• Latest
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - b6b8c931 3abc 4ec5 9340 2207d9b14876 | Aceh | Potret Online

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
667109a2-c370-4108-8a9c-7dcb1a0a1d44

Normalisasi “Chatting” Tanpa Batas: Pergeseran Makna Khalwat di Era Digital

April 10, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Aceh | Potret Online

Dari Instrumen ke Otoritas: Ketika Algoritma Menggeser Kedaulatan Keputusan Manusia

April 10, 2026
Ilustrasi korban perempuan mengalami tekanan dan diskriminasi akibat pelecehan seksual di media sosial

Diskriminasi terhadap Korban Pelecehan Seksual di Media Sosial

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - b6b8c931 3abc 4ec5 9340 2207d9b14876 | Aceh | Potret Online

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Redaksi by Redaksi
Maret 10, 2026
in Aceh, Budaya Menulis, Literasi, POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Riazul Iqbal

Penulis buku Hikayat Musang

Aceh sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat intelektual di Nusantara. Pada masa Kesultanan Aceh, wilayah ini bukan hanya pusat perdagangan dan dakwah Islam, tetapi juga pusat produksi karya tulis keagamaan dan intelektual. Banyak Jamiah di Aceh, tempat belajar agama Islam yang menarik orang dari berbagai daerah untuk menempuh jalan dakwah dan menyebarkan agama ke seluruh Indonesia, Malaysia hingga Thailand.

Baca Juga:
  • Cut Nyak Dhien, Akan Sangat Kecewa
  • Perempuan di Warung Kopi
  • Aceh di Persimpangan

Baca Juga

Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
Perempuan Aceh mengenakan hijab sedang menulis di buku dalam suasana komunitas, mencerminkan semangat literasi dan pemberdayaan perempuan desa

Kerinduan Perempuan Aceh untuk Menulis: Dari Dibungkam Menjadi Bersuara

April 9, 2026
a2391549-f3ef-4b26-9189-776553e6c1b7

Sajak Pulo Lasman Simanjuntak

April 9, 2026

 Ulama Aceh melahirkan kitab-kitab penting yang dipelajari di dunia Melayu, seperti karya Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf as-Singkili, dan Hamzah Fansuri. Tradisi penulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh pernah memiliki budaya literasi yang kuat, khususnya dalam bidang keagamaan, tasawuf, hukum Islam, dan sastra.

Kitab-kitab tersebut tidak hanya beredar di Aceh, tetapi juga di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat keilmuan Islam pada abad ke-16 hingga ke-18. Tradisi menulis kala itu didorong oleh ekosistem intelektual yang hidup: keberadaan dayah, ulama yang produktif, patronase kerajaan, serta jaringan ulama internasional.

Namun, jika melihat kondisi saat ini, budaya menulis di Aceh tampak mengalami perubahan. Tradisi menulis yang dahulu kuat perlahan bergeser ke budaya tutur. Diskusi, ceramah, pengajian, dan penyampaian ilmu secara lisan lebih dominan dibandingkan produksi karya tulis. Hal ini terlihat dari masih terbatasnya jumlah buku yang lahir dari penulis Aceh setiap tahunnya, baik dalam bidang akademik, sastra, maupun pemikiran.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Aceh, tetapi juga menjadi bagian dari masalah literasi nasional. Data dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa selama periode 2015–2020 terdapat sekitar 404.037 judul buku yang diterbitkan di Indonesia, dengan sekitar 8.969 penerbit aktif. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasio produksi buku masih sangat rendah, yaitu sekitar 1 judul buku untuk 514 orang penduduk. (perpusnas.go.id)

Selain itu, produksi buku di Indonesia juga sangat terkonsentrasi di wilayah tertentu. Tiga provinsi dengan jumlah terbitan buku terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan DI Yogyakarta

Provinsi-provinsi tersebut menjadi pusat penerbitan karena memiliki ekosistem literasi yang lebih matang: banyak penerbit, perguruan tinggi, komunitas literasi, serta industri kreatif yang mendukung penulisan dan penerbitan buku. (perpusnas.go.id)

Data lain menunjukkan bahwa sebagian besar penerbit buku juga terpusat di wilayah tersebut. Sebagai contoh, DKI Jakarta memiliki ratusan penerbit aktif dan menjadi pusat industri penerbitan nasional, disusul provinsi-provinsi besar di Pulau Jawa seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. (id.scribd.com)

Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan literasi antarwilayah di Indonesia. Daerah-daerah di luar pusat penerbitan nasional, termasuk Aceh, masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya menulis yang produktif.

Padahal Aceh memiliki modal sejarah dan kultural yang sangat kuat. Tradisi intelektual dayah, budaya diskusi agama, serta sejarah panjang ulama penulis sebenarnya merupakan fondasi yang dapat dihidupkan kembali. Yang diperlukan adalah membangun kembali ekosistem literasi: komunitas penulis, penerbit lokal, dukungan akademik dari perguruan tinggi, serta kebijakan pemerintah daerah yang mendorong lahirnya karya tulis.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Berbagai lomba literasi dan program membuat buku dan pelatihan menulis. Komunitas literasi juga banyak lahir di Aceh seperti Forum Aceh Menulis (FAMe) yang sudah mengadakan ratusan kali kelas menulis di berbagai kabupaten di Aceh.

Kelas membaca tak kalah banyaknya, setiap dwimingguan ada Arisan Buku di T36 Taman Sari, Sisi Buku dan Aceh BookParty setiap minggu, ada juga Bibliopedia gagasan dari Relawan Remaja 3R, Teduh Community juga hadir kadang-kadang. 

Menghidupkan kembali budaya menulis di Aceh bukan hanya soal menerbitkan buku, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi intelektual yang pernah menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu di dunia Melayu. Jika dahulu ulama Aceh menulis kitab untuk generasi setelahnya, maka hari ini generasi Aceh memiliki tanggung jawab yang sama: menuliskan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan untuk masa depan.

Dengan demikian, menguatkan budaya menulis di Aceh bukan sekadar proyek literasi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali identitas intelektual Aceh sebagai tanah para ulama dan penulis.

SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Artikel

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”
Psikologi Sosial

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da
BIngkai Remaja

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722
Artikel

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Next Post
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis? - 8644bb2e dc66 415e aaab b72f88ea8434 | Aceh | Potret Online

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com