Oleh Teuku Masrizar
Wardani nama pemberian orang tuanya, tapi banyak warga tak tahu nama asli, lazim dipanggil Ancu Dani. Ancu artinya paman, hal ini tentu dipengaruhi akulturasi Aceh-Minang yang menjadi salah satu akar budaya masyarakat di pantai Barat Selatan Aceh.
Ancu tak muda lagi, usianya menginjak 53 tahun, jalanpun sudah sedikit goyang, kabarnya pernah diserang stroke 5 tahun silam. Walau kondisi demikian, dia tetap bekerja normal dan hidup bahagia dengan istri dan tiga anak laki-lakinya.
Ancu Dani cukup dikenal di kampungnya melebihi popularitas Donald Trump. bagaimana tidak, hampir saban hari dia memastikan kebersihan kampungnya, di luar tugas pokoknya sebagai juru kunci TPS.
Sosoknya ramah, santai, mudah bergaul dan humoris, enak diajak ngobrol dan bersemangat, bertolak belakang dengan karakter Donald Trump yang egois atas hasratnya menumbangkan pemerintah iran.
Sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dengan Ancu Dani. Sama dengan warga lain di Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan, hanya semangatnya yang luar biasa. Lihat saja dia hanya lulusan Sekolah Dasar, karena keinginan maju yang kuat dia kejar paket B dan C sampai tuntas.
Sejak 20 tahun silam Ancu Dani bekerja sebagai tenaga kebersihan pada Kantor Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Aceh Selatan (sekarang Dinas Lingkungan Hidup), dia telah menunjukkan integritas dan tanggung jawab atas tugas yang diembannya. Saat ini diberikan tanggung jawab sebagai juru kunci TPS di Lhok Bengkuang.
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, dia mendapat dukungan dari istri dan ketiga anaknya, Farrel Wahyudi masih kelas 2 SMA, Sihan Risky kelas 2 SMP dan Hafis Arisqi yang masih duduk kelas 4 SD. Ketiga anak Ancu Dani selalu terlihat membantunya sepulang sekolah. Istrinya Darmayanti juga setia dalam mempersiapkan kebutuhan rumah tangga.
“Harusnya sampah sudah terpilah dari sumbernya (rumah tangga), tidak tercampur” ungkap Ancu Dani, Saat melihat banyaknya timbulan sampah di TPS (Tempat Pengumpulan Sementara). “Yang dibawa ke TPS hanya sampah rumah tangga, bukan sisa bangunan, bukan pohon mangga, jambu dan kelapa” imbuh Ancu Dani, saat melihat tumpukan sampah menggunung di TPS.
Kerja yang dilakoni Ancu Dani tidak mudah, tidak semua orang mampu melakukannya. Berhubungan dan kontak langsung dengan sampah, kotor dan bau menyatu dalam aroma tak sedap. Jangankan hidung, pakaianpun lengket dengan bau sampah. Namun itu tetap dilakukan Ancu Dani untuk menyambung hidup dan wujud integritas serta tanggung jawabnya dalam bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.
Jelang akhir Ramadan 1447 H, Ancu Dani mendapatkan berkah. Dia diangkat P3K Paruh Waktu bersama dengan teman-teman lainnya. Dia terlihat semakin bersemangat dengan pakaian Korpri yang dikenakan. Dia mengajak saya berfoto seraya membisikkan ke telinga “Kapan saya diangkat PNS” harapnya.@
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















