Oleh: Nita
Suara ketukan palu kayu yang beradu dengan lantai semen terdengar bersahut-sahutan di kelas 2 SD Negeri 9 Susoh, Aceh Barat Daya. Namun, itu bukanlah suara tukang yang sedang merenovasi bangunan. Suara itu berasal dari tangan-tangan mungil siswa kelas 2 yang sedang asyik “memindahkan” warna alam ke totebag putih. Beberapa siswa dari kelas lain mulai mengintip, mereka penasaran.
Pagi itu, suasana kelas terasa berbeda. Komunitas literasi Sigupai Mambaco hadir membawa misi unik: memperkenalkan teknik ecoprint. Tidak ada pensil warna atau cat air di atas meja. Yang ada hanyalah tumpukan daun, bunga-bunga berwarna cerah, plastik bening, kuas dan palu kayu.
“Benar begini bu?” seru salah satu siswa saat melihat pola tulang daun mulai tercetak sempurna di atas totebag-nya.
Teknik yang digunakan adalah pounding atau memukul. Sederhana, namun butuh kesabaran. Para siswa diajarkan untuk menata daun dengan hati-hati, menutupinya dengan plastik agar serat kain tidak rusak, lalu mengetuknya perlahan hingga pigmen warna alami keluar dan meresap abadi.
Kegiatan ini bukan sekadar membuat kerajinan tangan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa alam adalah perpustakaan raksasa. Alam menyediakan media seni yang luar biasa tanpa harus merusaknya,” ujar Nita. Ia menekankan bahwa literasi tidak melulu soal mengeja huruf di buku, tapi juga tentang memahami lingkungan—sebuah konsep literasi lingkungan yang ingin ditanamkan Sigupai Mambaco sejak dini.
Senada dengan Nita, Liza selaku wali kelas 2 melihat ada pancaran kebahagiaan yang berbeda pada anak didiknya. Pembelajaran kontekstual seperti ini menurutnya adalah “napas segar” di tengah rutinitas buku teks.
“Anak-anak belajar menghargai proses. Dari selembar daun yang mungkin biasanya mereka abaikan, kini menjadi karya seni yang bisa mereka bawa pulang dengan bangga,” tutur Liza.
Setelah keriuhan memukul, suasana diisi hening saat sesi read aloud atau membaca nyaring. Sebuah buku berjudul “Daun-Daun Istimewa” dibacakan Nita di hadapan anak-anak. Cerita itu menjadi pengantar sempurna untuk kegiatan yang sudah dilaksanakan.
Saat matahari mulai meninggi, workshop itu berakhir. Namun, pelajaran hari itu tidak selesai begitu saja. Ketukan palu dan aroma daun yang memar, Sigupai Mambaco dan SD Negeri 9 Susoh, Aceh Barat Daya, telah berhasil menanamkan satu benih penting di hati para siswa: bahwa literasi adalah cara kita mencintai dunia, termasuk dengan menjaga warna-warni yang disediakan oleh alam.
*Nita adalah warga Desa Tangah, Susoh, Aceh Barat Daya ( Abdya) Trainer Read Aloud









Diskusi