• Latest
KEPADA PARA GURU KAMI

KEPADA PARA GURU KAMI

Juni 30, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

KEPADA PARA GURU KAMI

Redaksiby Redaksi
Juni 30, 2022
Reading Time: 2 mins read
KEPADA PARA GURU KAMI
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Nurdin F.Joes:

Belum reda takut kami kepadamu
Ketika engkau menghardik dengan keras
saat kami telat tiba di sekolah.
Kami tak berani menjelaskan
bahwa kami lebih dahulu ke ladang
mengatur tata air di sawah
agar padi tak gagal panen
agar nanti kami dapat beli buku.

Masih kecut wajah kami
ketika engkau keras membentak
karena kami tidak pakai sepatu
menjejak kaki di taman pendidikan.
Kami tak kuasa menjelaskan
orangtua kami tak kuasa membelinya.

Masih terasa takut sampai hari ini
ketika engkau sangat tegas bersuara
bahwa begitu kotor baju sekolah kami.
Tak ada bahasa menjelaskan
kami harus lebih dahulu memberi makan
hewan-hewan peliharaan kami
seperti kerbau dan sapi
dan saat dijual menjelang lebaran
kami dapat beli pakaian sekolah yang baru.

Masih belum hilang dalam ingatan
dan terus membayang-bayang
betapa bebal otak kami
tak pandai berhitung
dua kali dua berapa jumlahnya
dan dua tambah dua berapa seharusnya
padahal itu hitungan sederhana
tapi engkau tetap sabar mendampingi kami
dan tekun mengajari.

Seperti baru kemarin ini terjadi
engkau ajarkan cara membaca
“Ini Budi, ini Ibu Budi, dan ini Bapak Budi”
kami mengeja dengan payah dan terbata
tapi engkau sabar mendampingi
dan sabar mengajari.

Seperti kemarin baru terjadi
engkau ajari pelajaran agama
kami mengeja alif, ba, ta, tsa
huruf-huruf Al Quran
pada sikap wajahmu yang teduh
kami mengejanya dalam rintik peluh.

Hari ini anak-anakmu wahai guru
banyak yang jadi teladan
izinkan kami untuk mengenang
betapa engkau keras berkorban
mengubah dunia mengubah zaman

Dalam derai airmata
kami memberi hormat kepadamu
membungkuk dan mencium tangan
antara kita tak pernah ada perpisahan

Jakarta, 25 November 2019

 

Nurdin F.Joes:
*BILA GURU TELAH TIADA*

Bila guru telah tiada
kami mengantarkan doa
mengirim ke pusara

Guru adalah orangtua
Yang melahirkan cita-cita
lewat huruf a, b, c dan alif, ba, ta

Huruf-huruf itu kami bungkus dalam doa
kami hembus dengan nafas
kami terbangkan ke alamatnya

Bila guru masih ada
kami memberi hormat membungkuk
meminta maaf atas khilaf dan dosa

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Jakarta, 26 November 2019

ADVERTISEMENT

 

*NURDIN F.JOES* dilahirkan di Sigli 4 Januari 1963. Mengabdi sebagai ASN sejak 1992 dan 10 tahun di antaranya berkarier di Humas Kantor Gubernur Aceh.
Ketika masih mahasiswa, memenangkan berbagai lomba cipta puisi. Di antaranya, puisi berjudul _Weep for the Children of the Land_ (Menangislah untuk Anak-anak Negeri) memenangkan lomba cipta puisi _Towards Namibian Independence_ (Untuk Kemerdekaan Namibia) dilaksanakan UNIC (Kantor Penerangan PBB, 1987).
Karya puisinya terkumpul dalam antologi tunggal _*Surat dari Belantara*_ (1988), _*Sengketa*_ (1990), dan _*Langkah Ketiga*_ (1994). Puisi lainnya terkumpul dalam antologi bersama, diterbitkan di Banda Aceh, Medan, Jakarta, dan Kuala Lumpur.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 336x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Krisis Nalar ?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com