Manusia Tempatnya Salah

Oleh Saiful Bahri,
Berdomisili di Jakarta
Kita semua pernah berbuat salah.
Mengetik salah, janji lupa, memarahi orang tanpa sebab, ambil jalan pintas yang akhirnya nyesek sendiri.
Kalau salah itu tak ada, tak akan ada yang namanya belajar.
Bahkan Nabi Adam saja pernah salah, terus langsung taubat. Jadi salah itu manusiawi.
Yang bahaya itu kalau salahnya kita pelihara.
Pelihara rasa malas, pelihara janji yang diingkari, pelihara kebiasaan menyalahkan orang lain.
Lama-lama salah yang awalnya “kecelakaan” berubah jadi identitas: “Ya memang aku orangnya begitu.”
Padahal identitas itu bukan bawaan lahir. Itu hasil dari hal yang kita ulang-ulang tiap hari.
Bedakan orang yang maju dengan yang jalan di tempat itu gampang:
Orang yang mau maju, kalau salah dia bilang: “Oke, gue salah. Bagaimana mana cara membenahinya ?”
Orang yang stuck, kalau salah dia bilang: “Ya sudah memang gue memang begini. Sudah takdir.”
Satu mencari pintu keluar. Satu lagi mengunci diri dari dalam.
Allah itu Maha Pengampun, tapi Dia juga Maha Melihat usaha kita.
Taubat itu bukan cuma minta maaf, tapi berhenti mengulang dan ganti arah.
Kalau kita minta ampun pagi-sore, tapi sore-malam mengulang lagi, itu namanya main-main.
Jadi kalau malam ini kita sadar ada salah yang sudah jadi kebiasaan, jangan didiami
Tanya ke diri sendiri 1 hal:
“Apa 1 langkah kecil yang bisa aku hentikan mulai besok?”
Tidak usah 10 langkah. 1 langkah saja cukup.
Karena kebiasaan besar hancur bukan karena sekali hantam, tapi karena setiap hari dikikis.
Salah itu biasa. Tapi kalau jadi kebiasaan, dia yang bakal menentukan hidupmu












