Rabu, April 29, 2026

Relevansi Pemikiran Gus Dur Dalam Pendidikan dikan, Antara Kemanusiaan dan Keberanian Berfikir

7f667085-fd7c-4173-8b85-11136faf14e4
Ilustrasi: Relevansi Pemikiran Gus Dur Dalam Pendidikan dikan, Antara Kemanusiaan dan Keberanian Berfikir

Oeh Fileski Walidha Tanjung 

Saya hadir di sebuah diskusi yang berada di serambi Masjid Baiturrahman, pada sebuah malam yang sederhana namun sarat makna. Undangan dari Gusdurian Madiun dalam acara “cangkruan bareng” pada 28 April 2026 membawa saya bukan sekadar untuk berbicara, melainkan untuk menguji kembali satu pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: masihkah pemikiran Abdurrahman Wahid relevan dalam dunia pendidikan kita hari ini?

Pertanyaan itu terasa ganjil sekaligus mendesak. Ganjil karena Gus Dur seolah telah menjadi monumen moral yang terlalu sering dipuji namun jarang dibaca secara kritis. Mendesak karena pendidikan kita justru bergerak ke arah yang berlawanan dengan semangat yang ia perjuangkan. Di tengah kurikulum yang terus berubah, sistem evaluasi yang kian mekanistik, dan kecenderungan untuk menyeragamkan cara berpikir, pendidikan tampak kehilangan satu hal paling mendasar: kemanusiaan.

Acara malam itu terasa memiliki resonansi yang lebih dalam karena bertepatan dengan Hari Puisi Nasional, 28 April—hari wafat penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar. Tanggal ini bukan sekadar penanda kehilangan, tetapi juga pengingat akan keberanian berpikir dan kebebasan berekspresi yang diwariskan Chairil melalui puisi-puisinya. Dalam konteks diskusi tentang pemikiran Gus Dur, momen ini seperti menghadirkan jembatan simbolik antara dunia sastra dan dunia pendidikan: keduanya sama-sama menuntut kemerdekaan batin, keberanian meragukan, serta kesanggupan untuk melampaui batas-batas yang mapan.

Dalam suasana yang sarat makna, saya—Fileski—tidak hanya hadir, tetapi juga sebagai penyair yang mencoba merespons zaman. Saya menulis dan membacakan puisi yang selaras dengan tema malam tersebut: tentang kemanusiaan, kebebasan berpikir, serta kegelisahan atas krisis moral dan ekologis yang kita hadapi hari ini. Puisi itu menjadi semacam gema kecil dari semangat yang pernah dihidupkan Chairil dan Gus Dur—suara yang mungkin tidak menawarkan jawaban, tetapi setidaknya berani mengajukan pertanyaan, menggugat kesunyian, dan menghidupkan kembali percakapan yang nyaris padam.

Gus Dur tidak pernah melihat pendidikan sebagai sekadar proses transfer pengetahuan. Ia memandangnya sebagai ruang pembebasan. Dalam banyak kesempatan, ia menekankan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir merdeka, bukan sekadar patuh terhadap sistem. Pandangan ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Paulo Freire, “pendidikan tidak mengubah dunia. pendidikan mengubah manusia, dan manusialah yang mengubah dunia.” Dalam konteks ini, pendidikan bukanlah alat reproduksi kekuasaan, melainkan sarana transformasi sosial.

Namun, justru di sinilah persoalan kita hari ini. Pendidikan seringkali menjadi alat normalisasi. Ia membentuk siswa agar sesuai dengan standar tertentu, bukan untuk menemukan keunikan dirinya. Kita mengajarkan jawaban, bukan pertanyaan. Kita menghargai kepatuhan, bukan keberanian. Dalam situasi seperti ini, pemikiran Gus Dur menjadi semacam gangguan yang produktif—ia mengajak kita untuk meragukan apa yang selama ini kita anggap mapan.

