Dengarkan Artikel
Oleh Aswan Nasution
Ramadan kembali menyapa. Dan seperti biasa, sebuah fenomena tahunan kembali mekar lebih subur, malah menjadi trend : Bukber atau Berbuka bersama. Bagi sebagian orang, kalender Ramadan bukan lagi berisi jadwal tadarus, melainkan deretan koordinat lokasi restoran yang sudah dipesan sejak Nisfu Sya’ban.
Ada semacam urgensi eksistensial bahwa jika Anda tidak muncul di satu foto bersama circle sekolah atau rekan kantor, maka kesalehan sosial Anda dianggap cacat permanen.
Dulu, esensi berbuka itu sederhana. Membatalkan puasa, syukur-syukur ada kurma, lalu salat Magrib. Selesai. Sekarang? Bukber berubah menjadi operet keruwetan.
Mulai dari menentukan lokasi yang harus “strategis” (yang artinya macetnya sama rata dari segala arah), tempatnya harus “estetik” (biar kalau di-post di Instagram tidak memalukan silsilah keluarga), sampai menu yang harus mewah.
Kita terjebak dalam pusaran diskusi grup WhatsApp yang lebih alot dari negosiasi gencatan senjata. Ironis, bukan? Ramadan yang seharusnya menjadi madrasah untuk menahan diri, malah berubah menjadi festival mengobral nafsu. Kita dilatih sederhana selama belasan jam, namun mendadak berubah menjadi monster kelaparan saat azan berkumandang.
Cobalah di perhatikan paket All You Can Eat (AYCE) saat Ramadan? Rumah makan atau Cafe yang biasanya sepi, mendadak memasang spanduk besar-besar: “Paket Berkah Ramadan”. Berkah bagi pemilik modal, tentunya, tapi bagi perut kita? Itu musibah yang tersamar.
Otak kita ini penipu ulung saat lapar. Saat perut kosong, ia berbisik: “Kamu sanggup makan kambing guling satu ekor, tujuh macam takjil, dan tiga porsi nasi goreng.” Maka kita pun kalap. Kita pesan tujuh macam takjil hanya untuk membatalkan puasa yang sebenarnya cukup dengan segelas air putih.
Saat bukber di luar rumah, perhatian kita dipaksa beralih pada parade penganan yang menggoda mata. Kita mengoleksi piring di meja seolah-olah sedang menabung untuk masa depan, padahal setelah tiga suapan nasi, perut sudah menyerah. Hasilnya? Mubazir.
📚 Artikel Terkait
Kita membuang makanan atas nama “merayakan kemenangan” seharian berpuasa. Di rumah, hal ini mungkin terjadi, tapi di tempat bukber, potensinya naik 500 persen karena ada faktor gengsi dan “mumpung”.
Mari kita jujur: Kapitalisme itu cerdas. Ia tidak melarang kita beribadah. Ia justru senang kalau kita rajin ibadah, asal setiap sujud dan puasa kita ada versi komersialnya.
Kapitalisme menggunakan senjata paling mematikan abad ini: FOMO (Fear of Missing Out). Takut ketinggalan tren. Bukber bukan lagi soal silaturahmi, tapi soal ritual wajib “fotbar” (foto bareng) lalu segera diunggah ke Story. Ini adalah panggung pembuktian sosial. Kalau Anda tidak ikut, Anda dianggap tidak solid. Kalau menolak, dibilang ansos (antisosial).
Akhirnya, banyak orang datang ke acara bukber bukan karena rindu dengan kawan lamanya, tapi karena takut dianggap “hilang dari peredaran”. Kita rela menguras dompet demi status sosial yang—kalau mau jujur—tidak penting-penting amat bagi keselamatan di akhirat. Kita membayar mahal hanya untuk duduk satu meja, lalu masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri setelah makanan habis.
Lalu ada masalah teknis yang lebih filosofis: Waktu. Waktu berbuka ke Magrib itu sempit sekali. Ibarat napas pendek setelah lari maraton. Di tempat bukber, kita sering dihadapkan pada pilihan simalakama. Mau salat Magrib dulu? Kursi yang susah payah Anda pesan bisa jadi raib atau “dijajah” piring orang lain. Mau makan dulu? Kita cenderung makan dengan terburu-buru, menyiksa kerongkongan dengan nasi berat demi mengejar waktu salat.
Padahal, pola makan yang benar itu ada seninya. Rasulullah mengajarkan yang ringan dulu—takjil, air putih—lalu salat. Makan nasi? Nanti saja setelah tarawih. Tapi di panggung bukber kapitalis, pola ini rusak total. Kita menghajar nasi secepat kilat karena takut waktu Magrib habis atau takut kehilangan momen mengobrol. Perut kembung, salat pun jadi tidak khusyuk karena napas terasa sesak oleh rendang yang belum sempat dikunyah sempurna.
Bukber sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah ketika kita membiarkan dompet dan esensi ibadah kita didekte oleh tren dan rasa takut akan penilaian manusia. Kita tidak perlu membuktikan hubungan sosial yang baik lewat tagihan restoran yang membengkak.
Silaturahmi yang sejati tidak butuh cahaya lampu chandelier atau paket AYCE yang mahal. Ia hanya butuh hati yang hadir dan telinga yang mau mendengar, bahkan jika itu hanya ditemani segelas teh hangat dan gorengan di teras rumah.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi pion dalam papan catur komersialisasi agama. Kembalikan meja buka puasa menjadi tempat sujudnya syukur, bukan mimbar pamer kemewahan. Karena pada akhirnya, yang dicatat oleh malaikat bukanlah berapa banyak “like” di foto bukber Anda, melainkan seberapa tulus Anda berbagi rasa syukur tanpa harus membuat dompet menjerit ketakutan. Selamat berbuka, dengan sadar dan sederhana.
Penulis :
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






