Rabu, April 29, 2026

Begitu Banyak “Teman” – Tapi…

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
Ilustrasi: Begitu Banyak “Teman” – Tapi…

Oleh: Teuku Johar Gunawan

Setelah Hamdalah dan Shalawat. Mari kita renungi fenomena di bawah ini sejenak. Rasanya kita selalu terhubung. Selalu ada obrolan grup yang ramai — teman, rekan kerja, keluarga, teman sekelas lama.  Pesan- pesan terus berdatangan sepanjang hari: lelucon, meme, kabar singkat.

Di permukaan, sepertinya itu adalah kehidupan sosial yang sangat aktif.

Tapi ada pertanyaan yang mengganggu: berapa banyak dari orang-orang dalam group itu yang sebenarnya kita kenal?

Bukan hanya nama pengguna atau selera humor mereka—tetapi siapa mereka sebenarnya. Karena sebagian besar waktu, sebenarnya kita tidak sedang benar-benar berbicara satu sama lain.

Kita sesungguhnya sedang mengetik text atau istilah kerennya texting. Dan entah sejak kapan, kita mulai menganggap kedua hal itu sama. Padahal, keduanya berbeda.

Ketika kita mengirim pesan teks, hal itu menyederhanakan komunikasi kita menjadi sekadar kata-kata. Tak ada intonasi. Tak ada ekspresi. Tak ada jeda yang menandakan keraguan ataupun

bahkan ketulusan. Kita tak benar-benar tahu. Yang muncul: hanya kalimat-kalimat yang menunggu untuk ditafsirkan.

Jadi, kita sebenarnya mengisi kekosongan itu. Kita menebak maksud orang lain. Kita mencoba menafsirkan intonasinya. Kita membangun gambaran tentang seseorang di benak kita, tapi itu

hanya berdasarkan potongan-potongan informasi. Dan gambaran itu tidak selalu utuh dan akurat.

Pesan sederhana seperti “Saya tidak tahu” bisa terasa netral pada suatu hari. Dan bisa terasa “dingin” pada hari berikutnya. Kata-katanya sendiri tidak berubah — tapi hanya cara kita

menafsirkannya yang berubah.

Sekarang bayangkan hal itu terjadi dalam puluhan percakapan atau bahkan mungkin ratusan di berbagai “obrolan” grup, selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Yang kita dapatkan

bukanlah kejelasan. Melainkan kumpulan asumsi.

Ini bukanlah frustrasi pribadi. Sherry Turkle — seorang Profesor MIT— rupanya telah lama berargumentasi dalam bukunya Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age bahwa seiring meningkatnya komunikasi digital, maka percakapan yang sesungguhnya justru menurun — dan bersama itu pula, kemampuan kita untuk berempati juga ikut menurun. 

Walau kata reclaiming yang dipilihnya jelas menyiratkan masih ada sedikit optimisme bahwa percakapan sesungguhnya belum benar-benar mati, namun pemilihan kata itu memuat

kerisauan yang dalam bahwa hari-hari ini percakapan yang sesungguhnya di dunia digital semakin sulit didapatkan sehingga memerlukan jerih payah untuk merebutnya kembali.

Padahal sebuah studi dalam jurnal Evolution and Human Behavior yang berjudul Instant messages vs. speech: hormones and why we still need to hear each other, mereka melakukan meneliti dampak percakapan terhadap biologi manusia, dalam kondisi alami, secara real time dan menemukan bahwa: “speech between trusted individuals is capable of reducing levels of salivary cortisol, often considered a biomarker of stress, and increasing levels of urinary oxytocin, a

hormone involved in the formation and maintenance of positive relationships” atau bahwa ternyata percakapan antar individu yang saling percaya mampu menurunkan kadar kortisol

dalam air liur—yang sering dianggap sebagai penanda biologis stres—serta meningkatkan kadaroksitosin dalam urin, yaitu hormon yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan

hubungan positif.

