Atas Nama Tuhan, Tapi Kejamnya Bukan Main: Alarm Dari Romo Mangun Untuk Kita Yang Fanatik

Oleh Yani Andoko
“Orang itu kalau sudah fanatik agama kejamnya bukan main. Kejam atas nama Tuhan, kontradiksi yang aneh sekali, tetapi begitulah manusia.”
Romo Mangunwijaya
Bunyi Alarm Di Tengah Keriuhan Agama
Coba bayangkan: ada seorang ayah yang sangat saleh. Setiap hari ia ke masjid/gereja/pura/wihara. Ia hafal doa-doa. Ia rajin bersedekah. Tapi suatu malam, karena mendengar ceramah bahwa kelompok lain “sesat”, ia ikut-ikutan membakar rumah ibadah mereka. Besok paginya ia masih tersenyum damai saat berdoa.
Aneh, bukan? Atas nama Tuhan yang Maha Kasih, ia tega menyakiti sesama. Itulah yang disebut Romo Mangun sebagai “kontradiksi yang aneh sekali”. Dan sayangnya, ini bukan cerita fiksi. Ini kejadian nyata yang berulang di berbagai belahan dunia, termasuk negeri kita sendiri.
Esai ini bukan hendak menggurui. Saya juga bukan orang suci. Tapi alarm sudah berbunyi kita perlu mendengarkan sebelum terlambat. Mari kita bedah bersama, dengan hati terbuka: kenapa fanatisme agama begitu mudah berubah menjadi kekejaman? Dan apa yang bisa kita lakukan, sebagai orang biasa yang ingin beragama dengan damai?
Mabuk Kebenaran, Lupa Kemanusiaan
Anatomi Fanatisme: Dari Keyakinan Jadi Kebencian
Psikolog sosial menyebut fenomena ini sebagai moral exclusion kita mengeluarkan orang lain dari lingkaran moral kita sehingga mereka pantas diperlakukan buruk. Awalnya hanya berbeda pendapat, lalu dianggap berbeda iman, lalu disesatkan, lalu halal darahnya. Prosesnya gradual, seperti air mendidih perlahan.
Ciri-ciri orang yang mulai fanatik buta:
Merasa dirinya paling benar dan satu-satunya yang selamat.
Menolak mendengar argumen dari luar kelompok.
Menganggap kritik sebagai serangan terhadap Tuhan.
Empati menyusut drastis, terutama terhadap “musuh iman”.
Contoh nyata: sebuah studi dari King’s College London (2021) terhadap mantan kombatan ISIS di Irak menemukan bahwa sebelum bergabung, kebanyakan dari mereka adalah pemuda biasa, bahkan ada yang sebelumnya pemalu dan pendiam. Setelah terpapar propaganda radikal secara intensif selama 6-12 bulan, mereka berubah menjadi “mesin pembunuh yang suci”. Yang berubah bukan agamanya karena mereka tetap shalat dan berdoa tapi cara mereka membaca kitab suci. Ayat tentang perang diambil mentah-mentah, sementara ayat tentang damai ditafsirkan “sudah tidak berlaku”.
Melepas Rem Moral: Saat Tuhan Dijadikan Tameng
Kenapa orang bisa tega melakukan kekejaman? Karena mereka berhasil membungkam hati nurani. Caranya dengan membangun narasi:“Ini bukan aku, ini perintah Tuhan.” Atau “Mereka lebih buruk dari binatang, jadi tidak apa-apa.” Atau “Matiku syahid, tangis anak-anak mereka bukan urusanku.”
Romo Mangun melihat ini sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab moral pribadi. Dalam bukunya Menuju Indonesia Serba Baru, ia menulis: “Orang yang paling kejam sering kali adalah orang yang merasa paling benar di hadapan Tuhannya. Ia kehilangan kerendahan hati untuk bertanya: Mungkinkah aku keliru?”
Coba bandingkan dengan tokoh-tokoh agama yang benar-benar saleh seperti Mahatma Gandhi, Mother Teresa, atau KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mereka tidak pernah memaksakan keyakinan dengan kekerasan. Justru mereka makin lembut, makin terbuka, makin membela yang lemah. Inilah tolok ukurnya: apakah agama membuatmu menjadi pribadi yang lebih ringan atau lebih berat? Lebih ramah atau lebih galak? Lebih pemaaf atau lebih pendendam?
Data dan Fakta: Bukan Cuma Isu Karena, Tapi Darurat Kemanusiaan
Jangan salah, fanatisme radikal bukan sekadar “omas intern”. Dampaknya sangat nyata. Menurut laporan UNDP (2022), konflik bernuansa agama di Indonesia dalam 10 tahun terakhir menyebabkan lebih dari 500 kematian, ribuan pengungsi, dan puluhan tempat ibadah rusak. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang toleran. Tapi toleransi itu rapuh kalau api fanatisme terus ditiup.
