HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Revolusi Iran 1979: Beberapa Pelajaran Terbaik 

Ridwan al-Makassary by Ridwan al-Makassary
Maret 26, 2026
in Iran, # Revolusi Iran, Artikel
Reading Time: 5 mins read
0
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ridwan al-Makassary

Memasuki pekan keempat perang antara Israel-AS vs Iran, tidak ada tanda-tanda perang akan berhenti berdenyut segera. Upaya negosiasi dengan tuntutan dua kubu, yang tampaknya tidak bisa didamaikan-membuat mesin perang terus bekerja dan negosiasi diplomatik buntu.

Baca Juga

3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Maret 26, 2026

Eskalasi dan Keseimbangan: Menimbang Ulang Kekuatan, Pembalasan, dan Perdamaian di Timur Tengah

Maret 26, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Iran Menyala; Islam Yes, Sains Yes

Maret 26, 2026

Selain itu, Israel menetapkan tujuan yang berat karena berkehendak mengganti rezim teokratis yang dipimpin Mullah di Iran. Berbicara tentang rezim teokratis Iran, maka perlu mengingat sejarah Revolusi Iran 1979 sebagai titik pijak pemerintahan teokratis yang kini berperang melawan Israel-AS. Namun, tulisan ini tidak mengulas perang Israel-AS vs Iran, melainkan akan mengulas secara singkat beberapa pelajaran dari Revolusi Iran 1979 yang mengubah wajah Iran selama beberapa dekade terakhir.

Sejarah mewartakan bahwa Iran sebelum 1979 merupakan negeri dengan peradaban panjang yang merentang ribuan tahun. Namun, Mohammad Reza Pahlavi, sang Syah, yang menggambarkan dirinya sebagai pewaris takhta Cyrus yang Agung, mengubah Iran menjadi taman yang ditata rapi dengan cara Barat. Sang Syah memamerkan modernisasi ala Barat, membiarkan perempuan berjemur di pantai utara Teheran, serta mengundang pesta mewah di Persepolis dengan hidangan dari Maxim’s Paris.

Namun, di balik semua itu, SAVAK (polisi rahasia) bekerja seperti mesin penyiksa modern untuk menjamin stabilitas politik dalam negeri. Mereka tak segan menangkap, mencabut kuku, menyetrum kemaluan, dan menghilangkan orang tanpa jejak untuk siapapun yang menentang. Syah dan para penjilat di sekelilingnya mengetahui hal tersebut. Semua diam, oleh karena perut mereka kenyang dan rekening mereka penuh di bank Swiss.

Syah menyebut dirinya sebagai “Bayang-Bayang Tuhan” di muka bumi. Dia percaya bahwa modernisasi ala Barat adalah obat kemajuan negara. Namun, dia lupa bahwa rakyatnya, termasuk santri di Qom, pedagang di bazar, buruh di Teheran memiliki denyut nadi yang berdetak dengan irama yang berbeda. Rakyat biasa banyak yang kelaparan, bukan hanya pada nasi dan roti, namun juga pada harga diri dan martabat. Dan, ketika seorang kakek berjubah hitam dari pengasingan di Paris mulai berbicara, getarannya bukan sekadar politik, namun, ruh yang menggerakkan.

Imam Khomeini tidak datang dengan tank dan senjata tempur. Dia datang dengan kaset rekaman pidatonya yang diselundupkan ke tanah Iran, dengan keyakinan bahwa kekuasaan yang tak berpijak pada keadilan adalah kekufuran. Khomeini mengingatkan bahwa rakyat bukanlah pion di papan catur para penguasa. Dia menyatakan bawha“Kekuasaan absolut adalah kemusyrikan”. Dan, di Iran yang Syah anggap sebagai kerajaan modern, kalimat itu meledak seperti bom.

Pidato Khomeini telah memobilisasi milyunan orang turun ke jalan. Mereka tidak membawa senjata, namun dengan tekad mengubah situasi kediktatoran yang merundung tanah air mereka. Para wanita berkerudung hitam, pekerja di bazar, mahasiswa sekuler, bahkan tentara yang mulai membelot bersuatu-padu di bawah komando Khomenei di pengasingan. Singkatnya, mereka menyatukan sesuatu yang oleh Syah anggap mustahil, yaitu persatuan lintas kelas dan lintas ideologi. Akhirnya, Khomenei tidak sekadar menggulingkan seorang diktator, melainkan juga membangun imajinasi bahwa “mustahil” itu hanya kata bagi orang yang takut mati.

Revolusi Iran mengajarkan bahwa kekuasaan itu rapuh. Pada 16 Januari 1979, Syah yang digdaya, yang pasukannya dilatih CIA, yang negaranya dijuluki “Polisi Teluk”, ternyata tidak berkutik menghadapi gerakan massa Iran yang berani mati. Syah, yang berkuasa selama 37 tahun, terbang meninggalkan Iran dan membawa tanah dari Iran dalam koper, yang konon untuk menghalau rindu di pengasingan. Drama terakhir penguasa yang lupa bahwa kekuasaan adalah amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, bukan sebagai warisankeluarga. Dan ironisnya, Syah meninggal dunia di Kairo, sendirian dan diasingkan bahkan oleh negara-negara yang dulu memujanya. Sungguh ironi nan tragis bahwa sekuat-kuatnya penguasa, dia tetaplah manusia yang kakinya bisa dingin dan gemetar oleh ketakutan.

Revolusi Iran tidak hanya soal menggulingkan Syah. Ia juga tentang kisah tragedi sesudahnya. Soal bagaimana semangat revolusi kerap kali dimakan oleh birokrasi yang korup, konspirasi, perang delapan tahun dengan Irak, dan juga kekuasaan baru yang mulai lupa pada suara rakyat kecil. Iran pasca-revolusi tidaklah seindah poster-poster yang ditempel di tembok Teheran. Ia berdarah-darah dan berduka. Ia menunjukkan bahwa merebut istana itu satu hal, namun merawat keadilan adalah perkara yang jauh lebih sulit. Bahwa revolusi bisa melahap anak-anaknya sendiri, itu adalah pelajaran pahit yang jarang kita simak.

Syah Iran dulu berkata, “Dengarkanlah suaraku, bukan rakyat jelata”. Kini suaranya hanya bergema di makam yang sepi di Kairo. Sementara rakyat biasa di Iran, meski masih bergulat dengan hiruk-pikuk masalahnya sendiri, telah membuktikan bahwa sejarah tidak pernah diam. Ia bergerak seperti air bah ketika saluran keadilan tersumbat.

ADVERTISEMENT

Revolusi itu pahit. Ia memakan korban, mengoyak sendi-sendi masyarakat, dan tak ada jaminan ia berakhir dengan kebahagiaan. Karenanya, jenis kekuasaan apapun, baik monarki, demokrasi atau teokrasi, harus selalu diawasi. Bahwa rakyat bukanlah ternak yang bisa digiring sesuka hati.

Revolusi Iran mengajarkan satu hal lagi yaitu bahwa manusia tidak hanya hidup dari nasi dan roti. Mereka hidup dari harga diri dan martabat. Ketika kekuasaan merendahkan, meludahi akal sehat, dan membiarkan korupsi menjadi budaya, maka rakyat akan bangkit, bahkan dengan cara yang mungkin tak pernah diduga oleh penyelenggara negara.

Imam Khomeini berkata bahwa “Ketika seseorang kehilangan harapan, ia akan menemukan kekuatan yang tak terduga”. Itulah yang terjadi pada revolusi Iran 1979. Dan, itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, ketika sumur kesabaran rakyat telah benar-benar kering. 

Karena diamnya rakyat bisa berarti dua hal, yaitu sedang menghela napas, atau sedang menyusun langkah. Ini pelajaran penting bagi setiap pemerintah negara manapun dan kapanpun untuk selalu mendengar kata hati rakyatnya. Tanpa itu, jangan salahkan jika “sejarah mengulang dirinya sendiri” (history repeats itself). 

Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 233x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 137x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237
Ridwan al-Makassary

Ridwan al-Makassary

Baca Juga

3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322
#Perang

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Maret 26, 2026
#Hegemoni

Eskalasi dan Keseimbangan: Menimbang Ulang Kekuatan, Pembalasan, dan Perdamaian di Timur Tengah

Maret 26, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?
Artikel

Iran Menyala; Islam Yes, Sains Yes

Maret 26, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588
Cerita Perjalanan

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com