Senin, April 27, 2026

Semestinya Ini Tak Terjadi 

April 2026

Puisi Bencana Sumatera

Oleh Anies Septivirawan


‎Gumpalan awan hitam
‎Angin kencang dan sambaran
‎Petir dari langit yang menangis
‎Air mata membanjiri bumi Sumatera

‎Hari itu adalah hari kelam
‎Di atas lembar catatan
‎Akhir Nopember adalah awal
‎Kisah rombongan hati bermuram durja 

‎Akhir Nopember memporak-porandakan
‎Harapan-harapan
‎Akhir Nopember bagi mereka adalah
‎Awal peneguh kesabaran
‎Hujan, banjir bandang
‎Tlah menguji keikhlasan
‎Atas segalanya yang hilang
‎: “semestinya ini tidak terjadi,” ujar mereka
‎Mereka menyebutnya sebagai bencana
‎Namun air, hujan, petir dan angin
‎Adalah perangkat alam yang mesti
‎Bekerja menunaikan kewajiban

‎:”Hal ini adalah tugas dari semesta, jangan kau sebut kami air bah, banjir bandang dan segala yang berbau bencana. Ini jalan kami dan sudah tiba waktunya bagi kami untuk numpang lewat di kampung yang katanya peradaban, sementara kalian yang serakah tak mau disebut rakus,”  ujar air bah, hujan, kayu-kayu, hutan, bumi dan petir menggelegar, menghantam ketentraman hati dan jiwa yang tenang.

‎Hujan deras dari langit
‎Yang berdendang seperti
‎Lagu kesedihan itu
‎Telah menguras air mata
‎Memaksa dan meminta
‎Agar manusia ikhlas
‎Ketika segalanya kembali tiada

‎”Tidaaaak…!!! Semestinya ini tidak terjadi,” ujar dunia fana, melemah, seolah tak mau tiada.


‎Situbondo, akhir 2025

Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist