
Oleh Tabrani Yunis
Hari itu, hari raya ke tiga Idul Fitri 1447 H. Pagi-pagi muncul keinginan untuk melihat atau menyaksikan kondisi sungai Bate Iliek pascabencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/ kota di Aceh dan juga di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bate Iliek dikabarkan telah berubah wajah, karena dihantam banjir bandang dan tanah longsor. Rasa penasaran semakin memuncak.
Dengan penuh rasa penasaran, penulis mengajak isteri dan anak yang paling kecil Arisya Anum untuk jalan-jalan melihat kondisi Bate Iliek, pada pukul 08.00 WIB. Setiba di jembatan Bate Iliek, penulis meminta isteri merekam dengan video dari atas jembatan. Lalu menuju ke kawasan yang dahulunya menjadi tempat mandi, berenang sambil menikmati jajajanan kuliner Bate Iliek seperti rujak dan goreng-gorengan.
Penulis memarkir mobil dekat dengan musala di kawasan irigasi. Kami menuju irigasi itu untuk membuat dokumentasi.
Penulis sempat live streaming dengan menggunakan Tik Tok. Sementara isteri ngobrol dengan seorang perempuan yang berjualan gorengan di kiosnya yang berada di atas irigasi itu.
Obrolan itu dimulai dengan pertanyaan pengalaman saat banjir bandang menggelegarkan Bate Iliek itu. Bagaiamana ibu menghadapi ancaman banjir saat itu.
Lalu, Bu Nurhayati yang biasanya dipanggil Kak Ati Gorengan memulai ceritanya panjang lebar. Penulis mendengar cerita di awal pembicaraan sambil live di TikTok. Lalu, seusai live penulis mendekat dan ikut mendengar cerita kak Ati terkait nasibnya yang hidup sendiri di atas tanggul irigasi Bate Iliek itu.
Kak Ati sangat terbuka mengisahkan tentang nasibnya. Tentu tidak etis bila
mengabaikan dan meninggalkan cerita dukanya, dengan mengabaikan apa yang ia ceritakan. Ia mengenakan daster bercorak batik, sambil memutar kentang yang akan digoreng, sambil terus bercerita.
Dengan raut wajah sedih, Ia menceritakan bagaimana ia seorang diri di kiosnya menghadapi derasnya arus banjir di sungai Bate Iliek yang mengubah secara drastis wajah sungai Bate Iliek. Malam itu ia sangat terancam oleh bencana itu. Bencana itu memang sangat menakutkan dan mengerikan, namun lanjutan kisah Kak Ati ternyata lebih menyakitkan.
Bayangkan, saat air yang sangat deras mulai naik ke kiosnya, ia sendirian menyelamatkan barang-barangnya serta peralatan yang ia miliki di kios atau warung kecilnya. Ia sangat takut melihat arus air yang begitu deras. Ia berdoa kepada Allah. Ya, hanya kepada Allah ia memohon pertolongan, memohon agar diselamatkan dari bencana itu.
Alhamdulillah, Allah mendengar doa Kak Ati. Banjir yang begitu dahsyat tidak membawa hanyut warungnya walau air sudah setinggi bangku, tempat duduk di warungnya. Ia terus mengingat Allah dan berdoa, membaca yasin, dan terus berdoa semoga Allah menyelamatkannya.
Alhamdulillah, katanya dengan pertolongan Allah, warungnya selamat dari ancaman banjir bandang itu, karena posisi kios pun tinggi berada di atas bangunan proyek irigasi. Entah sambil bercanda atau memang serius, Ia berkata pada istri penulis “ kalau ibu ada Mukena dan jilbab bekas atau layak pakai, berikanlah kepada saya”. Saya akan pakai Bu, ingin beli yang baru tak ada uang. Penghasilan jualan gorengan sekarang sangat sepi.
Selanjutnya Kak Siti mulai membuka cerita lebih jauh, ketika ia ditanya, saat banjir itu mengapa Kak Siti tidak pulang ke rumah? Kak Ati mulai menceritakan luka hatinya, melepaskan cerita duka yang ia alami selama bertahun lamanya, hingga di usia tuanya yang kini sudah berumur 54 tahun.
Ia tinggal sendiri di warungnya yang di atas tanggul irigasi itu, karena katanya ia tidak diizinkan pulang oleh suami dan anak-anak yang ia lahirkan dari rahimnya. Maka, satu-satunya pilihan baginya adalah tinggal di warung atas tanggul irigasi itu sendirian. Ia harus menghidupi dirinya sendiri dengan berjualan gorengan kentang spiral dan rujak serta buah.
Alkisah, Kak Ati menikah pada tahun 1988 dengan lelaki dari Kecamatan yang sama di Samalanga. Sayangnya, perjalanan biduk rumah tangga tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik, seperti yang ia bayangkan sebelum menikah. Sebab, pernikahannya dengan suaminya itu tidak berjalan aman dan penuh luka.
Katanya, saat hamil anak pertama suaminya mulai sering marah-marah. Dan yang menyedihkan setelah lahir anak pertama di tahun 1990, baru usia bayinya 15 hari, Kak Ati mulai mendapat perlakuan kasar. Suaminya mulai bertindak keras. Kak Ati ditampar oleh suami, hingga ia menjerit kesakitan dan minta tolong.
Suara minta tolong didengar oleh tetangga, Lalu tetangga mendatangi rumah Kak Ati diamankan, membawanya ke rumah tetangganya. Namun, setelah itu Kak Ati memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya.
Sedihnya lagi, ketika pulang ke rumah orangtuanya, sang suami tetap sulit beradaptasi dengan orangtuanya. Sikap temperamental sang suami tak berubah dan membuat orangtua Kak Ati pun tak mampu menghadapi karakter sang suami. Lalu lima bula kemudian Kak Ati mencari alternatif lain dengan menumpang tinggal di rumah orang, Namun di tempat ini, Kak Ati juga belum bisa keluar dari lingkaran kekerasan rumah tangga. Ia masih mengalami tindak kekerasan dari suaminya. Ia mencari jalan keluar dari lingkaran kekerasan itu.
( bersambung)
Padahal itu adalah pertemuan pertama dan bukan lah pertemuan yang direncanakan. Namun, dari pertemuan singkat itu, Kak Ati banyak menceritakan tentang nasibnya yang hingga saat ini terus disakiti oleh suami dan dikucilkan oleh anak-anaknya sendiri. Sehingga ia harus hidup sendiri di kiosnya di atas irigasi Bate Iliek dalam waktu yang sudah sangat lama.
Ya, jadi ini adalah pertemuan tiba-tiba, bukan sebuah pertemuan terencana dengan seorang perempuan usia 54 tahun ini, menyimpan kisah sedih, pedih dan memilukan. Betapa tidak, kak Ati Gorengan, begitu sebutan dirinya, menceritakan kisah hidupnya yang membuat penulis harus dengan serius mendengarkan segala yang ia sampaikan, tentang biduk rumah tangganya sejak ia masih gadis hingga memiliki 4 orang anak, tiga perempuan dan satu laki-laki yang merupakan anak laki-laki yang sangat diidamkan kala ia hamil.
Kak Ati adalah perempuan berusia 54 tahun yang berasal dari desa Menasah Blang, Samalanga, Bireun. Ia kini hidup sendiri dengan kegiatan berjualan gorengan di kiosnya di bibir sungai itu.
Ia mengisahkan bahwa ia sudah bertahun-tahun-tahun statusnya digantung oleh suaminya. Ditelantarkan bahkan tidak boleh pulang ke rumah yang ia bangun dengan hasil kucuran keringat sendiri. Ia juga diusir oleh anaknya dan melarangnya pulang ke rumah. Bukan hanya diusir dari rumah, menurut cerita Kak Ati, ia sejak hamil anak pertama telah mengalami tindak kekerasan oleh suami yang ia nikahi ketika pada tahun 1988 ia membuka usaha gorengan yang juga pernah ia tutup karena konflik, sepulangnya dari bekerja di Malaysia.
Cerita Kak Ati pada hari itu, tak mungkin dicatat dan juga pasti penulis tidak punya waktu untuk menggali, mewawancarai Kak Ati saat itu. Kami sempat membeli kentang goreng spiral yang digoreng dan dijual Kak Ati. Beliau memberikan nomor HP dan meminta nomor HP penulis karena ia tahu membaca tulisan Potretonline di kaos penulis.
Lewat voice not Kak Ati bercerita tentang hidupnya, cerita itu cukup panjang untuk ditulis. Intinya, sejak ia menikah di tahun 1988 hingga lahir anak pertama di tahun 1990, pada saat mulai hamil, ia terus menghadapi masalah dengan suami. Ya, suaminya sudah sering marah-marah, tanpa sebab yang jelas.
Yang lebih sakit adalah ketika melahirkan anak pertama, baru usia anak 15 hari Kak Siti mengalami kekerasan fisik, ia ditampar oleh suami. Katanya, suami marah karena ibu suaminya tidak datang dan membuat ia malu. Ia pun disakiti, dipukuli, hingga tetangga menjemputnya dan dibawanya ke rumah tetangga. Ia memilih pulang ke rumah orangtua. Tinggal bersama orangtua, tapi orangtua saya juga tidak sanggup melihat perilaku suami yang marah selalu dan berlaku kasar. Lalu lima bulan kemudian kami menumpang ke rumah orang, tapi di tempat ini kemarahannya selalu memuncak dan lagi selalu kena tampar.
Kak Siti mengalami tindak kekerasan berupa tamparan yang terjadi terus menerus hingga melahirkan anak ke tiga. Bukan hanya itu, ketika suami sudah mendapat pekerjaan berjualan mie, namun nasibnya bertambah buruk, karena tidak diberikan nafkah.















© 2026 potretonline.com