POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi-Puisi Ngadi Nugroho

RedaksiOleh Redaksi
August 4, 2022
Puisi-Puisi Ngadi Nugroho
🔊

Dengarkan Artikel

ALIF

Sepotong cahaya masuk surga.

Menjadi adam yang terpenjara.

Pelangi tiba-tiba bertanya, itu buah apa namanya.

Benih rindu tertanam berpijar menjadi bianglala.

Siapakah dia?

Surga murung.

Buah-buahan dan tanaman dikumpulkan. Ada yang hilang.

Terjatuh di dunia asing.

Menjelma tunas-tunas sayap kupu-kupu.

Di belahan bumi mana serpihan senyum itu tercecer. Mengisahkan sebuah perjalanan yang lain. Tuhan hanya terdengar suara, tiba-tiba sayup dan menghilang.

Tubuh menyerupa huruf alif mulai belajar membungkuk.

Menyetubuhi fana demi fana.

Tongkat Musa tak bisa sebagai petunjuk, untuk membelah jalan menuju surga.

Oh kerinduan seperti mempurba dalam makam-makam keramat.

Dan aku adalah mayat-mayat.

Mencari jalan pulang.

Berharap, di wangi gerai rambut hawa, aku temukan serpihan peta dari Tuhan. Dunia yang dulu pernah kutinggalkan.

📚 Artikel Terkait

Mantan

Bantuan Sepeda  Untuk Dora Rahmayanti Agar Bisa Akses Sekolah

Rahasia Seru di Ujung Indonesia

Puisi Tabrani Yunis – Review Puisi

Kaliwungu, 2022

SEEKOR KUPU-KUPU YANG TERSESAT

Aku lihat seekor kupu-kupu hinggap di bangku taman kota. Sayapnya berwarna ungu. Bercorak labirin kehidupan. Sepotong gincu mengering di tangan. Namun bibirnya pucat tanpa warna.

Dia tahu malam semakin meninggi. Daun-daun rindu pada rengkuknya. Ingin sekali pulang segera. Menghabiskan sisa gincu yang mulai mengering, karena terdiam terlalu lama. Membawa pulang sebungkus makanan dan seteguk airmata.

Jalan seolah tersesat. Dia terbang menerebos celah jendela mobil mewah. Membisikkan ribuan kesah—airmata jatuh tak terbendung. Sayap-sayap mulai basah.

Daun-daun mulai gugur, wajah-wajah murung dilamun mendung.

Kaliwungu, 2022

MENCARI PUISI

Puisi mengepul bersama asap rokokmu. Seteguk kopi pahit menjadi letupan. Wajah siapakah yang kaugambar. Kemurungan itu sampai ke dadaku.

Peluru berhasil mengonyak jantungmu. Tinggal separuh. Separuhnya lagi kaujadikan puisi. Selongsongnya aku punguti. Ada sepintas nama yang sulit kueja. Sebagian huruf-huruf tergerus korosi. Berkarat, menguar aroma anyir saat berkelindan bersama airmata.

Masih saja kau berkubang bersama kepulan asap rokokmu dan seteguk kopi.

Mencari puisi.

Kaliwungu, 2022

KEMARAU

Daun, ranting kering. Jatuh terlindas ban-ban mobil. Terpelanting pada musim. Matahari terik sampai ke rusuk. Membakar kenangan lapuk. Kepedihan seolah bagai jalan berkerikil. Nancap di jejak kaki rapuh. Baru percaya hujan membawa cintanya. Mengecup daun ranting agar semi kembali. Menumbuhkan sesuatu yang hampir-hampir mati.

Lihatlah! Musim masih jauh berjalan. Mataharipun masih asyik berkejar-kejaran. Ilalang mulai menguning. Di saput angin, bunganya sampai kemari. Kenangan lalu simpanlah di bening matamu. Tak ada kepedihan abadi. Tak ada musim yang tak berganti. Tak ada waktu yang tak bertepi.

Kaliwungu, 2022

MEDITASI

Burung kutilang berkicau di pagi hari. Entah, mungkin ingin mengajariku berzikir bersama kokok ayam. Bukan aku tak ingat surga atau tak takut neraka. Di belahan bumi yang mana rindu ini kukatakan. Mungkin hanya gema yang kaudengar. Dan aku. Di malam larut memilah-milah jalan kebenaran.

Kalau boleh ingin kusadap siulnya. Menjadi huruf-huruf zikir. Dan kugores pergelangan tanganku untuk kumasukkan darahku ke cawanmu. Inilah anggur pertobatan! Telah kupersembahkan di altarmu.

Burung kutilang pagi-pagi buta bertengger di kabel-kabel listrik, di tiang-tiang ruang kepalaku yang bising. Bersama suara kokok ayam menerka diriku yang bukan-bukan. Malaikat datang dengan kepak sayapnya. Mencatat segala kejadian.

Tuhan Maha Tahu.

Kaliwungu, 2022

Tentang Penulis/Penyair:

Ngadi Nugroho, lahir di Semarang, 28 Juni ’78.

Menulis sajak menjadi suatu aktifitas menggugah ruang kesadaran yang menyenangkan. Sajaknya masuk dalam beberapa antologi ( Pujangga Facebook Indonesia, Progo7, Dunia: Penyair Mencatat Ingatan, Lampion Merah Dadu dll ) beberapa pula masuk di media online (Umakalada News, Litera.co.id, Suara Krajan.com, Mbludus.com, Kepul, Riausastra, Pronusantara, Negerikertas, Media Indonesia, Majalah Elipsis, Majalah Sastra Santarang, Sumenep news dll)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Dinamika dan Sejarah Acuan Penetapan Tahun Baru Islam

Dinamika dan Sejarah Acuan Penetapan Tahun Baru Islam

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00