• Latest
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - b6b8c931 3abc 4ec5 9340 2207d9b14876 | Aceh | Potret Online

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Aceh | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Redaksi by Redaksi
Maret 10, 2026
in Aceh, Budaya Menulis, Literasi, POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - b6b8c931 3abc 4ec5 9340 2207d9b14876 | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Riazul Iqbal

Penulis buku Hikayat Musang

Aceh sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat intelektual di Nusantara. Pada masa Kesultanan Aceh, wilayah ini bukan hanya pusat perdagangan dan dakwah Islam, tetapi juga pusat produksi karya tulis keagamaan dan intelektual. Banyak Jamiah di Aceh, tempat belajar agama Islam yang menarik orang dari berbagai daerah untuk menempuh jalan dakwah dan menyebarkan agama ke seluruh Indonesia, Malaysia hingga Thailand.

Baca Juga
  • PESTA ITU TELAH USAI
  • Keseruan bersepeda dan sejuta manfaatnya

 Ulama Aceh melahirkan kitab-kitab penting yang dipelajari di dunia Melayu, seperti karya Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf as-Singkili, dan Hamzah Fansuri. Tradisi penulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh pernah memiliki budaya literasi yang kuat, khususnya dalam bidang keagamaan, tasawuf, hukum Islam, dan sastra.

Kitab-kitab tersebut tidak hanya beredar di Aceh, tetapi juga di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat keilmuan Islam pada abad ke-16 hingga ke-18. Tradisi menulis kala itu didorong oleh ekosistem intelektual yang hidup: keberadaan dayah, ulama yang produktif, patronase kerajaan, serta jaringan ulama internasional.

Baca Juga
  • Sajak – Sajak Ina Nur Fazlina
  • Apa Kabar? November!

Namun, jika melihat kondisi saat ini, budaya menulis di Aceh tampak mengalami perubahan. Tradisi menulis yang dahulu kuat perlahan bergeser ke budaya tutur. Diskusi, ceramah, pengajian, dan penyampaian ilmu secara lisan lebih dominan dibandingkan produksi karya tulis. Hal ini terlihat dari masih terbatasnya jumlah buku yang lahir dari penulis Aceh setiap tahunnya, baik dalam bidang akademik, sastra, maupun pemikiran.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari masalah literasi nasional. Data dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa selama periode 2015–2020 terdapat sekitar 404.037 judul buku yang diterbitkan di Indonesia, dengan sekitar 8.969 penerbit aktif. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasio produksi buku masih sangat rendah, yaitu sekitar 1 judul buku untuk 514 orang penduduk. (perpusnas.go.id)

Baca Juga
  • Melacurkan Bait-Bait Puisi
  • Di Antara Bunyi Palu dan Mesin Tua

Selain itu, produksi buku di Indonesia juga sangat terkonsentrasi di wilayah tertentu. Tiga provinsi dengan jumlah terbitan buku terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan DI Yogyakarta

Provinsi-provinsi tersebut menjadi pusat penerbitan karena memiliki ekosistem literasi yang lebih matang: banyak penerbit, perguruan tinggi, komunitas literasi, serta industri kreatif yang mendukung penulisan dan penerbitan buku. (perpusnas.go.id)

Data lain menunjukkan bahwa sebagian besar penerbit buku juga terpusat di wilayah tersebut. Sebagai contoh, DKI Jakarta memiliki ratusan penerbit aktif dan menjadi pusat industri penerbitan nasional, disusul provinsi-provinsi besar di Pulau Jawa seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. (id.scribd.com)

Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan literasi antarwilayah di Indonesia. Daerah-daerah di luar pusat penerbitan nasional, termasuk Aceh, masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya menulis yang produktif.

Padahal Aceh memiliki modal sejarah dan kultural yang sangat kuat. Tradisi intelektual dayah, budaya diskusi agama, serta sejarah panjang ulama penulis sebenarnya merupakan fondasi yang dapat dihidupkan kembali. Yang diperlukan adalah membangun kembali ekosistem literasi: komunitas penulis, penerbit lokal, dukungan akademik dari perguruan tinggi, serta kebijakan pemerintah daerah yang mendorong lahirnya karya tulis.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Berbagai lomba literasi dan program membuat buku dan pelatihan menulis. Komunitas literasi juga banyak lahir di Aceh seperti Forum Aceh Menulis (FAMe) yang sudah mengadakan ratusan kali kelas menulis di berbagai kabupaten di Aceh.

Kelas membaca tak kalah banyaknya, setiap dwimingguan ada Arisan Buku di T36 Taman Sari, Sisi Buku dan Aceh BookParty setiap minggu, ada juga Bibliopedia gagasan dari Relawan Remaja 3R, Teduh Community juga hadir kadang-kadang. 

Menghidupkan kembali budaya menulis di Aceh bukan hanya soal menerbitkan buku, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi intelektual yang pernah menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu di dunia Melayu. Jika dahulu ulama Aceh menulis kitab untuk generasi setelahnya, maka hari ini generasi Aceh memiliki tanggung jawab yang sama: menuliskan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan untuk masa depan.

Dengan demikian, menguatkan budaya menulis di Aceh bukan sekadar proyek literasi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali identitas intelektual Aceh sebagai tanah para ulama dan penulis.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - 8644bb2e dc66 415e aaab b72f88ea8434 | Aceh | Potret Online

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com