Walau kita tidak sedang berpretensi menjadi ahli psikologi, kesehatan ataupun ahli sosial dalam hal ini, namun kita bisa memahami hasil penelitian tersebut bahwa ternyata berbicara kepada

seseorang yang kita percaya memiliki kelebihan tersendiri dan berpengaruh kepada kesehatan, ketimbang misalnya kita hanya mengirimkan text

Secara alami kita merasakan bahwa ada

perbedaan itu, namun kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi secara biologis. Dan tentu masih banyak rahasia – yang para peneliti sendiri mengakui bahwa merekapun belum sepenuhnya memahami.

Peneliti lain bahkan beragumentasi bahwa apa yang kita sebut “obrolan grup” atau group chat sebenarnya penamaan yang “menyesatkan” dan tidak tepat. Kenapa? Karena kita sesungguhnya tidak berinteraksi secara real-time, melainkan terlibat dalam bentuk komunikasi tertulis sambil membayangkan kehadiran orang lain dalam group tersebut. Maka ketika pesan teks dan percakapan menjadi kabur seperti ini, hal itu menciptakan sebuah sistem di mana kesalahpahaman sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan.

“Obrolan grup” membuat hal ini semakin rumit. Obrolan grup terasa seperti interaksi sosial, tetapi sering kali berfungsi seperti panggung atau platform. Ada penonton. Dan orang-orang

ikut serta dengan lelucon atau reaksi singkat — cukup untuk tetap terlihat dan tampil sebentar. Dan bahkan saling melemparkan informasi namun tidak benar-benar saling mendengar.

Masalahnya “terlihat tampil” atau “tampil” itu tidak sama dengan memiliki hubungan. Dan di sinilah pola yang sangat halus dan tak kentara tapi penting itu masuk dan muncul.

Seseorang bisa kelihatan ramah, lucu, dan sangat terlibat di dalam “percakapan group” — namun sangat menjaga jarak dan bahkan dingin ketika dihubungi untuk percakapan pribadi. Anda mengirim pesan lansung kepadanya, tetapi jawabannya pendek, atau lama sekali baru dibalas, atau dia tidak membalas sama sekali.

Jadi rasanya tidak konsisten. Tapi ini rupanya bukanlah sesuatu yang kebetulan . “Percakapan group” menghargai “kehadiran” dan tampilnya seseorang. Sementara pembicaraan

pribadi memerlukan usaha dan “perjuangan” dan kesungguhan.

Sehingga orang lebih cenderung dan terdorong kepada ruang yang memberikan mereka “keuntungan” dengan sedikit usaha saja. Ada yang menghubungkan pola ini sebagai bagian cirinarcissism atau “narsis” – yaitu mencari perhatian di keramaian di ruang publik, sambil menghindari interaksi yang timbal balik dan lebih mendalam dan berarti. Mungkin sebagian kita

bisa jadi tidak setuju dengan label tersebut.

Meskipun kita bisa saja membuang label “narsis” tadi, namun hasilnya tetap sama: komunikasi terasa tidak berimbang, dan hubungan terasa sebelah pihak saja.

Dengan berjalannya waktu sayangnya, hal ini menciptakan lingkaran hubungan sosial yang “aneh”. Kita berinteraksi secara terus menerus, tetapi hasilnya kita tak selalu menjadi semakin dekat. 

Mungkin kita tahu bagaimana orang lain menampilkan diri, tapi kita tidak persis tahu siapa mereka di balik penampilannya.

Dan di situlah fenomena “kesepian” di tengah keramaian itu mulai muncul.

Karena, menjadi benar-benar kesepian itu satu hal, tapi hal lain lagi jika kita di kelilingi oleh banyak “orang” – “ngobrol” setiap hari – tetapi masih merasa tidak jelas dengan siapa kita sebenarnya terhubung.

Jadi pertanyaan sebenarnya adalah bukan berapa banyak kita “berbicara” kepada “orang” di dalam group, tetapi berapa banyak yang kita benar-benar kenal dan tahu.

Karena ternyata kita bisa saja punya sangat banyak “teman”, dan banyak sekali orang di dalam satu group, tetapi kita tidak benar-benar tahu siapa orang-orang di seberang “layar kaca” itu.

Dan mungkin kita perlu lebih banyak untuk berbicara face-to-face ketimbang texting

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist