Jumat, April 17, 2026

Madiun Mendunia: Para Perupa Cilik dari Kota Pecel Unjuk Gigi di Kancah Global

a16e068a-f693-4165-8ec4-fa77c8ac85af
Ilustrasi: Madiun Mendunia: Para Perupa Cilik dari Kota Pecel Unjuk Gigi di Kancah Global

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Ada momen-momen tertentu dalam sejarah sebuah kota ketika ia tidak lagi sekadar menjadi ruang geografis, melainkan menjelma menjadi kesadaran kultural. Madiun, dalam riak yang mungkin tampak kecil dari kejauhan, sedang mengalami momen semacam itu. Ketika puluhan perupa cilik dari kota ini menjejakkan karyanya dalam arsip seni internasional melalui “Certificat de Participation” yang diterbitkan oleh Institut Mondial d’Art de la Jeunesse yang berafiliasi dengan UNESCO, sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar peristiwa pencapaian karya, melainkan pergeseran makna tentang siapa yang berhak bermimpi secara global.

Di kota yang sering dipersepsikan sebagai ruang pinggiran dalam peta seni rupa nasional, tiba-tiba muncul nama-nama yang tidak hanya menandai eksistensi, tetapi juga menggugat batas. Huiga Ramadan, Radin, Shayaan, Kan Arum, Barra Avicenna, Shanum, Dinda, Elshanum, Inozril, Arka, Vrena, Lina, Dinar Ratri, Aisyah, Shankara, Gibran Ahmad, Aya, Tanisha, Keisha, Ganis, Adam, Garies, Khara, Shalom, Izza Syahla, Kheyna, Mikala, Wayang, Nayla, Aisyah Z, Fatim, Firly, Shanum Hafla, Krystal, Adifa, Reynan, Nayang, Shaqueena, Zea, Shelma, Naufan, Anjani, Reyhan, Kirana, Rahman, Adiba, Nadhira, Rafa, Zunaira, Kania, Sany, Keenara, Callista, Bumi, Gangga, Elea, Al Barra, Alexa—nama-nama ini bukan sekadar daftar karya yang diarsipkan perpustakaan seni rupa dunia, melainkan fragmen masa depan yang sedang mengetuk kesadaran kita hari ini.

Kompetisi “Graines d’artistes du monde entier 2026” dengan tema “La Beauté du Vivant : Faune et Flore” bukan hanya panggung estetika, tetapi juga ruang dialektika antara manusia dan kehidupan itu sendiri. Dalam konteks ini, karya-karya anak-anak tersebut tidak bisa dipandang sebagai ekspresi polos semata. Mereka adalah bahasa alternatif yang mencoba berbicara tentang dunia dengan cara yang mungkin telah lama dilupakan oleh orang dewasa. Ketika lebih dari 7.000 seniman muda di seluruh dunia berpartisipasi, dan hanya 100 yang dipilih, maka kehadiran nama-nama dari Madiun menjadi semacam anomali yang layak direnungkan.

Filsuf Hannah Arendt pernah mengatakan, “Setiap kelahiran membawa kemungkinan awal yang baru.” Dalam konteks ini, anak-anak perupa Madiun bukan sekadar individu yang sedang belajar menggambar, melainkan agen dari kemungkinan baru dalam lanskap seni global. Mereka menghadirkan apa yang mungkin tidak bisa dihadirkan oleh sistem seni yang telah terlalu mapan: kejujuran, keberanian, dan kebebasan yang belum terkontaminasi oleh pasar.

Namun, justru di titik inilah pertanyaan menjadi relevan. Apakah kita, sebagai masyarakat, benar-benar siap menerima kemungkinan baru itu? Ataukah kita hanya akan merayakannya sebagai euforia sesaat tanpa membangun fondasi yang memungkinkan mereka bertumbuh?

Kita sering terjebak dalam logika perayaan, tetapi abai terhadap logika keberlanjutan. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Pierre Bourdieu, “Selera bukanlah sesuatu yang alami, melainkan dibentuk oleh struktur sosial.” Jika demikian, maka bakat luar biasa para perupa cilik ini tidak akan cukup hanya dengan pujian. Ia membutuhkan ekosistem yang mampu mengubah potensi menjadi habitus yang berkelanjutan.

Kota tidak cukup hanya menjadi tempat lahirnya seniman; ia harus menjadi ruang yang memungkinkan seni itu hidup. Galeri, museum, ruang pamer, komunitas, pasar seni, hingga kebijakan publik bukanlah ornamen tambahan, melainkan infrastruktur kultural yang menentukan apakah sebuah bakat akan tumbuh atau layu. Tanpa itu, Madiun berisiko menjadi ironi: kota yang melahirkan seniman global, tetapi gagal merawatnya secara lokal.

Prestasi lima perupa dari Titikan Madiun School of Art—Garies Putri Keishya, Arzea Fazilla Laksono, Muhammad Shayaan Alhanan, Parashayu Gangga Wisangko, dan Mawayang Bumi—yang lolos seleksi internasional dan tahap berikutnya akan diumumkan di Space Argence pada 6 Juni 2026, semakin menegaskan bahwa ini bukan kebetulan. Ini adalah pola. Dan setiap pola selalu menuntut sistem yang mampu menopangnya.

Di titik ini, kita perlu berani menggeser cara pandang. Seni tidak lagi bisa diposisikan sebagai aktivitas pinggiran, melainkan sebagai salah satu fondasi peradaban kota. Sebab seni, dalam esensinya, adalah cara manusia memahami dirinya sendiri. Tanpa seni, kota hanya akan menjadi kumpulan bangunan tanpa makna.

Madiun sedang berada di ambang kemungkinan itu. Ia bisa memilih menjadi kota yang hanya bangga pada prestasi masa lalu, atau menjadi kota yang secara sadar membangun masa depan kulturalnya. Pilihan ini tidak bersifat teknis, melainkan eksistensial. Ia menentukan apakah anak-anak yang hari ini diakui dunia akan tetap berkarya di tanahnya sendiri, atau justru harus mencari ruang di tempat lain untuk bisa bernafas.

Pada akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang anak-anak yang memenangkan kompetisi internasional. Ini adalah tentang bagaimana sebuah kota memandang masa depannya sendiri. Apakah kita melihat mereka sebagai kebanggaan, atau sebagai tanggung jawab?

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan: jika anak-anak ini sudah mampu melihat keindahan dunia melalui karya mereka, apakah kita—yang lebih dewasa—sudah cukup mampu melihat masa depan mereka dengan kesungguhan. (*) 


Fileski W Tanjung adalah penulis, sastrawan, pendidik seni budaya kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis cerpen, puisi, esai, di berbagai media nasional.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist