Dengarkan Artikel
Oleh Riazul Iqbal
Penulis buku Hikayat Musang
Aceh sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat intelektual di Nusantara. Pada masa Kesultanan Aceh, wilayah ini bukan hanya pusat perdagangan dan dakwah Islam, tetapi juga pusat produksi karya tulis keagamaan dan intelektual. Banyak Jamiah di Aceh, tempat belajar agama Islam yang menarik orang dari berbagai daerah untuk menempuh jalan dakwah dan menyebarkan agama ke seluruh Indonesia, Malaysia hingga Thailand.
Ulama Aceh melahirkan kitab-kitab penting yang dipelajari di dunia Melayu, seperti karya Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf as-Singkili, dan Hamzah Fansuri. Tradisi penulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh pernah memiliki budaya literasi yang kuat, khususnya dalam bidang keagamaan, tasawuf, hukum Islam, dan sastra.
Kitab-kitab tersebut tidak hanya beredar di Aceh, tetapi juga di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat keilmuan Islam pada abad ke-16 hingga ke-18. Tradisi menulis kala itu didorong oleh ekosistem intelektual yang hidup: keberadaan dayah, ulama yang produktif, patronase kerajaan, serta jaringan ulama internasional.
Namun, jika melihat kondisi saat ini, budaya menulis di Aceh tampak mengalami perubahan. Tradisi menulis yang dahulu kuat perlahan bergeser ke budaya tutur. Diskusi, ceramah, pengajian, dan penyampaian ilmu secara lisan lebih dominan dibandingkan produksi karya tulis. Hal ini terlihat dari masih terbatasnya jumlah buku yang lahir dari penulis Aceh setiap tahunnya, baik dalam bidang akademik, sastra, maupun pemikiran.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari masalah literasi nasional. Data dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa selama periode 2015–2020 terdapat sekitar 404.037 judul buku yang diterbitkan di Indonesia, dengan sekitar 8.969 penerbit aktif. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasio produksi buku masih sangat rendah, yaitu sekitar 1 judul buku untuk 514 orang penduduk. (perpusnas.go.id)
📚 Artikel Terkait
Selain itu, produksi buku di Indonesia juga sangat terkonsentrasi di wilayah tertentu. Tiga provinsi dengan jumlah terbitan buku terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan DI Yogyakarta
Provinsi-provinsi tersebut menjadi pusat penerbitan karena memiliki ekosistem literasi yang lebih matang: banyak penerbit, perguruan tinggi, komunitas literasi, serta industri kreatif yang mendukung penulisan dan penerbitan buku. (perpusnas.go.id)
Data lain menunjukkan bahwa sebagian besar penerbit buku juga terpusat di wilayah tersebut. Sebagai contoh, DKI Jakarta memiliki ratusan penerbit aktif dan menjadi pusat industri penerbitan nasional, disusul provinsi-provinsi besar di Pulau Jawa seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. (id.scribd.com)
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan literasi antarwilayah di Indonesia. Daerah-daerah di luar pusat penerbitan nasional, termasuk Aceh, masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya menulis yang produktif.
Padahal Aceh memiliki modal sejarah dan kultural yang sangat kuat. Tradisi intelektual dayah, budaya diskusi agama, serta sejarah panjang ulama penulis sebenarnya merupakan fondasi yang dapat dihidupkan kembali. Yang diperlukan adalah membangun kembali ekosistem literasi: komunitas penulis, penerbit lokal, dukungan akademik dari perguruan tinggi, serta kebijakan pemerintah daerah yang mendorong lahirnya karya tulis.
Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Berbagai lomba literasi dan program membuat buku dan pelatihan menulis. Komunitas literasi juga banyak lahir di Aceh seperti Forum Aceh Menulis (FAMe) yang sudah mengadakan ratusan kali kelas menulis di berbagai kabupaten di Aceh.
Kelas membaca tak kalah banyaknya, setiap dwimingguan ada Arisan Buku di T36 Taman Sari, Sisi Buku dan Aceh BookParty setiap minggu, ada juga Bibliopedia gagasan dari Relawan Remaja 3R, Teduh Community juga hadir kadang-kadang.
Menghidupkan kembali budaya menulis di Aceh bukan hanya soal menerbitkan buku, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi intelektual yang pernah menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu di dunia Melayu. Jika dahulu ulama Aceh menulis kitab untuk generasi setelahnya, maka hari ini generasi Aceh memiliki tanggung jawab yang sama: menuliskan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan untuk masa depan.
Dengan demikian, menguatkan budaya menulis di Aceh bukan sekadar proyek literasi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali identitas intelektual Aceh sebagai tanah para ulama dan penulis.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






