Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ini agak panjang. Yang tak biasa membaca, skip aja. Kenapa panjang, karena perlu banyak data dan fakta untuk menghasilkan narasi ini. Simak dengan cermat, jangan baper, lalu seruput Koptagul, wak!
Pemerintah berteriak “Investasi SDM menuju Indonesia Emas 2045!” sambil menyajikan menu yang bikin anak-anak trauma seumur hidup. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan Presiden Prabowo Subianto ini seharusnya jadi mahakarya kepedulian. Tapi kenyataannya? Ribuan siswa keracunan, SPPG ditutup berjilid-jilid, orang tua diam-diam jadi “koki rumahan darurat”, siswa gen Z berani jadi food vlogger sarkastik di TikTok, dan makanan bergizi berubah jadi sampah organik massal. Lucu? Tragis? Atau keduanya sekaligus?
Kita bingung harus tertawa atau menangis. Atau malah bertepuk tangan karena ini semua “bagian dari proses”?
Kita mulai dari keracunan massal. Sejak diluncurkan 6 Januari 2025, MBG sudah menyumbang puluhan ribu cerita horor pencernaan. KPAI mencatat 12.658 anak di 38 provinsi keracunan sepanjang 2025 saja. JPPI mengumpulkan data hingga awal 2026 mencapai 21.254 korban, bahkan ada yang bilang mendekati 28.000. Gejalanya klasik, muntah, diare, lemas, seperti lagi ikut challenge “siapa tahan makan MBG terlama”.
Pemerintah bilang ini “sangat kecil persentasenya” dibanding miliaran porsi yang sudah disajikan. Benar sih, tapi coba tanya orang tua yang anaknya digotong ke UGD, apakah statistik itu menghibur? Badan Gizi Nasional (BGN) sibuk suspend dan beri pelatihan higiene, tapi kasus tetap muncul seperti jamur di musim hujan.
Lalu, orang tua diam-diam protes, “bawa bekal aja, nak, dari pada keracunan.” Trauma level dewa. Di Tasikmalaya, orang tua bilang “jangan makan dulu ya” sambil trauma berat. Di PALI Sumsel, ada yang bilang blak-blakan: “Ini bukannya meringankan, malah mau membunuh.” Banyak wali murid diam-diam jadi agen bekal rumahan underground. Mereka takut anak kehilangan jatah, tapi lebih takut anak kehilangan kesehatan. Protesnya halus, tapi menusuk, “Makan gratis kok bikin takut makan.”
Kemudian, siswa naik level, food reviewer sarkastik di medsos. Yang paling epik, siswa sekarang berani posting sendiri. Foto menu MBG diunggah dengan caption ala food critic profesional. Dari “lauknya kayak lagi mogok makan” sampai meme “ini bergizi atau bergizi banget buat dokter?”. Ada yang olok-olok lauk mentah, ada yang zoom-in ke benda misterius di piring. BGN sempat dikaitkan isu “larangan posting”, tapi kemudian klarifikasi, “Silakan saja, asal jujur.”
Hasilnya? Konten viral yang bikin kita antara kasihan sama bangga sama anak-anak ini. Mereka bukan cuma korban, tapi sudah jadi influencer kritik tanpa bayaran.
Masuk pada makanan mubazir dan kebosanan massal, “bergizi tapi buang-buang.” Riset FISIP UI (2025-2026) bikin geleng-geleng kepala: 53% siswa kadang-kadang bosan, 15% sering bosan, 6% sangat sering bosan dengan menu MBG. Sayuran sering tersisa (77,9%), alasannya? Rasa tidak enak (55,9%), hambar, atau sudah basi/bau. Survei KPAI bilang 35,2% anak pernah tidak menghabiskan porsi. Di kelas, kadang hanya 4-5 siswa dari 30+ yang benar-benar ompreng habis.
Nuan bayangkan! Program anti-stunting tapi menyumbang gunungan sampah makanan bergizi. Ironis level dewa. Anak kelas menengah atas ogah, anak kelas bawah lebih “legowo” karena mungkin sudah biasa. Tapi tetap saja, makanan yang dibuang itu kan duit rakyat juga.
Yang ini lagi rame, SPPG banyak ditutup, lebih sibuk cari untung? Hingga April 2026, ribuan SPPG kena suspend atau ditutup sementara. Contoh, ada 1.256 unit di Indonesia Timur karena belum punya SLHS dan IPAL. Total ada ribuan yang di-suspend karena standar kebersihan, menu tidak sesuai, atau administrasi amburadul. ICW dan pengamat bilang banyak yang lebih fokus keuntungan dari gizi, pagu Rp15.000 per porsi dipangkas di lapangan, menu jadi minim protein dan variasi.
Belum lagi cerita gaji. Dapur cepat kaya, guru honorer tetap miskin. Ini bagian yang paling bikin orang garuk-garuk kepala sambil ketawa getir. Pemerintah angkat 32.000 pegawai inti SPPG (kepala dapur, ahli gizi, dll) jadi PPPK mulai Februari 2026. Gaji? Golongan III, pokok Rp2,2–3,2 juta plus tunjangan, bisa tembus Rp5–7 juta per bulan untuk posisi strategis. Baru kerja relatif singkat, langsung dapat status dan gaji jutaan.
Sementara guru honorer? Masih ribuan yang mengabdi 10–20 tahun dengan gaji Rp300 ribu sampai Rp2 juta (banyak di bawah itu). Proses pengangkatan PPPK lambat karena formasi terbatas. Bahkan yang sudah PPPK paruh waktu kadang gajinya malah turun setelah hilangnya honor tambahan lama.
Sindiran halus, dapur MBG dapat jalur cepat PPPK bergaji mewah. Sementara guru yang mendidik anak-anak ini setiap hari, masih antre panjang. Prioritas pemerintah mana nih? Atau ini strategi baru, “Lebih baik anak keracunan tapi dapur staff-nya sejahtera”?
Bagaimana pendapat pakar soal MBG ini? Pakar gizi Tan Shot Yen, korban satu saja sudah tidak boleh, apalagi puluhan ribu. Prof. Sri Raharjo (UGM) bilang kegagalan sistemik dari hulu ke hilir. Riset UI tambah, menu kurang variatif, siswa bosan, makanan mubazir. Semua pakar sepakat, evaluasi menyeluruh atau moratorium dulu.
Sekarang pertanyaannya, apakah MBG ini beneran peduli anak bangsa, atau cuma proyek politik yang kelak jadi amunisi berat menjelang Pemilu 2029? Bayangkan calon oposisi nanti kampanye dengan slide foto menu MBG + meme siswa + data keracunan + grafik gaji SPPG vs guru honorer. Judulnya, “Makan Gratis yang Bikin Perut dan Hati Sakit.”
Kita sebagai pembaca bingung. Antara mendukung karena niatnya mulia dan lapangan kerja tercipta? Atau menolak karena eksekusinya kayak komedi satire yang kelewat realistis? Atau diam saja sambil berharap perbaikan besar-besaran?
Program dengan anggaran triliunan ini seharusnya jadi kebanggaan. Tapi kalau ribuan keracunan, trauma massal, posting olok-olok siswa, makanan dibuang, SPPG ditutup, dan ketimpangan gaji tetap dibiarkan, maka MBG berpotensi jadi bumerang super yang balik menghantam citra pemerintahan Prabowo di masa depan.
Investigasi independen, transparansi total, dan perbaikan radikal mendesak dilakukan. Kalau tidak, 2029 nanti kita bisa lihat iklan kampanye, “Jangan sampai anakmu makan gratis… tapi gratis sakit.”
Lucu kan? Atau malah nggak lucu sama sekali? Terserah pembaca mau tertawa, marah, atau mikir, “Ini beneran terjadi di negara kita?”

























Komentar