Oleh Ridwan al-Makassary
Dalam sejarah agung penaklukan Islam atas Persia, pada fase awal ekspansi Islam, ada satu peperangan yang namanya begitu simbolis, yaitu Perang Dzatus Salasil (Perang Rantai)di padang Kazimah. Sebuah riwayat menarasikan bahwa rantai itu sengaja dipasang oleh Hormuz, Jenderal Persia,guna mengikat kaki prajuritnya agar tidak ada yang mundur dari medan laga.
Riwayat lain menceritakan rantai itu menyambung tubuh mereka menjadi benteng hidup. Terlepas dari versi yang berbeda, poinnya jelas: rantai itu lahir dari logika yang mengira bahwa semakin berat belenggu di kaki, semakin kuatlah sebuah pasukan berdiri. Singkatnya, ini logika seorang tiran yang takut pada pembelotan, bukan pada musuh di depannya.
Perang dimulai dengan duel antara jenderal Hormuz dan Panglima Khalid bin Walid. Duel, sejatinya, selalu memikat imajinasi sejarah. Ia menghadirkan perang dalam bentuk paling telanjang, yaitu dua tubuh, dua kehendak, dan dua takdir. Namun, di balik setiap duel, sesungguhnya berdiri dua peradaban yang saling menguji arah masa depan.
Hormuz, simbol kekuatan Persia Sasanid yang telah lama mapan, melawan Khalid, representasi kekuatan baru yang lahir dari padang pasir Arabia. Hormuz datang dengan kepercayaan diri seorang pewaris imperium besar.
Memang, Persia pada saat itu tidak saja sebuah negara, melainkan juga peradaban dengan struktur militer, administrasi, dan simbol kekuasaan yang telah teruji berabad-abad. Dalam diri Hormuz, ada keyakinan bahwa sejarah berada di pihaknya. Ia bukan hanya bertarung sebagai individu, tetapi sebagai representasi stabilitas lama yang merasa tak tergoyahkan.
Sebaliknya, Khalid bin Walid datang tanpa beban sejarah panjang kekaisaran. Ia tidak membawa kemewahan institusi, tetapi membawa sesuatu yang acap lebih berbahaya, yaitu keyakinan ideologis yang menyala dan fleksibilitas strategi. Ia adalah produk dari dunia yang belum mapan, tetapi justru karena itu, lebih cair, lebih adaptif, dan lebih berani mengambil risiko.
Dalam banyak catatan, duel ini tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya “adil.” Ada taktik, ada manuver, bahkan ada unsur tipu daya. Sebagian mungkin melihat ini sebagai pelanggaran etika duel klasik. Namun, di sinilah letak pelajaran penting bahwa perang tidak pernah benar-benar tentang kehormatan individu semata. Ia selalu tentang hasil, siapa yang bertahan, dan siapa yang tergusur dari panggung sejarah.
Khalid memahami ini dengan sangat baik. Ia tidak terjebak dalam romantisme duel. Baginya, duel hanyalah salah satu episode dalam perang yang lebih besar. Jika harus menggunakan kecerdikan untuk menang, maka kecerdikan itu menjadi bagian dari strategi.
Dalam perspektif ini, kemenangan bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga tentang kemampuan membaca situasi dan memanfaatkannya.Hormuz, di sisi lain, tampak lebih terikat pada simbolisme kehormatan. Ia masuk ke duel dengan asumsi bahwa ini adalah arena pembuktian personal. Tetapi justru di titik itulah ia kalah. Ia gagal membaca bahwa lawannya tidak bermain dalam aturan yang sama. Khalid tidak hanya bertarung sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari mesin perang yang lebih besar.
Duel ini, dengan demikian, menjadi simbol runtuhnya kepastian lama. Ia mengingatkan kita bahwa dalam sejarah, tidak ada kekuatan yang benar-benar permanen. Setiap imperium, sekuat apa pun, pada akhirnya akan berhadapan dengan kekuatan baru yang lebih gesit, lebih berani, dan lebih siap untuk mendefinisikan ulang aturan permainan.
Duel antara Khalid dan Hormuz tidak hanya milik masa lalu. Ia terus berulang dalam bentuk yang berbeda di dunia modern. Kita melihatnya dalam konflik geopolitik, dalam rivalitas antarnegara, bahkan dalam pertarungan ideologi.
Selalu ada“Hormuz” yang merasa mapan, dan selalu ada “Khalid” yang datang dengan energi baru.
Dan di situlah klimaksnya. Dalam duel satu lawan satu, Hormuz berpikir akan berhadapan dengan seorang prajurit biasa. Namun, Khalid adalah Pedang Allah yang terhunus. Detik-detik itu menggambarkan pertemuan dua dunia: dunia yang percaya bahwa kekuasaan diraih dengan mengikat, dan dunia yang percaya bahwa kemenangan diraih dengan melepaskan ikatan-ikatan semu.
Hormuz, dalam keculasannya, bahkan melanggar aturan duel. Ia menyiapkan pengawalnya untuk menyerang jika ia terdesak. Namun,sejarah berpihak pada keberanian yang jujur. Al-Qa’qa’ bin ‘Amr hadir menepis tipu daya tersebut. Kecurangan, sejatinya,tidak pernah menuai kemenangan.
Perang Dzatus Salasil berakhir dengan kemenangan yang telak pada pihak Khalid. Namun kemenangan itu bukan hanya karena jumlah yang besar atau pedang yang tajam. Karena pihak Khalid mengerti bahwa rantai tak pernah membebaskan, dan juga bahwa kebebasan untuk bergerak, kebebasan untuk berpikir, dan keberanian untuk menghadapi musuh dengan hati yang lapang, adalah senjata paling mematikan.
Pungkasannya, duel antara Khalid bin Walid dan Hormuz bukan hanya kisah heroik tentang siapa yang menang. Ia adalah cermin benggala tentang bagaimana manusia memilih untuk bertarung, bagaimana peradaban memilih untuk berubah, dan bagaimana sejarah, sekali lagi, ditulis dengan tinta darah.

















Komentar