Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Lailatul Qadr adalah malam di mana alam semesta dipenuhi oleh cahaya pengetahuan Ilahi, sehingga waktu terasa padat dan sempit oleh keluasan rahmat yang turun.” — Ibnu Arabi(1165-1245), Futuhat al-Makkiyyah(Terjemahan Revolusi Shalat, 2010).
Lailatul Qadar dalam fenomena cahaya dapat dipahami sebagai pertemuan antara wahyu ilahi dan kesadaran manusia yang terbuka pada terang spiritual.
Etimologi kata ini, laylah yang berarti malam dan al-qadr yang berarti ketetapan, kemuliaan, atau kekuatan, menunjukkan bahwa ia bukan sekadar malam biasa, melainkan malam yang penuh makna transendental.
Surah Al-Qadr menegaskan bahwa malam ini lebih baik daripada seribu bulan, karena Al-Qur’an diturunkan dan para malaikat turun membawa ketetapan Allah.
Hadis-hadis sahih menambahkan dimensi pengampunan, di mana Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam ganjil, dengan janji bahwa dosa-dosa akan diampuni bagi mereka yang beribadah dengan iman dan penuh harap.
Ibn ‘Arabi dalam Futūhāt al-Makkiyyah menafsirkan Lailatul Qadar sebagai pengalaman batiniah yang melampaui waktu.
Ia melihat malam kemuliaan ini sebagai simbol perjumpaan antara dimensi transenden dengan kesadaran manusia, di mana turunnya malaikat dan ruh adalah manifestasi dari limpahan cahaya ilahi yang menenangkan hati.
Dalam pandangannya, Lailatul Qadar adalah revolusi batin, sebuah momen penyucian jiwa yang menghapus cinta harta dan egoisme, menggantinya dengan kasih sayang dan keterhubungan dengan Allah.
Jika perspektif Ibn ‘Arabi dipadukan dengan fenomenologi cahaya M.A.W. Brouwer dalam Psikologi Fenomenologis(1984), maka Lailatul Qadar dapat dilihat sebagai pengalaman manusia dalam terang kesadaran.
Brouwer(1923-1991), fenomenolog, psikolog, dan budayawan, menekankan bahwa kesadaran bekerja seperti cahaya yang menyingkap dan memberi makna pada segala sesuatu.
Cahaya bukan sekadar fenomena fisik, melainkan metafora keterbukaan manusia terhadap realitas.
Dalam refleksinya, cahaya memungkinkan manusia keluar dari kegelapan ketidaktahuan menuju ruang pemahaman, sehingga setiap pengalaman manusia selalu bercahaya dan membuka kemungkinan untuk ditafsirkan.
Dengan demikian, Lailatul Qadar dalam fenomena cahaya adalah simbol revolusi spiritual yang menyatukan wahyu, kesadaran, dan pengalaman manusia.
Ia bukan hanya malam istimewa dalam kalender Islam, melainkan perjalanan dari kegelapan menuju terang, dari kebingungan menuju pemahaman, dan dari keterikatan menuju kebebasan batin.
Malam ini menjadi horizon keterbukaan, di mana manusia dapat merasakan kehadiran Allah secara langsung, sekaligus meneguhkan iman dalam dimensi sosial dan eksistensial.
coverlagu:
Lagu religi terbaru Fluella berjudul Menggapai Malam Lailatul Qodar resmi dirilis pada 13 Februari 2026 sebagai bagian dari album Dalam Sujudku.
Lagu ini diproduksi oleh Fluella dengan lirik dan komposisi dari HAF, dan kini tersedia di berbagai platform musik digital.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini







