Dengarkan Artikel
Oleh Ridwan al-Makassary
Memasuki pekan keempat perang antara Israel-AS vs Iran, tidak ada tanda-tanda perang akan berhenti berdenyut segera. Upaya negosiasi dengan tuntutan dua kubu, yang tampaknya tidak bisa didamaikan-membuat mesin perang terus bekerja dan negosiasi diplomatik buntu.
Selain itu, Israel menetapkan tujuan yang berat karena berkehendak mengganti rezim teokratis yang dipimpin Mullah di Iran. Berbicara tentang rezim teokratis Iran, maka perlu mengingat sejarah Revolusi Iran 1979 sebagai titik pijak pemerintahan teokratis yang kini berperang melawan Israel-AS. Namun, tulisan ini tidak mengulas perang Israel-AS vs Iran, melainkan akan mengulas secara singkat beberapa pelajaran dari Revolusi Iran 1979 yang mengubah wajah Iran selama beberapa dekade terakhir.
Sejarah mewartakan bahwa Iran sebelum 1979 merupakan negeri dengan peradaban panjang yang merentang ribuan tahun. Namun, Mohammad Reza Pahlavi, sang Syah, yang menggambarkan dirinya sebagai pewaris takhta Cyrus yang Agung, mengubah Iran menjadi taman yang ditata rapi dengan cara Barat. Sang Syah memamerkan modernisasi ala Barat, membiarkan perempuan berjemur di pantai utara Teheran, serta mengundang pesta mewah di Persepolis dengan hidangan dari Maxim’s Paris.
Namun, di balik semua itu, SAVAK (polisi rahasia) bekerja seperti mesin penyiksa modern untuk menjamin stabilitas politik dalam negeri. Mereka tak segan menangkap, mencabut kuku, menyetrum kemaluan, dan menghilangkan orang tanpa jejak untuk siapapun yang menentang. Syah dan para penjilat di sekelilingnya mengetahui hal tersebut. Semua diam, oleh karena perut mereka kenyang dan rekening mereka penuh di bank Swiss.
Syah menyebut dirinya sebagai “Bayang-Bayang Tuhan” di muka bumi. Dia percaya bahwa modernisasi ala Barat adalah obat kemajuan negara. Namun, dia lupa bahwa rakyatnya, termasuk santri di Qom, pedagang di bazar, buruh di Teheran memiliki denyut nadi yang berdetak dengan irama yang berbeda. Rakyat biasa banyak yang kelaparan, bukan hanya pada nasi dan roti, namun juga pada harga diri dan martabat. Dan, ketika seorang kakek berjubah hitam dari pengasingan di Paris mulai berbicara, getarannya bukan sekadar politik, namun, ruh yang menggerakkan.
Imam Khomeini tidak datang dengan tank dan senjata tempur. Dia datang dengan kaset rekaman pidatonya yang diselundupkan ke tanah Iran, dengan keyakinan bahwa kekuasaan yang tak berpijak pada keadilan adalah kekufuran. Khomeini mengingatkan bahwa rakyat bukanlah pion di papan catur para penguasa. Dia menyatakan bawha“Kekuasaan absolut adalah kemusyrikan”. Dan, di Iran yang Syah anggap sebagai kerajaan modern, kalimat itu meledak seperti bom.
Pidato Khomeini telah memobilisasi milyunan orang turun ke jalan. Mereka tidak membawa senjata, namun dengan tekad mengubah situasi kediktatoran yang merundung tanah air mereka. Para wanita berkerudung hitam, pekerja di bazar, mahasiswa sekuler, bahkan tentara yang mulai membelot bersuatu-padu di bawah komando Khomenei di pengasingan. Singkatnya, mereka menyatukan sesuatu yang oleh Syah anggap mustahil, yaitu persatuan lintas kelas dan lintas ideologi. Akhirnya, Khomenei tidak sekadar menggulingkan seorang diktator, melainkan juga membangun imajinasi bahwa “mustahil” itu hanya kata bagi orang yang takut mati.
Revolusi Iran mengajarkan bahwa kekuasaan itu rapuh. Pada 16 Januari 1979, Syah yang digdaya, yang pasukannya dilatih CIA, yang negaranya dijuluki “Polisi Teluk”, ternyata tidak berkutik menghadapi gerakan massa Iran yang berani mati. Syah, yang berkuasa selama 37 tahun, terbang meninggalkan Iran dan membawa tanah dari Iran dalam koper, yang konon untuk menghalau rindu di pengasingan. Drama terakhir penguasa yang lupa bahwa kekuasaan adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, bukan sebagai warisankeluarga. Dan ironisnya, Syah meninggal dunia di Kairo, sendirian dan diasingkan bahkan oleh negara-negara yang dulu memujanya. Sungguh ironi nan tragis bahwa sekuat-kuatnya penguasa, dia tetaplah manusia yang kakinya bisa dingin dan gemetar oleh ketakutan.
Revolusi Iran tidak hanya soal menggulingkan Syah. Ia juga tentang kisah tragedi sesudahnya. Soal bagaimana semangat revolusi kerap kali dimakan oleh birokrasi yang korup, konspirasi, perang delapan tahun dengan Irak, dan juga kekuasaan baru yang mulai lupa pada suara rakyat kecil. Iran pasca-revolusi tidaklah seindah poster-poster yang ditempel di tembok Teheran. Ia berdarah-darah dan berduka. Ia menunjukkan bahwa merebut istana itu satu hal, namun merawat keadilan adalah perkara yang jauh lebih sulit. Bahwa revolusi bisa melahap anak-anaknya sendiri, itu adalah pelajaran pahit yang jarang kita simak.
Syah Iran dulu berkata, “Dengarkanlah suaraku, bukan rakyat jelata”. Kini suaranya hanya bergema di makam yang sepi di Kairo. Sementara rakyat biasa di Iran, meski masih bergulat dengan hiruk-pikuk masalahnya sendiri, telah membuktikan bahwa sejarah tidak pernah diam. Ia bergerak seperti air bah ketika saluran keadilan tersumbat.
Revolusi itu pahit. Ia memakan korban, mengoyak sendi-sendi masyarakat, dan tak ada jaminan ia berakhir dengan kebahagiaan. Karenanya, jenis kekuasaan apapun, baik monarki, demokrasi atau teokrasi, harus selalu diawasi. Bahwa rakyat bukanlah ternak yang bisa digiring sesuka hati.
Revolusi Iran mengajarkan satu hal lagi yaitu bahwa manusia tidak hanya hidup dari nasi dan roti. Mereka hidup dari harga diri dan martabat. Ketika kekuasaan merendahkan, meludahi akal sehat, dan membiarkan korupsi menjadi budaya, maka rakyat akan bangkit, bahkan dengan cara yang mungkin tak pernah diduga oleh penyelenggara negara.
Imam Khomeini berkata bahwa “Ketika seseorang kehilangan harapan, ia akan menemukan kekuatan yang tak terduga”. Itulah yang terjadi pada revolusi Iran 1979. Dan, itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, ketika sumur kesabaran rakyat telah benar-benar kering.
Karena diamnya rakyat bisa berarti dua hal, yaitu sedang menghela napas, atau sedang menyusun langkah. Ini pelajaran penting bagi setiap pemerintah negara manapun dan kapanpun untuk selalu mendengar kata hati rakyatnya. Tanpa itu, jangan salahkan jika “sejarah mengulang dirinya sendiri” (history repeats itself).
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










