HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 20, 2026
in Artikel, Kekerasan, Literasi
Reading Time: 4 mins read
0
Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Novita Sari Yahya 

Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa generasi yang tidak mampu membaca dan menulis akan mudah ditipu sering kali terasa sederhana, tetapi maknanya dalam. Ia bukan hanya berbicara soal kemampuan dasar, melainkan tentang bagaimana literasi menentukan cara seseorang memahami dunia. Dalam konteks yang lebih luas, rendahnya literasi bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat merespons konflik dan perbedaan.

Baca Juga

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh

Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Sumpah dari Puncak  Meratus

Sumpah dari Puncak Meratus

Maret 20, 2026

Hal ini terasa relevan ketika melihat berbagai peristiwa kekerasan yang muncul belakangan ini. Dari media sosial hingga kehidupan sehari-hari, kekerasan seolah hadir dalam banyak bentuk. Perundungan daring yang berujung pada depresi, kekerasan dalam rumah tangga, tawuran pelajar, hingga tindakan main hakim sendiri.  Semuanya seperti menjadi bagian dari realitas yang terus berulang. Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang bisa menjadi korban hanya karena informasi yang belum tentu benar.

Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa kekerasan tidak lagi bisa dipahami sekadar sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia tampak seperti pola yang terus terbentuk dan diwariskan. Dalam kajian sosial, kondisi semacam ini sering disebut sebagai culture of violence, ketika kekerasan perlahan dianggap sebagai cara yang “biasa” untuk menyelesaikan masalah atau meluapkan emosi.

Di ruang digital, situasinya tidak kalah rumit. Media sosial memberikan kebebasan untuk berbicara, tetapi di sisi lain juga membuka ruang bagi agresi. Komentar kasar, serangan personal, hingga penyebaran kebencian sering kali terjadi tanpa banyak pertimbangan. Anonimitas membuat batas antara ekspresi dan kekerasan menjadi semakin tipis. Banyak orang merasa aman menyerang, karena tidak berhadapan langsung dengan dampaknya.

Jika ditarik lebih jauh, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang yang membentuk masyarakat. Pada masa kolonial, akses pendidikan yang terbatas dan tekanan ekonomi yang berat menciptakan ketimpangan yang cukup dalam. Dalam situasi seperti itu, konflik tidak selalu memiliki ruang penyelesaian yang adil. Tidak heran jika dalam jangka panjang terbentuk pola respons yang lebih emosional dan reaktif.

Pandangan tentang masyarakat pribumi yang dianggap “kasar” atau “mudah marah” oleh sebagian penulis kolonial sebenarnya perlu dibaca dengan hati-hati. Narasi tersebut sering kali mengabaikan fakta bahwa kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan justru dipelihara oleh sistem kolonial itu sendiri. Dalam kondisi tertekan, reaksi keras sering kali bukan pilihan, melainkan akibat dari situasi yang tidak memberi banyak alternatif.

Dalam perspektif sosiologi, pemikiran Johan Galtung tentang kekerasan struktural membantu menjelaskan hal ini. Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik; ia juga bisa hadir dalam sistem yang tidak adil misalnya dalam akses pendidikan, ekonomi, atau hukum. Sementara itu, Michel Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bekerja secara halus melalui norma dan kontrol sosial, yang tanpa disadari dapat melegitimasi kekerasan.

Perkembangan teknologi digital kemudian mempercepat penyebaran informasi, tetapi tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk memverifikasinya. Akibatnya, disinformasi mudah menyebar dan memicu reaksi yang berlebihan. Dalam situasi seperti ini, literasi menjadi sangat penting bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan menilai informasi secara kritis.

Di sisi lain, paparan terhadap konten kekerasan yang terus-menerus juga berpengaruh pada cara pandang masyarakat. Ketika kekerasan sering ditampilkan tanpa konteks yang memadai, ia bisa terasa normal. Perlahan, sensitivitas terhadap kekerasan pun menurun.

Kekerasan berbasis gender juga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak berdiri sendiri. Banyak kasus berakar pada ketimpangan relasi kuasa  dan budaya patriarki yang sudah berlangsung lama. Korban tidak hanya menghadapi kekerasan itu sendiri, tetapi juga stigma yang membuat mereka semakin terpinggirkan.

Pendidikan sebenarnya memiliki peran penting untuk memutus rantai ini. Namun dalam praktiknya, ruang pendidikan belum sepenuhnya bebas dari kekerasan. Perundungan, senioritas, hingga tekanan sosial masih terjadi. Dalam hal ini, pemikiran Pierre Bourdieu menjadi relevan, bahwa lembaga pendidikan kadang tanpa sadar justru mereproduksi ketimpangan yang ada di masyarakat.

ADVERTISEMENT

Selain itu, lingkungan keluarga juga tidak bisa diabaikan. Cara seseorang belajar menyelesaikan konflik sering kali berawal dari rumah. Jika kekerasan menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari, maka pola tersebut berpotensi berulang di masa depan.

Pertanyaannya, apakah kondisi ini bisa berubah? Jawabannya tidak sederhana, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Perubahan membutuhkan proses yang panjang, dimulai dari penguatan literasi, pendidikan yang lebih humanis, hingga penegakan hukum yang adil. Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa konflik tidak harus diselesaikan dengan kekerasan.

Pada akhirnya, persoalan budaya kekerasan bukan hanya tentang tindakan, tetapi juga tentang cara berpikir. Selama kekerasan masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar, maka akan terus berulang. Karena itu, perubahan harus dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu cara kita memahami, merespons, dan memperlakukan satu sama lain.

Daftar Pustaka

Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Castells, M. (2010). The rise of the network society. Malden, MA: Wiley-Blackwell.

Foucault, M. (1977). Discipline and punish: The birth of the prison. New York: Pantheon Books.

Galtung, J. (1969). Violence, peace, and peace research. Journal of Peace Research, 6(3), 167–191.

KBR. (2023). Viral berujung fatal: Bahaya disinformasi influencer.

Kompas. (2023). Budaya kekerasan dan tantangan masyarakat modern. Jakarta: Kompas.

Nasution, S. (2018). Sosiologi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Toer, P. A. (1995). Bumi manusia. Jakarta: Hasta Mitra.

UNESCO. (2013). Media and information literacy: Policy and strategy guidelines. Paris: UNESCO.

World Health Organization. (2010). Violence prevention: The evidence. Geneva: WHO.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 202x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 171x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 165x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 160x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh
Analisis

Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?
# Koruptor

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
#Korban Bencana

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026
Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global
#Sosok

Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global

Maret 20, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
POTRET
Media Perempuan Kritis & Cerdas
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com