Contoh kasus yang sempat viral: sekelompok masyarakat di suatu desa melarang ibadah jemaat lain karena “tidak punya izin”. Lalu ada oknum yang membakar gereja kecil. Pelaku ditangkap, dan di pengadilan ia berkata, “Saya hanya membela agama saya.” Hakim bertanya, “Apakah agama Anda mengajarkan membakar?” Ia terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Karena tidak ada satu pun kitab suci yang secara eksplisit memerintahkan penganutnya membakar rumah ibadah orang lain.
Ini ironi yang menyedihkan: mereka yang paling getol membela (mengaku membela) agama justru paling tidak paham isi agama mereka sendiri. Mereka hanya hafal beberapa ayat “perang” tapi buta terhadap ayat “rahmat”.
Alarm Juga Berdenging Untuk Kaum Anti-Fanatisme yang Fanatik
Satu peringatan penting dari Romo Mangun: jangan sampai kita yang mengecam fanatisme agama justru jatuh ke dalam fanatisme baru. Misalnya, ada orang yang so toleran sampai-sampai ia tidak bisa mentolerir orang yang tidak toleran versinya. Ia akan menyerang, membully, mengkafirkan (dalam pengertian sosial) orang yang konservatif. Bukankah itu juga kekejaman?
Toleransi sejati bukan berarti semua pendapat sama benar, tapi memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda tanpa rasa takut. Romo Mangun mengajak kita untuk tetap tegas melawan kekejaman, namun dengan cara yang tidak menambah kebencian di dunia. Lawan radikalisme dengan pendidikan, dialog, dan keteladanan, bukan dengan radikalisme baru.
Cerita dari Mantan Fanatik: Titik Balik yang Menggetarkan
Saya pernah berbincang dengan seorang teman, sebut saja Ahmad (bukan nama sebenarnya). Dulu ia menjadi bagian dari kelompok yang suka “sweeping” tempat hiburan malam dan memecat mereka yang tidak berjilbab “sesuai standar”. Ia merasa sedang berjihad. Suatu hari, kelompoknya mengepung sebuah rumah makan yang buka saat puasa. Mereka memecahkan kaca dan mengusir pengunjung. Ahmad melihat seorang ibu hamil menangis histeris sambil memeluk anaknya.
Tiba-tiba ia merasa ada yang salah. “Apakah Allah yang Maha Pengasih senang melihat ibu hamil itu ketakutan?” tanyanya dalam hati. Malam itu ia tidak bisa tidur. Minggu berikutnya ia hengkang dari kelompok itu. Ia kemudian belajar fikih yang lebih mendalam dan menemukan bahwa dalam Islam pun ada prinsip la dhara wa la dhiraar (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain). Sekarang Ahmad jadi aktivis perdamaian.
Cerita Ahmad menunjukkan bahwa tidak ada yang kebal untuk berubah. Alarm bisa didengar kapan saja. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri.
Pulang ke Rumah Cinta Sebelum Terlambat
Romo Mangun tidak pernah meminta kita meninggalkan agama. Tidak sama sekali. Yang ia minta adalah kita tidak meninggalkan kemanusiaan saat beragama. Sebab agama tanpa kemanusiaan adalah monster. Kemanusiaan tanpa agama (atau tanpa spiritualitas) bisa juga liar. Tapi keduanya harus bertemu dalam cinta.
Tiga hal sederhana yang bisa kita lakukan mulai hari ini:
Tanyakan pada diri setiap kali hendak “membela Tuhan”: Apakah tindakanku ini membuat seseorang merasa lebih aman atau lebih takut? Jika lebih takut, berhentilah. Bisa jadi yang sedang kubela bukan Tuhan, tapi egoku.
Biarkan keraguan menjadi teman sehat. Orang fanatik takut ragu. Tapi justru keraguan yang jujur membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Tidak apa-apa berkata, “Saya tidak tahu persis.” Yang penting tidak jahat.
Mulai dari lingkungan terkecil. Tidak perlu jadi aktivis besar.
Cukup jangan ikut-ikutan menyebarkan ujaran kebencian di grup keluarga. Cukup sapa tetangga beda agama dengan ramah. Cukup ajak anak-anak kita mencintai perbedaan.
Kita tidak akan pernah sempurna. Tapi kita bisa berusaha untuk tidak menjadi kejam. Seperti kata Romo Mangun dalam salah satu tulisannya yang lain: “Kesalehan sejati tidak pernah membuat seseorang menjadi sombong dan kejam, melainkan rendah hati dan ramah.”
Alarm sudah berbunyi. Sekarang pilihan ada di tangan kita: bangun dan berdamai, atau tidur nyenyak dalam fanatisme yang konyol. Saya memilih bangun. Semoga Anda juga.
“Atas nama Tuhan, jangan sampai Tuhan malu disebut-sebut oleh kita.”
Batu, 9 Januari 2026












