Artikel · Potret Online

Kurban dan Krisis Peradaban Modern: Menyembelih Ego di Tengah Dunia yang Kehilangan Makna

Penulis  Dayan Abdurrahman
Mei 27, 2026
8 menit baca 11
IMG_1319
Foto / IlustrasiKurban dan Krisis Peradaban Modern: Menyembelih Ego di Tengah Dunia yang Kehilangan Makna

Oleh Dayan Abdurrahman

Setiap tahun manusia mengulang ritual yang sama. Takbir menggema, hewan-hewan ditambatkan, pisau diasah, darah mengalir, lalu daging dibagikan kepada masyarakat. Namun di balik ritual tahunan bernama kurban itu, sesungguhnya tersembunyi salah satu kritik paling tajam terhadap peradaban manusia modern.

Kurban bukan sekadar ibadah penyembelihan hewan. Ia adalah simbol perlawanan spiritual terhadap kerakusan manusia.

Di tengah dunia yang hari ini dibangun di atas logika konsumsi, pencitraan, dan kompetisi tanpa batas, kurban hadir seperti suara purba yang mengingatkan manusia tentang sesuatu yang mulai hilang: kemampuan untuk melepaskan diri dari ego.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar narasi religius tentang kepatuhan seorang ayah terhadap perintah Tuhan. Ia adalah drama eksistensial tentang benturan antara cinta, kepemilikan, dan moralitas tertinggi. Ketika Ibrahim diminta mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, sesungguhnya yang sedang diuji bukan sekadar ketaatan ritual, melainkan kemampuan manusia untuk melampaui dirinya sendiri.

Di titik itulah kurban menjadi sangat filosofis. Yang disembelih sebenarnya bukan hanya hewan, tetapi rasa memiliki yang berlebihan. Ego. Keserakahan. Ketakutan kehilangan. Dan obsesi manusia terhadap dunia.

Al-Qur’an sendiri memberikan penegasan yang sangat revolusioner:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menghancurkan logika ritualisme kosong. Tuhan tidak membutuhkan darah. Yang diuji adalah kualitas moral manusia. Dengan demikian, kurban bukan transaksi spiritual, melainkan transformasi etika.

Namun problem terbesar dunia modern justru terletak pada kegagalan manusia mengendalikan ego kolektifnya.

Peradaban hari ini bergerak sangat cepat secara teknologi, tetapi berjalan pincang secara moral. Dunia memasuki era kecerdasan buatan, eksplorasi luar angkasa, dan revolusi digital, tetapi pada saat yang sama manusia mengalami krisis makna yang sangat dalam. Kesepian meningkat, depresi sosial meluas, perang terus berlangsung, dan ketimpangan ekonomi semakin brutal.

Sebagian kecil populasi dunia menguasai sebagian besar kekayaan global, sementara jutaan manusia masih hidup dalam kelaparan dan ketidakpastian. Paradoks inilah yang memperlihatkan bahwa modernitas tidak otomatis melahirkan keadilan.

Dalam konteks tersebut, kurban sesungguhnya adalah kritik moral terhadap sistem dunia yang dibangun di atas akumulasi tanpa batas.

Karl Marx pernah melihat kapitalisme sebagai sistem yang mendorong manusia menjadi makhluk yang terasing, bahkan dari kemanusiaannya sendiri. Sementara Zygmunt Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai “liquid society”, masyarakat cair yang kehilangan pijakan moral tetap. Manusia terus bergerak, terus mengonsumsi, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Dalam situasi seperti itu, kurban hadir membawa pesan yang sangat kontras: manusia tidak akan pernah menemukan kedamaian hanya dengan memiliki.

Kebahagiaan sejati justru dimulai ketika manusia mampu memberi.

Di sinilah Islam melakukan revolusi besar terhadap konsep pengorbanan. Dalam banyak peradaban kuno, persembahan dilakukan untuk “menyenangkan” dewa-dewa. Namun Islam mengubah orientasi itu secara total. Kurban bukan untuk memberi makan Tuhan, tetapi untuk membangun solidaritas sosial. Daging harus dibagikan. Kaum miskin harus merasakan kebahagiaan bersama. Ada distribusi moral di dalam ibadah.

Karena itu, kurban sejatinya adalah proyek sosial.

Ia mengingatkan bahwa dalam setiap kepemilikan terdapat hak orang lain. Bahwa kekayaan tidak boleh berhenti pada individu. Dan bahwa spiritualitas sejati tidak dapat dipisahkan dari empati sosial.

Namun di tengah masyarakat modern, kurban tidak lagi selalu hadir sebagai tindakan individual. Di banyak tempat, ia berkembang menjadi praktik kolektif. Di kantor-kantor, lembaga pendidikan, instansi pemerintahan, hingga komunitas masyarakat, dana kurban dikumpulkan secara bergotong royong melalui iuran bulanan. Ada yang dipotong dari gaji setiap bulan, ada pula yang dikumpulkan bersama menjelang Idul Adha.

Fenomena ini memperlihatkan sisi lain yang sangat penting dari kurban: bahwa pengorbanan bukan hanya persoalan individu dengan Tuhan, tetapi juga pembentukan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Di dalam praktik kolektif itu terdapat nilai kebersamaan. Orang-orang belajar berbagi tanggung jawab, menabung bersama, dan membangun rasa memiliki terhadap kebahagiaan sosial. Kurban tidak lagi menjadi simbol kekuatan orang kaya semata, tetapi menjadi ruang partisipasi bersama. Bahkan mereka yang mungkin tidak mampu membeli seekor sapi sendirian tetap dapat mengambil bagian dalam ibadah dan solidaritas tersebut.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi gotong royong kuat, pola kurban kolektif sebenarnya memperlihatkan bahwa agama masih mampu menjadi perekat sosial. Ia melahirkan interaksi, kerja sama, dan rasa kebersamaan di tengah dunia yang semakin individualistik.

Namun modernitas juga menghadirkan tantangan baru. Ketika kurban terlalu terinstitusionalisasi dan berubah menjadi rutinitas administratif semata—sekadar potongan gaji otomatis setiap bulan—muncul risiko hilangnya dimensi pergulatan batin yang justru menjadi inti pengorbanan itu sendiri.

Padahal esensi kurban bukan hanya keberhasilan membeli hewan, melainkan keberanian manusia merasakan kehilangan demi orang lain.

Di sinilah muncul pertanyaan moral yang penting: apakah kurban masih menjadi latihan spiritual untuk menundukkan ego, ataukah telah berubah menjadi kewajiban sosial yang berjalan otomatis tanpa kesadaran mendalam?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak kurban kolektif. Sebaliknya, ia penting agar semangat gotong royong tetap berjalan berdampingan dengan kesadaran personal tentang makna memberi.

Karena pada akhirnya, peradaban yang sehat bukan hanya dibangun oleh individu-individu kaya yang berkurban sendiri-sendiri, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu membangun solidaritas kolektif tanpa kehilangan kedalaman moralnya.

Namun makna kurban sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar penyembelihan hewan atau pengeluaran materi. Dalam kehidupan modern, kurban juga dapat dimaknai sebagai kemampuan manusia mengorbankan kenyamanan dirinya demi tujuan yang lebih besar.

Seorang anak muda yang memilih belajar keras ketika teman-temannya larut dalam budaya foya-foya sesungguhnya sedang berkurban. Ia mengorbankan waktu santainya, rasa malasnya, bahkan sebagian kesenangan masa mudanya demi masa depan yang lebih baik.

Seorang mahasiswa yang hidup hemat demi menyelesaikan pendidikan, seorang pekerja yang menahan diri dari mengambil hak orang lain meski memiliki kesempatan, seorang ibu yang mengorbankan tenaga dan tidurnya demi anak-anaknya, atau seorang guru yang tetap mengajar dengan ikhlas di tengah keterbatasan—semuanya mengandung semangat kurban.

Karena pada hakikatnya, kurban adalah keberanian menunda kesenangan demi nilai yang lebih tinggi.

Dalam konteks ini, kurban memiliki kedekatan makna dengan jihad dalam pengertian spiritual dan moral: perjuangan manusia melawan hawa nafsunya sendiri. Bukan sekadar perjuangan fisik, tetapi perjuangan batin untuk tetap disiplin, jujur, sabar, dan istiqamah di tengah dunia yang terus menggoda manusia menuju kemudahan instan.

Di era digital hari ini, mungkin jihad terbesar generasi muda bukan lagi perang fisik, tetapi perang melawan distraksi. Media sosial, budaya viral, kecanduan hiburan, dan pola hidup konsumtif telah menciptakan manusia yang mudah kehilangan fokus hidupnya.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk bangun pagi, belajar secara konsisten, bekerja secara jujur, hidup hemat, membantu orang tua, dan menjaga integritas merupakan bentuk pengorbanan yang semakin mahal nilainya.

Karena sesungguhnya tidak mudah menjadi manusia baik di tengah dunia yang terus mendorong manusia menjadi konsumtif dan egois.

Maka kurban modern bukan hanya tentang apa yang disembelih di hari raya, tetapi juga tentang apa yang mampu dikendalikan dalam diri manusia setiap hari.

Ada orang yang mampu membeli sapi mahal tetapi tidak mampu mengorbankan kesombongannya. Ada yang mampu berkurban setiap tahun tetapi masih mengambil hak orang lain. Ada pula yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi setiap hari berkurban tenaga, waktu, pikiran, dan perasaannya demi keluarga dan masyarakat.

Di titik inilah makna kurban menjadi sangat manusiawi dan universal.

Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi filosofi hidup tentang disiplin, pengendalian diri, tanggung jawab sosial, dan perjuangan moral untuk menjadi manusia yang lebih bermartabat.

Sayangnya, di era media sosial, makna kurban sering mengalami degradasi simbolik. Ritual berubah menjadi tontonan. Foto sapi terbesar dipamerkan, harga hewan diumumkan, dokumentasi dibangun sedemikian rupa demi memperoleh pengakuan digital. Kurban perlahan terseret masuk ke dalam budaya pencitraan.

Inilah ironi manusia modern: bahkan pengorbanan pun terkadang dilakukan demi mempertahankan citra diri.

Padahal inti kurban justru penghancuran citra tersebut.

Ali Shariati pernah menekankan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan pembebasan manusia dari struktur penindasan, termasuk penindasan ego dan materialisme. Ketika agama hanya berhenti sebagai ritual tanpa transformasi sosial, maka agama kehilangan daya revolusionernya.

Kita dapat melihat fenomena itu di banyak tempat, termasuk di Aceh. Masyarakat tampak religius secara simbolik, tetapi sering gagal membangun etika publik yang sehat. Rumah ibadah penuh, tetapi korupsi tetap berjalan. Takbir menggema, tetapi kebencian sosial tetap dipelihara. Agama hadir di ruang seremoni, tetapi sering absen dalam kebijakan dan keadilan sosial.

Di titik inilah kurban harus dibaca ulang secara lebih mendalam.

Yang perlu dikorbankan hari ini bukan hanya kambing atau sapi. Yang jauh lebih penting adalah keberanian mengorbankan kerakusan politik, fanatisme kelompok, dan budaya korupsi yang merusak masa depan bangsa.

Bahkan dalam perspektif ekologis, kurban memiliki makna yang semakin relevan. Dunia saat ini menghadapi krisis iklim yang serius: hutan rusak, laut tercemar, dan spesies hewan terus punah akibat eksploitasi manusia. Modernitas menjadikan alam sebagai objek produksi tanpa batas.

Padahal Islam mengajarkan etika yang sangat halus terhadap hewan dan alam. Penyembelihan harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Hewan tidak boleh disiksa. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas Islam sebenarnya mengandung kesadaran ekologis yang sangat maju.

Artinya, kurban bukan legitimasi eksploitasi alam, tetapi pengingat bahwa manusia harus hidup dalam keseimbangan dengan ciptaan lainnya.

Karena sesungguhnya, sejarah peradaban manusia selalu dibangun oleh pengorbanan.

Tidak ada bangsa maju tanpa generasi yang rela bekerja keras demi masa depan. Tidak ada ilmu pengetahuan lahir tanpa orang-orang yang mengorbankan kenyamanan hidupnya demi pencarian kebenaran. Tidak ada keadilan sosial tanpa keberanian mengorbankan privilese pribadi.

Dengan kata lain, seluruh kemajuan manusia sesungguhnya berdiri di atas semangat kurban.

Mungkin itulah sebabnya Idul Adha akan selalu relevan lintas zaman. Sebab problem utama manusia dari masa ke masa sebenarnya tetap sama: ego.

Perang lahir dari ego kekuasaan.
Korupsi lahir dari ego kepemilikan.
Kerusakan lingkungan lahir dari ego eksploitasi.
Dan perpecahan sosial lahir dari ego identitas.

Maka dunia masa depan sesungguhnya tidak hanya membutuhkan manusia cerdas, tetapi manusia yang mampu membatasi dirinya sendiri.

Barangkali dunia hari ini tidak kekurangan teknologi. Dunia juga tidak kekurangan informasi. Yang semakin langka justru manusia yang rela berkorban demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam kurban: bukan pada darah yang mengalir di tanah, tetapi pada keberanian manusia menyembelih sisi paling liar dalam dirinya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...