Gus Dur percaya bahwa pluralitas adalah keniscayaan, bukan ancaman. Dalam dunia pendidikan, ini berarti mengakui bahwa setiap individu memiliki latar belakang, cara berpikir, dan potensi yang berbeda. Namun, sistem pendidikan kita seringkali justru menekan perbedaan itu. Kita menyebutnya “standarisasi mutu”, padahal yang terjadi adalah penyederhanaan kompleksitas manusia.

Di titik ini, saya teringat pada pemikiran Michel Foucault yang mengatakan, “dimana ada kekuasaan, di situ ada resistensi.” Pendidikan sebagai institusi tidak pernah netral. Ia selalu membawa kepentingan tertentu, baik yang disadari maupun tidak. Maka, ketika pendidikan menjadi terlalu seragam, terlalu terukur, dan terlalu terkontrol, di situlah kita perlu menghadirkan resistensi. Dan Gus Dur, dalam banyak hal, adalah simbol dari resistensi itu.

Namun, relevansi pemikiran Gus Dur tidak berhenti pada kritik terhadap sistem. Ia juga menawarkan visi alternatif. Pendidikan, dalam pandangannya, harus menjadi ruang dialog. Bukan hanya antara guru dan murid, tetapi juga antara berbagai perspektif yang berbeda. Ia menolak otoritas tunggal dalam pengetahuan. Ia percaya bahwa kebenaran tidak pernah selesai, dan karena itu, pendidikan harus selalu terbuka.

Sayangnya, dunia pendidikan kita hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Kita hidup di era digital yang seharusnya membuka akses terhadap berbagai sumber pengetahuan, namun justru terjebak dalam polarisasi informasi. Algoritma menentukan apa yang kita baca, bukan rasa ingin tahu kita. Dalam situasi ini, pendidikan seharusnya menjadi ruang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal informasi.

Gus Dur mengajarkan kita untuk melihat manusia secara utuh. Ia tidak pernah memisahkan antara intelektualitas dan moralitas. Dalam konteks pendidikan, ini berarti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Pendidikan yang gagal menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada akhirnya hanya akan melahirkan individu yang cerdas secara teknis, tetapi miskin secara etis.

Di sinilah letak keberanian pemikiran Gus Dur. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga membayangkan kemungkinan lain. Ia mengajak kita untuk melihat pendidikan bukan sebagai sistem yang kaku, tetapi sebagai proses yang hidup. Ia menolak reduksi manusia menjadi angka-angka statistik. Ia percaya bahwa setiap individu memiliki martabat yang tidak bisa diukur.

Maka, relevansi pemikiran Gus Dur dalam dunia pendidikan hari ini bukan sekadar soal mengingat kembali gagasannya, tetapi tentang bagaimana kita berani menghidupkannya. Ini bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut perubahan cara pandang, bukan hanya kebijakan. Ia menuntut keberanian untuk berbeda, bahkan ketika sistem mendorong kita untuk seragam.

Di serambi masjid malam itu, saya menyadari bahwa pertanyaan tentang relevansi Gus Dur sebenarnya adalah pertanyaan tentang diri kita sendiri. Apakah kita masih percaya bahwa pendidikan bisa menjadi ruang pembebasan? Ataukah kita telah menyerah pada logika efisiensi dan standar yang sempit?

Barangkali, yang paling penting bukanlah apakah pemikiran Gus Dur masih relevan, tetapi apakah kita masih cukup berani untuk menjadikannya relevan. Sebab, seperti yang ia tunjukkan sepanjang hidupnya, pemikiran tidak pernah mati—yang mati adalah keberanian untuk memikirkannya kembali.

Dan di titik ini, saya ingin meninggalkan satu pertanyaan yang mungkin lebih penting daripada semua jawaban: jika pendidikan tidak lagi memanusiakan manusia, lalu untuk siapa sebenarnya ia diselenggarakan? (*)

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist