Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Sore itu, langit Madiun berwarna jingga lembut. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tetapi cahaya yang memantul dari aspal Jalan Panglima Sudirman seolah memberi tanda bahwa waktu sedang bergerak menuju sebuah perjumpaan yang tak biasa.
Saya, Fileski Walidha Tanjung, hadir sebagai seorang penulis yang diundang oleh Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Madiun dalam agenda Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama yang berkolaborasi dengan panitia Paskah 2026. Undangan ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggilan untuk menyaksikan bagaimana kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling sederhana: berbagi takjil di tepi jalan.
Ketika jam menunjukkan pukul 16.00, beberapa orang mulai berdiri di depan gereja, membawa bungkusan makanan kecil dan minuman manis. Di tengah lalu lintas kota yang riuh, kegiatan berbagi takjil menjadi sebuah simbol yang terasa sangat filosofis. Dalam dunia yang terbelah oleh konflik geopolitik, tindakan kecil itu seperti sebuah puisi tanpa kata. Ia berbicara tentang harapan yang masih mungkin tumbuh dari tanah yang retak.
Saya melihat Haris Saputra, koordinator Gusdurian Madiun, berdiri dengan senyum hangat. Di sisi lain, Pendeta Brahm Kharismatius menyapa masyarakat yang lewat dengan gestur yang menenangkan.
Hadir juga Titus Tri Wibowo dari JKM, Septian Kharisma dari HVM, Yakobus Wasit, Marsidi, Edi Chris, serta Ritha Christiana sebagai sekretaris kegiatan, bergerak dalam harmoni yang natural. Mereka semua tampak seperti bagian dari narasi yang lebih besar: narasi tentang persaudaraan lintas iman.
Di tengah peristiwa kecil itu, saya teringat pada pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant, yang pernah mengatakan bahwa “kedamaian abadi bukanlah mimpi kosong, melainkan tugas moral umat manusia.” Kutipan ini terasa relevan ketika kita menyadari bahwa dunia hari ini sedang berada dalam pusaran konflik yang mengerikan.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana politik global sering kali dipenuhi logika kekuasaan yang melampaui rasionalitas kemanusiaan. Perang Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan juga menegaskan bahwa modernitas tidak serta-merta membawa kita pada peradaban yang lebih bijak.
Sementara itu, rivalitas ekonomi antara Tiongkok dan Amerika Serikat menciptakan garis imajiner yang memisahkan dunia menjadi kutub Timur dan Barat. Dalam situasi seperti ini, kegiatan berbagi takjil di sebuah kota kecil seperti Madiun mungkin tampak sepele. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap narasi kebencian global.
Setelah azan magrib berkumandang, kami memasuki ruang basement gereja untuk berbuka puasa bersama, dilanjutkan sholat magrib untuk umat muslim. Ada sesuatu yang terasa sangat intim dalam suasana itu. Orang-orang yang datang dari latar belakang keyakinan berbeda duduk dalam satu atap, menyantap kudapan yang sama, meneguk air yang sama. Saya merasakan bahwa sekat-sekat identitas mulai mencair.
Diskusi kebangsaan yang kemudian berlangsung tidak hanya menjadi forum intelektual, tetapi juga ruang batin untuk saling memahami. Dalam percakapan itu, kami berbicara tentang Indonesia yang sedang menghadapi berbagai gejolak. Kesenjangan sosial yang kian terasa, serta arus informasi digital yang sering memicu polarisasi, semuanya menjadi topik yang tak bisa dihindari.
Namun di tengah kegelisahan itu, saya teringat pada kata-kata seorang cendekiawan Prancis, Albert Camus, yang menulis bahwa “di tengah musim dingin, aku akhirnya menemukan bahwa dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan.” Kutipan ini seolah menjadi metafora bagi kondisi bangsa kita.
Indonesia mungkin sedang mengalami musim dingin dalam banyak aspek. Tetapi jika kita mau jujur, masih ada musim panas dalam bentuk solidaritas sosial, gotong royong, dan tradisi toleransi yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Acara di GKJW Jemaat Madiun sore ini adalah salah satu bukti bahwa musim panas itu belum padam.
Saya melihat bagaimana kegiatan lintas iman seperti ini mampu menepis prasangka yang selama ini tumbuh dalam ruang-ruang ketidaktahuan. Banyak konflik horizontal di masyarakat sebenarnya berakar pada miskomunikasi dan manipulasi informasi.
Ketika orang tidak pernah bertemu secara langsung dengan mereka yang berbeda, maka imajinasi tentang “yang lain” sering diisi oleh stereotip. Padahal perjumpaan adalah cara paling efektif untuk membongkar ketakutan. Dalam konteks ini, gereja, masjid, vihara, dan tempat ibadah lainnya seharusnya tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi juga laboratorium sosial tempat nilai kemanusiaan diuji dan diperkuat.
Kita hidup di zaman ketika provokasi dapat menyebar lebih cepat daripada empati. Satu unggahan di media sosial bisa memicu kemarahan kolektif yang tak terkendali. Dalam situasi seperti itu, kegiatan sederhana seperti berbagi takjil justru menjadi bentuk literasi sosial yang konkret.
Ia mengajarkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik yang harus dihidupi. Ia juga mengingatkan bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi potensi kreatif untuk membangun peradaban yang lebih inklusif.
Diskusi kebangsaan yang berlangsung di basement gereja sore itu membuka ruang pemikiran alternatif bagi saya. Saya mulai melihat bahwa kerukunan antar umat beragama bukan hanya soal menjaga stabilitas sosial, tetapi juga strategi kultural untuk menghadapi krisis global.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia memiliki modal historis berupa pengalaman hidup berdampingan dalam perbedaan. Modal ini seharusnya tidak disia-siakan. Jika kita gagal merawatnya, maka kita justru akan menambah daftar panjang konflik yang sudah mengoyak kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Malam semakin turun ketika acara berakhir. Lampu-lampu kota menyala seperti bintang-bintang kecil yang jatuh ke bumi. Saya berjalan pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada harapan, tetapi juga kegelisahan. Saya bertanya dalam hati, apakah peristiwa kecil seperti ini cukup kuat untuk melawan arus besar kebencian global. Namun mungkin pertanyaan itu sendiri adalah bagian dari proses menjadi manusia yang terus belajar.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kerukunan bukanlah tujuan yang bisa dicapai sekali jadi. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keberanian untuk membuka diri. Ia menuntut kesediaan untuk mendengar, bahkan ketika kita tidak sepakat. Ia mengajak kita untuk merawat kemanusiaan dalam bentuk-bentuk yang paling sederhana. Mungkin kita tidak bisa menghentikan perang di belahan dunia lain. Tetapi kita bisa memastikan bahwa di kota kecil tempat kita tinggal, persaudaraan tetap memiliki rumah.
Lalu pertanyaan yang tersisa bagi kita semua adalah ini: di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik dan kepentingan, masihkah kita memiliki keberanian untuk menjadi sunyi sejenak, menyalakan lilin toleransi, dan percaya bahwa kemanusiaan pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju terang. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











