Minggu, Mei 3, 2026

Yang Bilang Indonesia Gelap Diminta Prabowo Kabur ke Yaman

Penulis Redaksi
April 30, 2026
3 menit baca
1001455812_11zon
Foto / Ilustrasi Yang Bilang Indonesia Gelap Diminta Prabowo Kabur ke Yaman

Oleh Rosadi Jamani

Nasibmu yang sering bilang Indonesia Gelap diminta oleh Prabowo untuk kabur ke Yaman. Muncul pertanyaan, kenapa mesti ke Yaman? Itukan negara para habib. Simak narasinya sambil seruput di Dayang Resort Singkawang, wak!

Tanggal 29 April 2026 kemarin, di tengah gegap gempita groundbreaking 13 proyek hilirisasi bernilai ratusan triliun di Cilacap, Presiden Prabowo Subianto tampil penuh percaya diri. Bukan cuma meresmikan proyek, tapi juga meresmikan satu cabang baru dalam dunia retorika, sarkasme tingkat dewa.

Dengan nada yang entah harus ditafsirkan sebagai bercanda, menyindir, atau kombinasi keduanya yang diblender pakai logika politik, beliau melontarkan solusi elegan bagi mereka yang masih ngeyel bilang “Indonesia Gelap”:

“Indonesia gelap. Matanya buram… Ada yang mau kabur? Kabur saja. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan. Mau kabur ke mana?”

Wah. Ini bukan sekadar kalimat. Ini karya sastra. Kalau dimasukkan lomba puisi, juri mungkin langsung bingung, ini satire, tragedi, atau stand-up comedy versi geopolitik?

Nuan bayangkan! Di negara yang sebagian besar rakyatnya memandang Yaman bukan sekadar titik di peta, tapi tanah leluhur para habib, tempat asal garis sejarah spiritual yang selama ratusan tahun menetes ke Nusantara dalam bentuk dakwah, tasawuf, dan akhlak, tiba-tiba dijadikan contoh destinasi “silakan kabur”.

Ini seperti bilang ke orang yang hormat pada guru, “Kalau tak suka sekolah ini, sana balik ke rumah gurumu yang lagi kebakaran.” Dramatis? Jelas. Efektif? Tergantung targetnya siapa.

Tapi di situlah letak kejeniusannya. Memilih Yaman bukan tanpa efek. Negara yang selama bertahun-tahun dilanda perang saudara, kelaparan massal, dan krisis kemanusiaan kelas dunia, dijadikan pembanding, semacam “benchmark kegelapan” agar narasi “Indonesia Gelap” terdengar seperti lelucon orang kurang piknik.

Strategi komunikasi yang… bagaimana ya menyebutnya… tajam tapi juga bikin orang garuk kepala.

Sebagian rakyat yang selama ini menaruh hormat tinggi pada para habaib langsung merasakan sesuatu yang janggal. Bukan karena tak paham humor, tapi karena ada lapisan emosional dan historis ikut tersenggol. Tapi ya sudahlah, mungkin ini memang humor kelas tinggi yang kalau tidak paham, berarti kita yang kurang naik level.

Sampai hari ini, 30 April 2026, pihak Yaman sendiri belum bersuara. Mungkin mereka terlalu sibuk bertahan hidup di tengah bom dan krisis pangan, jadi belum sempat membaca undangan terbuka dari seorang presiden negara yang katanya termasuk paling aman di dunia. Atau bisa jadi mereka membaca, lalu tertawa lirih sambil berkata, “Wah, kami jadi destinasi perbandingan sekarang. Naik kelas juga.”

Inilah mungkin definisi baru etika bernegara. Ketika kritik tidak dibalas dengan data, bukan juga dengan empati, tapi dengan sindiran hiperbolis yang dilempar seperti confetti di pesta peresmian proyek raksasa. Berkilau, meriah, tapi kalau kena mata, ya tetap perih.

Pesannya sederhana sebenar. Kalau ente merasa Indonesia gelap, mungkin masalahnya bukan pada negaranya, tapi pada matamu. Kalau masih bersikeras, pintu keluar sudah ditunjukkan, lengkap dengan rekomendasi destinasi.

Sungguh pelajaran berharga di era terang ini. Patriotisme sekarang mungkin bukan lagi soal mengkritik agar negara lebih baik, tapi soal seberapa kuat kamu menahan silau.

Kalau nuan masih merasa ada yang ganjil, mungkin benar kata beliau, matamu buram. Atau lebih parah lagi, sampeyan masih percaya bahwa etika, empati, dan sensitivitas itu penting dalam pidato seorang pemimpin.

Selamat datang di Indonesia yang katanya terang. Kalau tak kuat melihat cahayanya, ya… sudah tahu harus ke mana, kan?

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

✦ ✦ ✦
Apakah artikel ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Preview
Memuat komentar...

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist