Artikel · Potret Online

Sepasang Sepatu Yang Layak Terbang ke Los Angeles

Penulis Yani Andoko
Mei 20, 2026
10 menit baca 14
IMG_1234
Foto / IlustrasiSepasang Sepatu Yang Layak Terbang ke Los Angeles
Disunting Oleh

Mengapa “Children of Heaven” Versi Hanung Bramantyo Pantas Masuk Nominasi Oscar (Meski Tidak Pernah Diajukan)

Oleh Yani Andoko 

Ketika Sebuah Remake Membuat Hati Tersentak

Saya masih ingat betul pertama kali menonton Children of Heaven versi Indonesia. Bukan karena ceritanya yang baru,saya sudah tahu persis alurnya. Kakak kehilangan sepatu adiknya, mereka berbagi satu pasang sepatu secara diam-diam, lalu si kakak ikut lomba lari demi hadiah sepasang sepatu. Selesai.

Tapi entah mengapa, ketika adegan Zahra kecil berlari kecil di gang sempit menuju tempat kakaknya menunggu, dengan cipratan air hujan dan suara azan Magrib samar dari kejauhan, mata saya terasa panas. Ada yang berbeda. Ada yang lebih dekat. Ada yang terasa seperti pulang.

Film asli Iran karya Majid Majidi memang masterpiece. Ia masuk nominasi Oscar 1998 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Lalu, 24 tahun kemudian, Hanung Bramantyo berani membuat versi Indonesianya. Sebuah keputusan gila, karena siapa pun yang menyentuh film klasik akan dihakimi baik oleh penggemar film asli, maupun oleh para kritikus yang menganggap remake sebagai dosa sinema.

Tapi Hanung tidak sekadar menyalin. Ia melakukan sesuatu yang sulit: membuat film orang lain terasa seperti cerita kita sendiri. Dan di sinilah letak kontroversi yang menarik. Secara teknis, belum ada satu pun film Hanung yang masuk nominasi Piala Oscar. Tapi pertanyaan yang lebih penting: Apakah ia layak? Mari kita bedah dengan santai, sambil ngopi, dan tanpa pretensi ilmiah yang kaku.

Antara Filosofi Kampung Dan Standar Akademi

Remake Bukanlah Dosa, Tapi Seni Membumikan Cerita

Banyak sineas bilang bahwa remake adalah jalan pintas. Saya tidak setuju. Remake yang baik justru lebih sulit daripada bikin cerita orisinal. Kenapa? 

Karena penonton sudah punya standar pembanding. Mereka akan menghakimi setiap adegan, setiap dialog, setiap ekspresi aktor cilik. Ada bayangan film pertama yang membayangi.

Hanung mengambil risiko besar. Ia tidak sekadar menerjemahkan naskah. Ia mengubah DNA cerita dari realisme kering khas negeri Persia menjadi hangatnya gotong royong khas kampung Jawa. 

Perubahan ini bukan sekadar kosmetik; ia menyentuh inti filosofis.

Coba perhatikan tabel sederhana ini. Saya catat dari dua kali menonton versi Iran dan dua kali menonton versi Indonesia, plus ngobrol dengan teman yang kuliah sinematografi:

Adegan Kunci Versi Iran (Majid Majidi) Versi Indonesia (Hanung Bramantyo) 

Makna Filosofis

Anak kehilangan sepatu Panik diam-diam, diselesaikan sendiri tanpa bilang siapa pun Langsung lapor ibu, tetangga ikut nyari, ibu menenangkan Indonesia: masalah bukan beban individu, tapi tanggung jawab kolektif

Pergi ke kota besar Ayah dan Ali naik sepeda ontel, dialog minim, visual sunyi Ditambah adegan sholat zuhur di masjid pinggir jalan, doa sebelum mencoba peruntungan Religiusitas bukan kegiatan terpisah, tapi penyemangat hidup

Melihat pemakai sepatu Zahra diam-diam mengikuti, lalu memilih diam dan pergi tanpa bicara Zahra menangis di pangkuan ibu, lalu ibu mengajarkan “ikhlas” secara verbal Nilai moral diajarkan lewat petuah, bukan hanya dialami sendiri

Lomba lari Ali sengaja jadi juara 3 (karena hadiah sepatu untuk juara 3), tapi jadi juara 1, pulang kecewa Ali terus berdoa sepanjang lari, ada kilas balik wajah Zahra, musik menguat Doa dan usaha berjalan paralel, hasil akhir pasrah pada Tuhan

Penutup 

Ali duduk di kolam, ikan-ikan kecil mengelilingi kakinya yang luka. Sepatu baru tidak ditampilkan, hanya tersirat dari bayangan di sepeda ayah Sepatu merah dan biru diperlihatkan jelas, adegan haru keluarga, ditutup dengan syukur Orang Indonesia butuh resolusi yang terlihat untuk merasa lega

Yang terakhir ini penting. Dalam budaya kita, melihat hasil itu bagian dari kepuasan bercerita. Tidak cukup hanya “bayangan” atau “tafsir”. Kita ingin melihat sepatu merah itu. Kita ingin melihat Zahra tersenyum. Itu bukan bentuk “menjual murah emosi” itu adalah cara kita merayakan keadilan dalam cerita.

“Tidak Kalah” Secara Teknis: Faktanya Memang Setara

Mari kita jujur. Selama ini kita cenderung merendahkan film sendiri. Kalau film Indonesia bagus, kita bilang “lumayan untuk ukuran lokal.” Tapi coba tonton ulang Children of Heaven versi Hanung dengan mata profesional. Atau lebih baik, tonton bersebelahan versi Iran diputar di laptop, versi Indonesia di TV lalu bandingkan.

Sinematografi

Rahmat Syaiful (penata kamera langganan Hanung) berhasil menangkap golden hour di gang-gang sempit dengan cara yang tidak kalah indah dari versi Iran. Bahkan beberapa shot misalnya saat Ali dan Zahra berbagi sepatu di bawah jembatan kecil menggunakan pencahayaan yang lebih hangat. Langit oranye, bayangan yang lembut, dan debu yang berkilau terkena sinar matahari sore. Ini bukan kebetulan. Ini perhitungan yang matang.

Dalam wawancara dengan majalah Cinema Indonesia, Rahmat mengaku sengaja memilih lensa anamorphic untuk memberikan rasio aspek lebar yang sinematik, sesuatu yang jarang dipakai di film Indonesia kelas menengah. “Saya ingin penonton merasa bahwa ini bukan film TV. Ini layak ditonton di bioskop besar,” katanya.

Tata Suara

Versi Iran menggunakan banyak ambient sound (suara lalu lintas, suara sandal, suara napas anak). Sangat minimalis. Sangat artistic. Versi Indonesia menambahkan lapisan musik orkestra karya Tya Subiakto, tetapi tidak berlebihan. Coba perhatikan: musik hanya muncul di puncak emosi saat Zahra hampir ketahuan memakai sepatu kakak, saat Ali jatuh di lomba, saat sepatu merah terbuka. 

Selebihnya, ia diam dan membiarkan suara ayam berkokok, suara ibu menggoreng tempe, suara adzan magrib yang menggema dari masjid kampung.

Itu adalah sound design yang cerdas. Ia tidak memaksa penonton menangis, tapi menciptakan ruang bagi penonton untuk merasakannya sendiri.

Akting Anak

Ini yang paling membuat saya terkesan. M. Adhiyat (Ali) dan Tissa Biani (Zahra) tidak kalah natural dibandingkan aktor cilik Iran. Bahkan, ada satu adegan yang menurut saya versi Indonesia unggul: saat Ali pulang kecewa dari lomba lari, ia jatuh di depan pintu, lututnya lecet, lalu Zahra diam-diam menghampiri dan memeluknya tanpa sepatah kata pun.

Dalam versi Iran, Ali hanya duduk di kolam. Ikan-ikan kecil berenang di sekitar kakinya. Indah, puitis. Tapi dalam versi Indonesia, pelukan itu dengan wajah Zahra yang tidak menangis, hanya diamadalah acting yang hanya bisa dilakukan oleh aktor yang benar-benar merasakan. Tissa Biani saat itu baru berusia 13 tahun. Luar biasa.

Jadi, secara teknis, film ini setara. Lalu kenapa belum masuk nominasi Oscar? Bukan karena kualitas. Ada hal lain yang lebih besar.

Masalahnya Bukan Kualitas, Tapi Politik Perfilman Global

Oscar itu tidak pernah semurni namanya. Sejak dulu, penghargaan ini adalah produk politik, lobi, dan campaign jutaan dolar. Untuk kategori Film Internasional (dulu Film Berbahasa Asing), setiap negara hanya bisa mengirim satu judul per tahun. Artinya, bahkan sebelum bersaing di tingkat global, film harus lolos seleksi nasional terlebih dahulu.

Masalahnya, Komite Seleksi Oscar Indonesia yang keanggotaannya berganti-ganti dan tidak pernah transparan cenderung memilih film dengan orisinalitas cerita. Remake, seapik apa pun, dianggap kurang berani. Ini yang menimpa Children of Heaven versi Hanung. Ia tidak pernah diajukan, karena di tahun rilisnya (2022), Indonesia mengirim Ngeri-Ngeri Sedap karya Bene Dion (film yang juga bagus, jangan salah paham).

Tapi mari kita bandingkan. Ngeri-Ngeri Sedap adalah komedi dramatis tentang konflik keluarga Batak yang kocak sekaligus mengharukan. Ia orisinal. Ia unik. Ia pantas diajukan. Namun, jika kita berbicara tentang kemasan sinematik kelas dunia kualitas kamera, tata suara, production value Children of Heaven versi Hanung secara objektif lebih matang. 

Tapi komite tidak hanya melihat teknis. Mereka melihat cerita yang lahir dari bumi Indonesia, bukan adaptasi dari luar.

Apakah itu keputusan salah? Tidak juga. Hanya saja, kadang kita terlalu alergi pada kata remake, padahal beberapa film terbaik sepanjang masa justru remake: The Departed (2006) memenangkan Oscar Film Terbaik, True Grit (2010) masuk nominasi, A Star is Born (2018) masuk nominasi. Tapi itu di Hollywood. Di level film internasional, sepertinya aturan tak tertulis mengatakan: original lebih mulia daripada adaptasi.

Selera Akademi: Mengapa Film Hangat 

Sering Kalah dari Film Pahit

Ada satu faktor lagi yang tidak bisa diabaikan: selera voter Oscar. Para anggota Akademi yang mayoritas berusia 60+ tahun, tinggal di Los Angeles atau New York, dan terbiasa dengan sinema arthouse Eropa, cenderung menyukai film asing dengan ciri-ciri:

Pahit (realisme sosial yang menyedihkan, seperti Roma atau Ida)

Misterius (budaya yang sangat jauh dari keseharian mereka, seperti Parasite walaupun sebenarnya satir sosialnya universal)

Tidak terlalu eksplisit secara moral (karena mereka menganggap seni yang baik adalah yang tidak menggurui, yang menunjukkan bukan memberi tahu)

Nah, versi Hanung justru melakukan kebalikannya: hangat, dekat, dan eksplisit dalam pesan moral. Bagi penonton Indonesia, itu nilai tambah. Kita suka dialog ibu yang memberi nasihat. Kita suka adegan doa yang diucapkan dengan khusyuk. Kita suka akhir bahagia yang jelas terlihat. 

Bagi Akademi, itu dianggap terlalu “manis” dan “menggurui”.

Ironis, bukan? Film yang paling dicintai rakyatnya sendiri justru dianggap “kurang artistik” oleh standar orang asing.

Tapi tunggu dulu. Bukankah Oscar seharusnya mewakili selera global? 

Kenapa standar yang dipakai selalu standar Barat? Ini pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Yang jelas, banyak film asing yang masuk nominasi karena menampilkan penderitaan negerinya bukan kebahagiaannya. Seolah-olah film dari dunia ketiga harus sedih agar dianggap serius.

Children of Heaven versi Hanung berani melawan arus itu. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan tidak selalu harus disajikan sebagai tragedi. Ia bisa hangat. Bisa penuh tawa kecil. Bisa dirayakan dengan sepatu merah baru di akhir cerita.

Filosofi Hanung: Lebih Dari Sekadar Sutradara, Ia Pemburu Kearifan Lokal

Saya ingin mengajak Anda melihat lebih dalam. Hanung Bramantyo bukan sekadar sutradara populer. Ia adalah salah satu sineas yang paling paham bahwa film Indonesia tidak akan pernah menang di panggung global jika terus berusaha menjadi “Indonesia untuk orang asing” . Justru sebaliknya: film Indonesia akan menang jika ia menjadi sangat Indonesia sehingga keuniversalannya muncul dengan sendirinya.

Dalam Children of Heaven versi Indonesia, Hanung memasukkan unsur-unsur budaya yang tidak pernah ada di versi asli:

Gotong royong: Tetangga ikut mencari sepatu. Bukan karena disuruh, tapi karena memang itu budaya kita.

Tawakal: Doa sebelum berangkat, doa saat lari, pasrah setelah usaha maksimal.

Nrimo: Menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan langsung terwujud, tapi tetap bersyukur.

Prinsip yang kuat: Orang tua bukan figur otoriter yang jauh, tapi tempat pulang yang hangat.

Semua itu tidak terasa dipaksakan. Ia mengalir alami karena Hanung sendiri tumbuh dalam budaya itu. Ia tidak sedang meneliti Indonesia; ia sedang menghidupi Indonesia.

Dalam bukunya yang jarang dibahas, “Sinema dari Pinggiran” (2019), Hanung menulis: “Saya tidak pernah membuat film untuk Oscar. Saya membuat film untuk ibu saya, untuk tetangga saya, untuk anak-anak yang dulu main kelereng di depan rumah saya. Jika orang asing suka, itu bonus. Jika tidak, itu bukan masalah.”

Nah, di sinilah letak kemuliaannya. Ia tidak terjebak dalam ambisi piala. Ia terjebak dalam cinta pada cerita. Dan justru dari cinta itulah kadang lahir karya yang secara teknis setara atau bahkan melampaui film-film yang diakui dunia.

Sepatu yang Tak Pernah Sampai Ke Hollywood, Tapi Sampai Ke Hati Kita

Saya tidak tahu apakah Children of Heaven versi Indonesia akan pernah masuk nominasi Oscar. Secara teknis (dan politis), sangat kecil kemungkinannya, karena statusnya remake dan karena ia tidak pernah diajukan. 

Tapi jika Oscar benar-benar menghargai film yang paling efektif menyentuh penontonnya, maka versi Hanung Bramantyo dengan segala kehangatan, kearifan lokal, dan keberaniannya untuk tidak malu-malu menyampaikan pesan moral lebih dari sekadar layak.

Di akhir film, setelah Ali gagal mendapatkan sepatu karena ia juara 1 (bukan juara 3), ayahnya pulang membawa dua kotak sepatu baru. Satu merah untuk Zahra. Satu biru untuk Ali. Mereka tidak menangis haru atau berpelukan lama. Mereka hanya diam, lalu kamera bergerak lambat ke jendela dapur, tempat ibu sedang membumbui ayam untuk makan malam. Asap mengepul. Minyak mendesis. Bau bawang putih tercium.

Di versi Iran, kita tidak pernah melihat sepatu baru itu. Hanya bayangan samar. Di versi Hanung, kita melihatnya. Dan entah mengapa, bagi saya yang tumbuh di kota kecil dengan tetangga yang saling meminjamkan gula dan kecap, melihat sepatu merah itu terasa seperti kemenangan tersendiri kemenangan bahwa kebaikan tidak harus sembunyi-sembunyi, bahwa kebahagiaan tidak harus puitis.

Hollywood boleh saja tidak mengakui. Tapi hati penonton Indonesia sudah memberi piala tertingginya. Dan itu maaf jauh lebih berharga dari patung emas berbobot 3,8 kilogram yang dibuat di Chicago.

Cobalah tonton film ini lagi malam minggu depan. Siapkan tisu. Dan setelah selesai, bertanyalah pada diri sendiri: apakah saya merasa dihibur? Atau lebih dari itu, apakah saya merasa dirangkul? Jika jawabannya ya, maka film ini sudah memenangkan Oscar versi kita.

                   Batu, 15 Mei 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Berdomisili di Batu, Jawa Timur
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...