POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Salat Tarawih di Sumenep Madura Dikasih Uang Rp300 Ribu per Jamaah

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 23, 2026
Salat Tarawih di Sumenep Madura Dikasih Uang Rp300 Ribu per Jamaah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Definisi tajir melintir inilah dia. Sampeyan bayangkan ribuan jamaah salat tarawih dikasih uang masing-masing Rp300 ribu. Luar biasa. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!

Ramadan baru buka gerbang. Matahari masih panas macam dipanggang di tepi garam Madura. Tapi di Sumenep, suasana sudah seperti musim liburan di Pulau Gili Labak. Bedanya, yang datang bukan turis bawa snorkel, tapi jamaah bawa sajadah. Ribuan orang. Iya, ribuan. Dari siang sudah parkir badan di pelataran masjid sampai meluber ke jalan raya. Polisi? Turun 193 personel. Seratus sembilan puluh tiga! Ini tarawih apa pengamanan KTT?

Drone terbang. Video viral. Dari atas, barisan manusia itu melengkung seperti garis pasir di Pantai Sembilan. Warna mukena dan sarung seperti karang-karang hidup. Indah. Epik. Sinematik. Netflix lewat.

Orang mungkin berpikir, “Masyaallah, oksigen spiritual Sumenep lagi tinggi-tingginya!” Memang, kalau mau metafora, semangatnya setinggi kadar udara di Pulau Gili Iyang yang disebut-sebut paling segar sedunia. Tapi jangan naif dulu, cak. Ada faktor X yang bikin jamaah menumpuk macam akar di Wisata Mangrove Kedatim, rapat, berlapis, tak terpisahkan.

Faktor itu bernama Rp300.000 per kepala. Tunai. Cash. Amplop putih polos. Tanpa logo, tanpa watermark, tanpa “ingat 2029”. Distribusi dilakukan usai tarawih malam pertama, 18 Februari 2026, di delapan titik, Musala Wakaf Abdullah Kepanjen, Masjid Laju, Masjid Fathimah binti Said Gauzan Manding, Masjid Naqsabandiyah, Mushala Habib Muhsin, Mushala Zainab, Mushala Ba’antar, dan Mushala Bahrez.

Estimasi jamaah? 10.000–15.000 orang. Kali Rp300 ribu. Hasilnya? Rp3 miliar sampai Rp4,5 miliar beredar dalam satu malam. Satu malam, cak! Itu bukan lagi sedekah skala RT. Itu injeksi ekonomi setara festival daerah. Kalau uangnya ditumpuk mungkin bisa jadi menara baru di halaman Masjid Agung Sumenep.

Tokoh di balik layar? MH Said Abdullah, anggota DPR RI, Ketua Banggar DPR, orang yang sehari-hari main angka triliunan. Tapi malam itu, angka yang paling ditunggu jamaah cuma enam digit, 300.000.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Mang Ono, Dewa Kritik untuk KDM

PUISI-PUISI ALI HAMZAH

KUTARAJA TETESAN AIR MATA

Jangkar SMKN 1 Jeunieb Hadirkan Pojok Baca di Kantin Sekolah

Secara budaya, Sumenep ini kota kerajaan. Di Museum Keraton Sumenep tersimpan jejak para sultan. Tapi malam itu, yang terasa seperti “keraton modern” justru sistem distribusi amplopnya, rapi, terstruktur, dikawal aparat. Khidmatnya hampir setara ziarah ke Kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep, hanya saja bedanya jamaah pulang bukan cuma dengan doa, tapi juga isi dompet bertambah.

Fenomena ini unik. Seunik tengara Tulang Ikan Paus yang bikin orang berhenti dan bertanya, “Ini beneran?” Tarawih berubah rasa jadi “event Ramadan edition”. Rebutan tempat seperti rebut tiket konser. Booking sejak siang. Full 20 rakaat? Insyaallah kuat, wong hadiahnya jelas.

Apakah ini salah? Tidak ada yang bilang begitu. Zakat mal memang kewajiban. Berbagi itu indah. Uang berputar, ekonomi hidup, dapur mengepul. Tapi pertanyaan nakal tetap mengambang di udara Sumenep yang segar, kalau tidak ada Rp300 ribu itu, apakah jamaah tetap meluber sampai jalan? Apakah perlu 193 polisi? Apakah drone harus terbang?

Sumenep memang negeri gili, banyak pulau kecil yang eksotis, termasuk Giliyang dan kawan-kawannya. Tapi malam itu, masjid-masjid berubah jadi pulau harapan dadakan. Orang datang dengan niat ibadah, pulang dengan niat belanja.

Inilah Ramadan versi Sumenep, iman dan amplop berjalan bergandengan tangan seperti laut dan pasir. Kadang sulit dibedakan, mana yang lebih dulu bikin orang datang, panggilan langit atau panggilan dompet.

Subhanallah… subhanadompet… yang penting antre tertib, cak.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 135x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 68x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 61x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
116
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
94
Postingan Selanjutnya
Esensi Warung Kopi Aceh: Dari Tempat Nongkrong Menjadi Lahan Bisnis Modern.

Esensi Warung Kopi Aceh: Dari Tempat Nongkrong Menjadi Lahan Bisnis Modern.

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00