati

Tapi ada yang lebih parah lagi. Pejabat-pejabat ini tidak hanya serakah dan munafik. Mereka juga tidak pernah merasa malu. Bahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekalipun.

Dalam budaya Islam, rasa malu (haya’) adalah akar dari segala kebaikan. Nabi Muhammad bersabda, “Malu adalah bagian dari iman.” Tapi hari ini, pejabat yang tertangkap tangan korupsi bukannya menangis tobat, melainkan cari kambing hitam, mainkan pengacara, atau bahkan tetap mesam-mesem ketika kamera mengarah.

Rumi menggambarkan kondisi ini dengan metafora yang pedih: mereka adalah hati yang telah menjadi batu, bahkan lebih keras dari batu. Batu masih bisa pecah terkena air, tapi hati yang kehilangan rasa malu sudah mati total.

Allah sendiri berfirman: “Maka celakalah bagi orang-orang yang beribadah tetapi lalai dari makna ibadahnya” (QS al-Ma’un: 4-5). Kelalaian ini terjadi karena hati telah tertutup karat dosa dan keserakahan. Seperti yang dikatakan Rumi, “mereka yang membiarkan air keserakahan duniawi mencemari dunia hati dan jiwa, akan binasa”.

Rasa malu kepada Tuhan adalah tanda bahwa kesadaran spiritual masih hidup. Ketika itu mati, manusia siapa pun dia, pejabat tinggi sekalipun berubah menjadi predator berkaki dua. Mereka shalat, tapi Allah tak ada dalam ingatan mereka. Mereka kurban, tapi nafsu serakah terus mereka besarkan.

Pendidikan Rohani: Memulihkan Rasa Malu

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Sebuah pertanyaan yang, saya akui, sangat berat untuk dijawab. Melihat kenyataan yang ada koruptor yang balik menjabat, simbol-simbol agama dipakai untuk menyembunyikan kejahatan, rakyat yang terus diperas, namun beribadah rajin tanpa protes rasanya seperti menatap dinding batu yang tak retak.

Tapi Rumi tidak pernah menawarkan solusi politik instan. Beliau lebih banyak menangis dan menyuarakan kerinduan akan jiwa-jiwa yang hidup kembali. Yang ia tawarkan adalah pendidikan rohani proses panjang, pelan, dan tak kelihatan, tapi satu-satunya yang bisa mencabut akar kemunafikan.

Pendidikan ini dimulai dari membangkitkan kembali kesadaran bahwa Tuhan selalu melihat (muraqabah). Kesadaran bahwa setiap atom perbuatan setiap rupiah korupsi, setiap kebohongan, setiap kemunafikan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Melihat.

Tapi bisakah kesadaran itu dibangkitkan di tengah budaya korup dan ibadah simbolik? Ini pekerjaan yang sangat berat, karena tiga hal:

Pertama, hati sudah mengeras akibat dosa yang terus diulang tanpa tobat. Rumi mengibaratkannya sebagai batu yang disiram air terus-menerus lama-kelamaan air itu tak lagi meresap.

Kedua, lingkungan kekuasaan tidak mendukung. Sebaliknya, di sekitar pemimpin korup biasanya ada “para penyanjung agama” yang membenarkan semua tindakannya dengan dalih kemaslahatan atau bahkan “takdir”. Mereka adalah “cendekiawan Muslim yang secara pasif mendukung korupsi, penindasan, dan ketidakadilan penguasa zalim, atau bahkan secara aktif membenarkannya dengan fatwa-fatwa”.

Ketiga, tidak ada sanksi sosial yang efektif terhadap kemunafikan publik. Orang sudah terbiasa melihat pemimpin yang rajin ibadah tapi korup, sehingga norma “agama = akhlak” menjadi kabur.

Tapi Rumi mengingatkan: perubahan tidak pernah dimulai dari memperbaiki pemimpin. Ia dimulai dari satu orang yang memutuskan untuk sungguh-sungguh menyembelih ego dalam dirinya sendiri, tanpa pamrih, tanpa ingin dilihat orang.” Dari situlah kadang lahir mata air yang lama-lama bisa membasahi batu.

Secercah Lilin Di Kegelapan

Harapan untuk membangkitkan kesadaran bahwa Tuhan selalu melihat di negeri ini mungkin kecil. Sangat kecil. Tapi Rumi tidak pernah berbicara tentang kepastian. Ia berbicara tentang kemungkinan meskipun cuma secercah nyala lilin di kegelapan yang pekat.

Dan Rumi akan berkata: “Kegelapan tidak bisa memadamkan lilin. Yang bisa memadamkannya hanyalah angindan angin itu adalah putus asa.”

Selama kita masih bisa melihat nyala itu, sekecil apa pun, maka pintu pertolongan Tuhan masih terbuka. Sebab satu jiwa yang benar-benar sadar bisa lebih berpengaruh dari pada seribu orang yang beribadah tanpa hati.

Apakah lilin kecil itu cukup untuk mengubah negeri ini? Mungkin tidak dalam waktu cepat. Tapi setidaknya, lilin itu cukup untuk menerangi langkah kita sendiri dan tanpa disadari, orang di sekitar kita mungkin ikut melihat cahayanya.

Saat kita menyaksikan pemimpin yang lupa bahwa Tuhan selalu melihat, jangan biarkan diri kita ikut-ikutan lupa. Mulailah dari diri kita sendiri. Sembelihlah “sapi” keserakahan dalam hati kita. Bunuh “ular” egoisme yang tidur di sudut-sudut jiwa. Jangan pernah biarkan kesadaran spiritual itu padam meskipun kita hidup di tengah bangsa yang tampaknya lebih suka merayakan ritual daripada merayakan transformasi batin.

Lebih baik menyalakan satu lilin dari pada mengutuk kegelapan selamanya.

Sebab pada akhirnya, seperti yang disabdakan Rumi: “Hari raya sejati adalah ketika cinta mengurbankan dirimu, bukan tubuhmu, tapi ego dan nafsumu”.

Dan pada hari raya itulah kita bisa, untuk pertama kalinya, benar-benar memahami apa artinya menjadi manusia yang merdeka.

                 Batu, 20 Maret 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Batu Jawa Timur
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...