Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu

560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5

Oleh Denny JA

Di sebuah malam yang terlalu panjang untuk disebut malam, seorang anak perempuan memeluk boneka beruang yang sudah kehilangan satu mata.

Ia duduk di lantai beton yang retak, di bawah langit yang tak lagi biru, hanya merah dan hitam oleh api.

Namanya mungkin tak pernah tercatat.

Ia tak tahu siapa yang menembakkan roket. Ia tak tahu mengapa rumahnya lenyap dalam satu ledakan. Yang ia tahu hanya satu hal sederhana: ibunya tadi pagi masih ada, kini tidak lagi.

Di kejauhan, suara sirene terdengar seperti lagu pengantar tidur yang patah. Anak itu tak menangis keras. Ia hanya berbisik pelan, seolah takut mengganggu dunia yang sudah terlalu bising.

“Besok aku sekolah di mana?”

Tak ada yang menjawab.

Di antara reruntuhan, ribuan pertanyaan serupa menggantung di udara yang penuh debu. Pertanyaan yang terlalu polos untuk dunia yang terlalu kejam.

Dan dari reruntuhan itulah, lahir sesuatu yang tak terduga: derita anak-anak Palestina berubah menjadi lagu.

Lagu yang tidak ditulis di studio.
Lagu yang lahir dari kehilangan.

-000-

Sebuah video viral tentang derita anak-anak Palestina beredar luas, diiringi lagu dengan potongan gambar yang mengguncang batin. Yang paling mencolok, tak ada keterangan resmi siapa penulis lirik dan pencipta lagunya.

Lirik itu terdengar seperti suara kolektif anak-anak yang kehilangan masa kecilnya.

“You told us share your toys and play”
“Kalian mengajarkan kami untuk berbagi mainan dan bermain”

“You told us bad things go away”
“Kalian bilang hal buruk akan berlalu”

“But now the classroom has no wall”
“Tapi kini ruang kelas tak lagi punya dinding”

“And no one answers when I call”
“Dan tak ada yang menjawab ketika aku memanggil”

Di sini, ironi berdiri tanpa pelindung. Dunia orang dewasa mengajarkan kebaikan, tetapi gagal melindungi mereka ketika kekerasan datang.

“You said that monsters don’t exist
While holding lightning in your fist”
“Kalian bilang monster tidak ada
Sambil menggenggam petir di tangan kalian”

Lirik ini adalah tuduhan yang tak bisa dibantah. Anak-anak melihat apa yang sering disembunyikan oleh bahasa diplomasi.

Mengapa pengarang lagu ini tak jelas?

Karena ini bukan lagi lagu milik satu orang. Ini adalah gema kolektif. Dalam era digital, karya seperti ini lahir tanpa nama, menyebar tanpa batas, dan hidup dari satu unggahan ke unggahan lain.

Lagu ini menjadi milik penderitaan itu sendiri.

Dalam konflik seperti di Gaza Strip, suara individu sering tenggelam. Yang tersisa hanyalah gema. Dan gema tidak membutuhkan nama.

Anonimitas juga menjadi perlindungan. Di wilayah konflik, suara bisa berbahaya. Maka lagu ini memilih tanpa wajah agar tetap hidup.

“My brother’s sleeping in the stone
He wouldn’t leave his bear alone”
“Saudaraku tertidur di batu
Ia tak mau meninggalkan bonekanya”

Ini bukan metafora. Ini kenyataan yang terlalu nyata untuk disangkal.

Dan ketika lagu berakhir dengan pertanyaan sederhana:

“Why? Just why?”

Dunia tetap diam.

-000-

Sejak perang pecah pada Oktober 2023, anak-anak Palestina menjadi korban dalam skala yang melampaui nalar.

Lebih dari 21.000 anak tewas di Gaza hingga awal 2026. Puluhan ribu lainnya terluka. Banyak di antaranya kehilangan anggota tubuh, penglihatan, atau keluarga.

Sekitar 97 persen sekolah rusak atau hancur. Lebih dari 650.000 anak kehilangan akses pendidikan. Ruang belajar berubah menjadi puing.

Lebih dari satu juta anak membutuhkan dukungan psikologis. Mereka hidup dengan mimpi buruk, kecemasan, dan rasa takut yang tak pernah benar-benar pergi.

Kelaparan menjadi ancaman yang nyata dan terus mendekat. Ratusan ribu anak mengalami malnutrisi.

Seorang anak seharusnya mengenal dunia melalui huruf dan angka. Namun di Gaza, mereka mengenal dunia melalui suara bom, rasa lapar, dan kehilangan.

Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah masa kecil yang diputus di tengah jalan.

-000-

Mengapa Anak-Anak Palestina Tak Terlindungi?

1.  Perang Modern yang Menghapus Batas Sipil dan Militer

Perang abad ini tidak lagi mengenal garis depan. Kota menjadi medan tempur. Rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsi berada di tengah pusaran konflik.

Di Gaza, kepadatan yang ekstrem membuat hampir tak ada ruang yang benar-benar aman. Anak-anak tak punya tempat untuk lari.

Teknologi militer berkembang cepat, tetapi perlindungan sipil tertinggal. Hukum ada, tetapi sering kalah oleh kekuatan dan kekerasan.

Akibatnya, anak-anak bukan lagi korban sampingan. Mereka menjadi pusat dari penderitaan itu sendiri.

Perang tidak hanya merenggut nyawa. Ia merenggut masa depan.

-000-

2.  Kebuntuan Politik Global

Konflik ini bukan sekadar konflik lokal. Ia adalah simpul kepentingan dunia.

Banyak negara terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Kepentingan bertabrakan, solusi tertunda.

Di Perserikatan Bangsa-Bangsa, resolusi sering berhenti di meja perundingan. Diplomasi berjalan lambat, sementara kehancuran berjalan cepat.

Dalam kebuntuan ini, anak-anak menjadi yang paling tak terdengar.

Mereka tidak memilih perang. Mereka tidak duduk di ruang negosiasi. Namun mereka yang menanggung akibatnya.

Dunia tahu. Dunia melihat. Tetapi dunia belum cukup bergerak.

-000-

3.  Runtuhnya Infrastruktur Dasar Kehidupan

Perlindungan anak tidak hanya berarti menghentikan kekerasan. Ia berarti menjaga kehidupan tetap berjalan.

Di Gaza, hampir semua sistem itu runtuh.

Rumah sakit kehilangan listrik. Air bersih menjadi langka. Makanan sulit dijangkau. Sekolah hancur.

Ketika infrastruktur runtuh, hidup berubah menjadi sekadar bertahan.

Anak-anak kehilangan lebih dari rasa aman. Mereka kehilangan pola hidup yang memungkinkan mereka tumbuh.

Tanpa sekolah, tanpa gizi, tanpa stabilitas, masa depan mereka terhenti.

Peradaban diukur dari cara melindungi yang paling lemah. Di sini, ukuran itu gagal.

-000-

Dua buku ini membuka cakrawala yang lebih dalam tentang tragedi ini.

1.  The Hundred Years’ War on Palestine, ditulis Rashid Khalidi, 2020

Buku ini menelusuri konflik Israel-Palestina sebagai proses panjang kolonialisme modern. Khalidi menunjukkan bahwa penderitaan Palestina bukan peristiwa sesaat, melainkan hasil dari struktur sejarah yang berlapis.

Ia membongkar bagaimana sejarah sering ditulis dari sudut pandang kekuasaan. Dalam narasi itu, anak-anak menghilang sebagai manusia, dan hanya tersisa sebagai angka.

Ia juga menegaskan ketimpangan mendasar dalam konflik ini. Bukan dua pihak yang setara, melainkan dua realitas yang berbeda.

Baca Juga

Yang satu memiliki kekuasaan. Yang lain bertahan dalam kehilangan.

Dalam konteks ini, anak-anak tidak hanya menjadi korban hari ini, tetapi juga pewaris luka sejarah.

Yang hilang bukan hanya tanah. Yang hilang adalah kesinambungan hidup.

-000-

2.  Gaza: An Inquest into Its Martyrdom, ditulis oleh Norman Finkelstein, 2018

Buku ini menggambarkan Gaza sebagai wilayah yang hidup dalam tekanan yang terus-menerus.

Finkelstein menggunakan pendekatan yang ketat dan berbasis data. Ia menunjukkan bahwa penderitaan di Gaza bukan kebetulan, tetapi pola yang berulang.

Blokade, operasi militer, dan kegagalan global menciptakan kondisi yang membuat kehidupan sipil rapuh.

Bagi anak-anak, ini berarti perang tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan ketika senyap, mereka tetap hidup dalam keterbatasan.

Mereka tumbuh dalam ruang yang sempit, baik secara fisik maupun batin.

Gaza bukan hanya tempat konflik. Ia telah menjadi sistem yang memproduksi luka.

-000-

Anak-anak Palestina tidak menulis sejarah. Mereka hanya mewarisinya dalam bentuk luka.

Namun dari reruntuhan, mereka menciptakan sesuatu yang tak bisa dihancurkan.

Suara. Suara itu menjadi lagu. Lagu yang terus bertanya, tanpa lelah, tanpa jeda. Mengapa?

ADVERTISEMENT

Dan selama dunia belum mampu menjawab dengan keadilan, lagu itu tidak akan pernah berhenti.

Di setiap nada, seharusnya ada janji dunia untuk tak lagi berpaling. Jika suara ini hanya kita dengar lalu kita lupakan, maka diam kita ikut menjadi kekerasan.

Jika dunia terus diam, lagu ini tak akan berhenti. Ia akan diwariskan dari reruntuhan ke reruntuhan, sampai suatu hari, yang tersisa bukan Palestina, tetapi rasa bersalah umat manusia.***

Jakarta, 3 April 2026

REFERENSI

1.  The Hundred Years’ War on Palestine

Rashid Khalidi
Metropolitan Books
2020

2.  Gaza: An Inquest into Its Martyrdom

Norman G. Finkelstein
University of California Press
2018

-000-

Ratusan esai Denny JA soal
filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/18WtMiCsqY/?mibextid=wwXIfr
Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sependapat dengan pandangan yang disampaikan.
Penulis
Redaksi
Majalah Perempuan Aceh

Apa pendapat Anda?

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.