Oleh: Ilham Mirsal, MA
Dosen STAI Tapaktuan dan Peneliti Sejarah Lokal
Sebelum resmi menjadi sebuah gampong, wilayah Ujung Batee di Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan, hanyalah rimba raya dan semak belukar. Pada masa kejayaan Kerajaan Aceh, kawasan ini sempat menjadi kebun lada, sezaman dengan Kerajaan Tereubangan yang dipimpin oleh Raja Inong Cutma Fatimah.
Berbeda dengan Gampong Mata Ie yang memiliki akar sejarah panjang dengan keberadaan kuta sejak era kerajaan, Ujung Batee baru hadir sekitar tahun 1920–1932.
Awalnya, sekelompok petani dari Sama Dua dan Meukek membuka lahan pertanian di sini. Mereka berladang, lalu bermukim, hingga perlahan terbentuk komunitas. Seiring waktu, semakin banyak masyarakat yang berimigrasi ke wilayah ini.
Pada tahun 1932, masyarakat sepakat menjadikan Ujung Batee sebagai wilayah administrasi tersendiri. Terpilihlah seorang tokoh asal Sama Dua bernama Langkap sebagai keucik perdana. Saat itu, Ujung Batee masih berada di bawah kewedanaan Bakongan, dan masyarakat setempat wajib membayar pajak ke Bakongan.
Selain itu, pendatang dari Meukek turut memegang peran penting dalam kehidupan keagamaan. Tgk. Arsyad ditunjuk sebagai Imam Syiek Gampong pertama, yang bertugas sebagai penyuluh agama. Dari sinilah terbentuk dua pilar awal Gampong Ujung Batee:
- Sama Dua sebagai pengelola pemerintahan,
- Meukek sebagai penggerak pendidikan agama.
Filosofi Nama “Ujung Batee“
Nama gampong ini lahir dari sebuah fenomena alam. Dahulu, di pesisir Ujung Batee terdapat sebuah batu merah besar yang ujungnya menjorok ke laut hingga hampir 100 meter. Batu ini menjadi penanda alam sekaligus penghalang akses menuju Air Pinang.
Warga pesisir yang ingin melintas harus menunggu pasang-surut air laut, lalu berjalan melewati batu tersebut. Karena bentuknya yang khas—ujung batu besar yang menjulur ke laut—maka masyarakat menamakan daerah ini Ujong Batu (dalam logat Jamee).
Namun, seiring perubahan alam, batu merah besar itu perlahan hilang tertimbun pasir laut. Sisa sepanjang 20 meter terakhir hilang sepenuhnya pasca tsunami Aceh 2004. Pasca Konflik Aceh,Kini, masyarakat menyebutnya dengan sebutan Ujung Batee, mengikuti pelafalan bahasa Aceh (Filosofi Keacehan).
Awal Pemukiman di “Ujung Gampong”
Menariknya, permukiman awal justru berada di ujung gampong, tepatnya di kawasan yang kini dikenal dengan nama Dusun Ujung Butun. Dari sinilah rumah-rumah panggung pertama berdiri, kebun-kebun dibuka, dan aktivitas gampong bergerak dari sini.
Penutup
Sejarah singkat ini menunjukkan bahwa Gampong Ujung Batee lahir dari semangat gotong royong dua kelompok masyarakat: petani dari Sama Dua dan Meukek. Dari hutan belantara menjadi ladang, dari ladang menjadi pemukiman, hingga akhirnya berdiri tegak sebagai gampong mandiri.
Kini, Ujung Batee bukan hanya sekadar nama tempat, tetapi simbol perjalanan sejarah—dari rimba raya, batu merah penanda alam, hingga menjadi bagian penting dari mozaik Aceh Selatan.
Hari ini, Ujung Batee telah tumbuh menjadi gampong yang ramai. Dari hutan belukar berubah menjadi hunian, dari batu penanda berubah menjadi identitas. Setiap dusun, menyimpan memori panjang tentang kerja keras para pendahulu.
Sejarah ini bukan hanya milik masa lalu, melainkan cermin bagi generasi kini, bahwa setiap tapak gampong lahir dari doa, keringat, dan tekad yang kuat.
Not:
Tulisan ini dikutip dari berbagai sumber. Mohon koreksi dan tambahan informasi dari masyarakat yang mengetahui sejarah Ujung Batee lebih lengkap.
t






















Komentar