Esai · Potret Online

Terbang Ke Montreal, Nikmati Doha

Penulis  Tabrani Yunis
Mei 18, 2026
5 menit baca 17
IMG_1210
Foto / IlustrasiTerbang Ke Montreal, Nikmati Doha

Oleh Tabrani Yunis

Dalam masyarakat kita sejak dulu, sering kita dengar pepatah petitih. Satu di antaranya adalah “ Sekali merangkuh dayung, dua tiga, pulau terlampaui”. Selain itu ada juga ungkapan atau pepatah yang bermakna hampir sama, yakni “ Sambil menyelam, minum air”.

Kedua pepatah ini adalah contoh indah dari kearifan lokal yang menggambarkan prinsip efisiensi tingkat tinggi. Secara garis besar, keduanya memiliki kesamaan makna yang sangat erat, yaitu menyelesaikan beberapa pekerjaan atau mencapai beberapa tujuan sekaligus dalam satu waktu atau satu tindakan.

Namun dalam tulisan ini, kedua pepatah ini kiranya sejalan dan seirama dengan catatan perjalanan penulis ketika traveling ke Montreal, Canada pada tahun 2012.  Sebuah perjalanan panjang yang pernah penulis rasakan.

Penulis masih bisa ingat dan bayangkan kala pesawat Garuda Indonesia, nomor 147 yang berangkat dari Banda Aceh pukul 5.10  sore, mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng pada pukul 21.10 malam. Untuk wilayah Jakarta, pukul 21.10 itu terasa mendekati larut malam. 

Ketika pesawat telah berhenti dengan sempurna di landasan bandara Internasionalisasi Soekarno- Hatta, penulis bergegas turun mengambil bagasi dan keluar menuju terminal D, terminal untuk para penumpang yang akan terbang ke luar negeri,  berjalan kaki bergegas untuk checkin di desk Qatar Air.

Dengan perasaan sedikit cemas, takut terlambat melakukan check in, mata penulis agak liar karena berusaha mencari teman, Mbak Eka yang juga menuju destinasi yang sama, Montreal, Canada.

Alhamdulilah, setiba di terminal D langsung bertemu mbak Eka bersama suaminya. Karena belum pernah bertemu sebelumnya, kami saling berkenalan dan ngobrol sejenak, kemudian menuju ke ruang chek in. Kami  ikut antri di desk Qatar Air yang ke Doha. Lalu, usai check in, kami menuju ke ruang tunggu di D1 selama beberapa menit. 

Tak lama kemudian saatnya boarding pun tiba. Penulis melihat banyak wajah orang-Indonesia yang akan berangkat menuju Doha. Mata penulis melirik ke jadwal penerbangan. Penerbangan dimulai pada pukul 12.10.  Namun, karena kelelahan, mata mengantuk, pilihan yang paling tepat adalah menikmati perjalanan malam itu dengan membuat catatan perjalanan. Tentu tulisan itu tidak selesai, karena mata saat itu diserang kantuk, sejalan dengan waktu yang sudah melewati tengah malam. 

Usai tertidur sejenak, dalam perjalanan yang memakan waktu cukup panjang hingga 12 jam, pagi pun tiba.  Alhamdulilah, pagi hari itu, pesawat Qatar air dengan nomor penerbangan yang penulis sendiri telah lupa itu, mendarat dengan mulus di bandara Doha Internasional airport pada pukul 4.30 waktu Doha.  Menurut catatan Wikipedia, Bandara ini memiliki landasan pacu yang berukuran 15,000 ft  dan merupakan salah satu landasan terpanjang pada sebuah bandar udara sipil. Pantas saja, ketika pesawat mendarat, untuk menuju tempat ruangan transit memakan waktu yang lumayan lama, karena pesawat parkir agak jauh.

Terus terang, merasa sangat bahagia, tidak pernah punya rencana ke Doha, juga belum pernah melihat apalagi menginjakkan kaki di bumi  Qatar, Timur Tengah ini. Namun, perjalanan ke Montreal, mengantarkan langkah kaki menginjak Doha. Ini adalah sebuah peluang atau kesempatan emas.  Di sini, walaupun di dalam bandara, kegiatan cuci mata bisa dilakukan selama transit.

Oleh sebab itu, dengan penuh rasa bahagia dan penuh rasa ingin tahu serta ingin melihat dan turun menginjakkan kaki di Doha begitu menggebu. Rasanya ingin sekali bisa berjalan-jalan ke pusat kota Doha, tapi itu jelas tidak mungkin, karena tujuan perjalanan bukan ke Doha. Namun, dengan penuh rasa syukur, penulis mengungkapkan alhamdulillah, karena sudah melihat Doha, walau hanya di bandara dan ketika terbang melihat dari jendela. 

Yang lebih bersyukur lagi, kota yang tidak ada dalam rencana perjalanan penulis, di bandara Doha, penulis bisa menapakkan kaki, berjalan-jalan di dalam bandara. Penulis merasa sudah seperti melakukan tour di dalam bandara, karena bis bandara  yang ditumpangi membuat penumpang lama keliling bandara. Karena hanya sekadar proses transit,dan menunggu lanjutan perjalanan. 

Sebenarnya, kalau lah sempat singgah lebih lama di Doha, banyak sekali tempat menarik yang bisa dikunjungi. Bayangkan saja di bandara saja, rasanya tak cukup waktu untuk kita nikmati. Seperti informasi yang bisa kita dapat dari I’d.trip.com, memaparkan bahwa  bandara Internasional Doha, resminya Bandara Internasional Hamad, adalah pusat penerbangan internasional utama Qatar, yang terletak di tenggara pusat kota Doha. Dibuka pada tahun 2014, bandara ini berfungsi sebagai pusat bagi Qatar Airways, dan banyak penumpang Hong Kong menggunakannya untuk penerbangan lanjutan ke kota-kota besar di Eropa.

Hal yang sangat menarik adalah desain arsitektur bandara yang  konon sangat unik, karena memadukan budaya Arab tradisional dengan gaya arsitektur modern. Bukan hanya itu, juga menggabungkan konsep oasis dan menyediakan lingkungan yang lapang dan cerah. 

Semakin menarik pula karena bandara ini juga menampilkan beragam instalasi seni dan pameran yang menampilkan budaya dan seni lokal, meningkatkan pengalaman budaya bagi para penumpang.

Pokoknya, bandara ini  menawarkan berbagai toko bermerek internasional, toko bebas bea, dan beragam pilihan tempat makan, yang memenuhi kebutuhan setiap wisatawan. Penjualan emas bergaya Timur Tengah juga menarik perhatian. Jadi, kalau banyak uang, pasti banyak yang bisa dinikmati. Ya, apalah daya, kalau hanya sekadar transit. Namun, tetap bersyukur karena tanpa direncanakan, juga sudah pernah menapakkan kaki di bumi Qatar. Alhamdulillah.

Penulis ingat juga bahwa ketika bis berhenti di depan pintu masuk dan transit, para penumpang bergegas menuju pintu masuk ke gate masing- masing. Petugas bandara memerintahkan semua penumpang untuk antri menunggu pemeriksaan pasport. 

Tak berapa lama kemudian, kami masuk ke ruang tunggu bandara dan menuju gate 9 untuk menuju London yang menjadi tempat transit ke dua menuju Montreal, Canada.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...