Puisi Bencana Sumatera
Oleh Anies Septivirawan
Gumpalan awan hitam
Angin kencang dan sambaran
Petir dari langit yang menangis
Air mata membanjiri bumi Sumatera
Hari itu adalah hari kelam
Di atas lembar catatan
Akhir Nopember adalah awal
Kisah rombongan hati bermuram durja
Akhir Nopember memporak-porandakan
Harapan-harapan
Akhir Nopember bagi mereka adalah
Awal peneguh kesabaran
Hujan, banjir bandang
Tlah menguji keikhlasan
Atas segalanya yang hilang
: “semestinya ini tidak terjadi,” ujar mereka
Mereka menyebutnya sebagai bencana
Namun air, hujan, petir dan angin
Adalah perangkat alam yang mesti
Bekerja menunaikan kewajiban
:”Hal ini adalah tugas dari semesta, jangan kau sebut kami air bah, banjir bandang dan segala yang berbau bencana. Ini jalan kami dan sudah tiba waktunya bagi kami untuk numpang lewat di kampung yang katanya peradaban, sementara kalian yang serakah tak mau disebut rakus,” ujar air bah, hujan, kayu-kayu, hutan, bumi dan petir menggelegar, menghantam ketentraman hati dan jiwa yang tenang.
Hujan deras dari langit
Yang berdendang seperti
Lagu kesedihan itu
Telah menguras air mata
Memaksa dan meminta
Agar manusia ikhlas
Ketika segalanya kembali tiada
”Tidaaaak…!!! Semestinya ini tidak terjadi,” ujar dunia fana, melemah, seolah tak mau tiada.
Situbondo, akhir 2025
Diskusi