Dengarkan Artikel
Oleh Abdi Salam
Di berbagai penjuru Nusantara, kita pasti menemukan berbagai kepribadian manusia yang memiliki perbedaan yang begitu mencolok, baik dari segi fisik maupun cara berfikir. Sayangnya pemikiran menjadi aturan pertama dalam segala hal.
Akhir-akhir ini kita sering menemukan cek-cok yang terjadi antara pro pemerintah dengan orang yang oposisi. Muncul dua pertanyaan, Apakah yang pro harus selalu pro? Apakah yang kontra harus selalu kontra?
Di sosial media kerap terjadi perdebatan antara pro pemerintah dengan anak Abah. Anak Abah? Iya, sekarang kata “oposisi” telah diganti dengan “anak Abah” semua yang mengkritik sekarang sudah berlebel “anak Abah”. Padahal jika kita kembali ke masa pilpres, ada 3 orang yang mencalonkan diri sebagai presiden, namun sayangnya yang satu lagi tidak begitu dipermasalahkan.
Kerap kita lihat para penggemar atau pendukung dari keduabelah pihak melupakan satu unsur, yaitu kefanatikan. Para penggemar merasa apapun yang dilakukannya atau kebijakan oleh orang yang mereka gemari adalah kebenaran mutlak tanpa kelemahan atau kesalahan.
Kefanatikan “anak Abah” ialah mereka merasa bahwa Anis adalah nabi yang harus mereka bela, bahkan saat Anis Baswedan melakukan blunder ada beberapa “anak Abah” yang berusaha membenarkan kesalahan itu dengan iming-iming kita membutuhkan pemimpin yang pintar dalam berfikir.
📚 Artikel Terkait
Tidak hanya itu Anis Baswedan pernah mengeluarkan pendapat bahwa ia tidak akan pernah menjadi bagian dari orang yang berlawanan dengan Prabowo, namun sayangnya itu hanya OMON-OMON dalam dunia politik.
Kefanatikan pendukung Prabowo lebih sadis. Mereka merasa Prabowo adalah Rasul yang wajib dibela dan diikuti. Yang paling sering kita liat adalah kritik mengenai MBG. Pendukung Prabowo berusaha membela lewat jalur terbukanya lapangan kerja di sekitaran SPPG.
Jika ada yang keracunan maka yang salah orang dapur bukan CI I O MBG. Tidak hanya itu saat banjir yang terjadi di Sumatra akhir tahun 2025, pendukung Prabowo membela dengan dasar bahwa penyebab utama dari banjir bukan karena lahan sawit yang meningkat, tetapi akibat cuaca yang begitu ekstrim.
Tapi mereka lupa, bahwa Prabowo adalah orang yang sangat tertarik untuk membabat hutan agar menciptakan lahan sawit yang asri dan indah. Tidak hanya itu, pendukung Prabowo juga melupakan bahwa Prabowo juga pernah menjadi penghianat saat pilpres 2019 ia harus bersaing dengan bapak Jokowi dan saat kalah beliau tidak tahan menjadi oposisi dan menerima jabatan sebagai Menhan, bukan kah itu sebuah penghianat bagi orang yang mendukung beliau pada saat itu? Namun pembelaan dari Prabowo ” kita harus bersatu untuk bangsa ini”.
Saya membangun opini ini untuk kita, rakyat, masyarakat dan generasi emas agar kita tidak menjadi orang yang fanatik. Biarkan kefanatikan itu menjadi milik para buzzer di negeri yang damai ini.
biodata
Nama: Abdi Salam
Pekerjaan:Mahasiswa USK jurusan Pendidikan bahasa Indonesia
Domisili: Banda Aceh
Banda Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






