Dengarkan Artikel
Bagian 1
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
“Maaf Bu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi takdirberkata lain”
Suara pelan dokter terdengar bagai guntur yang memekakkan telinga Salamah. Salim, suami yang dicintainya sepenuh hati pergi meninggalkannya, tak akan pernah kembali. Kematian begitu dekat, bahkan tak mengenal kata permisi.
“Abang pergi ya, jaga anak-anak” suara Salim tadi pagi masih terngiang di telinga.
“Apa sih Bang, seperti tidak kembali lagi”. Salim hanya membalas dengan senyum, dan ternyata itu adalah senyum terakhirnya pada dunia.
“Maaf Bu, untuk jenazahnya akan diurus di rumah sakit atau langsung dibawa pulang?” Suara perawat membuatnya tersadar, dalam keadaan apapun keputusan tetap harus diambil.
“Langsung dibawa pulang saja” jawab Salamah dengan suara yang tercekat.
Kediaman mungilnya yang asri telah dipenuhi tetangga yang terus berdatangan.
“Mak, bapak di mana? Adek mau jumpa bapak” pertanyaan Hasan putra bungsunya yang belum genap berumur dua tahun kembali meluruhkan tetesan bening dari kedua matanya, juga dari puluhan pasang mata yang ada di sana. Salamah tak mampu menjawab, hanya mendekap sang putra lebih erat.
Hari-hari berikutnya Salamah lalui dalam sepi, melangkah dalam kegamangan. Sanggupkah ia membesarkan enam buah hatinya seorang diri? Tanpa kekasih, sandaran yang kini telah patah. Pagi itu Salim pamit untuk mencari nafkah, hingga kabar kecelakaan itu datang membawa pergi harapan yang telah retak.
Salim berangkat bersama Syahdan sahabat karibnya. Mereka adalah sopir dan kernet yang biasa membawa para penumpang untuk berbelanja pada hari pekan ke kota. Pagi itu Syahdan yang mengendarai atas permintaan Salim sang pemilik mobil.”Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kernet” begitu alasannya. Tiba di sebuah tanjakan, tiba-tiba mobil bak terbuka itu oleng dan Salim pun terjatuh tanpa bisa dicegah, ia benar-benar pergi sebelum sempat membawa para penumpang.
Beberapa hari setelahnya, persidangan pun digelar dan hasilnya Syahdan dinyatakan bersalah menghilangkan nyawa Salim akibat kelalaian, dan ia harus mendekam beberapa waktu di dalam sel.
“Bang, tolong antarkan Aku ke lembaga pemasyarakatan tempat Syahdan ditahan, aku ingin bertemu dengannya” Pinta Salamah suatu hari pada Isa, Abang tertuanya.
“Ada perlu apa? Biar Abang saja yang menyampaikan”
“Tidak Bang, biar aku saja”
📚 Artikel Terkait
“Baiklah kalau begitu” balas Isa
Dalam rintik hujan yang membasahi bumi, roda kendaraan peninggalan Salim dikendarai Isa melaju dengan tenang, tapi tidak mampu membuat hati Salamah teduh. Detak jantungnya kian bergemuruh.
Tepatkah keputusan yang akan ia ambil? Bagaimana kalau keluarga besarnya tidak menyetujui? Namun salamah sudah bertekat apapun yang terjadi ia sudah siap. Sebab rasa bersalah ini kian menghantui dan ia sendiri yang menanggung, bukan keluarga besarnya. “Aku berhak memutuskan apapun yang menyangkut dengan hidupku” suara batinnya menguatkan. Ia tidak ingin lebih banyak lagi anak yang akan menyandang gelar yatim, mesti bukan yatim yang sesungguhnya.
“Pak, Aku mohon penghuni lapas atas nama Syahdan dibebaskan, aku yakin apa yang sudah terjadi bukanlah kesengajaan dan Aku atas nama keluarga sudah memaafkannya” dengan suara pelan dan tegas Salamah memulai mengutarakan niat hatinya pada kepala lapas.
“Salamah, benarkah itu”? Kaget Isa, walau ia yang selama ini menemani hari-hari duka Salamah, tapi tak pernah mampu menyelami kedalaman hatinya.
“Benar Bang, kuharap Abang jangan menghalanginya”
“Mengapa? Apakah ada yang mengintimidasimu? Abang harus memastikan itu”
“Tidak Bang, sama sekali tidak, ini murni keinginanku”
“Tapi mengapa? Tolong beri penjelasan dan alasan yang tak terbantahkan”
“Bang, selama apapun Syahdan ditahan tetap tidak akan membuat Bang Salim kembali hidup. dan tidak membuat status yatim yang kini disandang anak-anak berubah. Semua ini kulakukan demi Bang Salim, kumencoba membalas kebaikannya yang seluas samudra. Kuberharap apa yang kulakukan ini bisa menjadi teman baik bang Salim yang menemaninya di alam kubur. Dan Aku juga tidak ingin anak-anaknya Syahdan mengalami nasib yang sama dengan anak-anakku, menjadi yatim, meski bukan yatim yang sesungguhnya”. Jelas Salamah dengan air mata yang siap tumpah.
“Baik Bu, Kalau memang sudah menjadi keputusan ibu” Jawab kepala lapas “Tapi segala administrasinya harus kita selesaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari” lanjutnya. Salamah hanya membalas dengan anggukan.
Di tengah pendar sinar mentari yang berwarna jingga, kebahagiaan tak terkira sedang menyelimuti hati Syahdan. Di ujung senja itu, ia akan kembali berkumpul dengan keluarga tercinta, setelah terpisah beberapa waktu disebabkan kesalahan yang tak pernah ia rencanakan. Ia kembali bisa menghirup udara kebebasan. Sungguh, ini sulit dipercaya bagaimana mungkin Salamah yang telah berstatus janda karena kelalaiannya bisa mengeluarkannya dari tahanan? Terbuat dari apakah hatinya? Sungguh beruntung Salim pernah memilikinya.
Sejak saat itu Syahdan bertekad akan melakukan sesuatu setiap menjelang puasa dan lebaran tiba. Ia akan memberikan sedikit paket berisi sembako dan daging untuk menyambut meugang sebagai sebuah tradisi turun temurun menjelang Ramadhan dan lebaran tiba. Hingga menjelang Ramadhan ketiga setelah kepergian Salim. Syahdan datang tidak seperti biasanya. Dia datang dengan beberapa temannya dan dengan buah tangan yang berlimpah. Syahdan datang untuk melamar Salamah.
“Izinkan aku ikut membesarkan anak yang tak lagi berayah karena ulahku” tutur Syahdan. “Untuk menebus kesalahanku, dan untuk membalas kebaikanmu atas kebesaran jiwamu membebaskanku. Jika tidak, entah bagaimana kelangsungan hidup keluargaku”
Rentetan kalimat itu terdengar seperti letusan gunung Merapi bagi Salamah. Nafasnya tersengal hebat seperti baru saja ia berlari menghindar dari kenyataan. Ingin ia langsung menjawab tegas bahwa ia tidak bersedia, tapi entah mengapa bibirnya terasa kelu.
“Aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang” Sambung Syahdan seakan tahu kerisauan hati Salamah. “Aku tahu ini pilihan yang sulit, sebab nantinya engkau akan menjadi yang kedua bersanding dengan ibu dari anak-anakku.Tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa dia sudah merestuinya, ia telah membuka hatinya untuk menerimamu” jelas Syahdan panjang lebar.
Salamah tidak boleh gegabah memberikan jawaban. Meski dia tahu apa yang harus dijawabnya. Namun terbersit keraguan terhadap jawaban yang telah ia punya setelah mendengar beberapa kerabatnya memberi masukan.
“Sebaiknya kamu terima saja lamaran Syahdan, kamu tidak boleh bersikap egois, mempertahankan cintamu pada sosok yang telah lama pergi” jelas Kak Mah, sepupunya.
“Kamu juga harus memperhatikan anak-anak, mereka butuh sosok ayah” lanjut Kak Mah. “Harus kah aku menyambung kembali sandaran yang telah patah”? Bisik hati Salamah
“Istikharah lah Nak” petuah Nek Basyariah, ibunya Salamah suatu hari. “Allah yang lebih tahu apa yang terbaik buat kitaNak” lanjut ibunya.
Petuah itu bagai oase di gurun pasir bagi Salamah, meski jauh di kedalaman hatinya, sungguh ia berharap hasil istikharah sama dengan keinginannya, menolak lamaran itu. Bagaimanapun ia tahu tidak ada perempuan yang benar-benar rela berbagi kasih, jikapun ada itu hanya lahirnya tapi tidak dengan batinnya.
Apakah Salamah menerima lamaran itu? Bagaimana petunjuk dari istikharahnya?
Selengkapnya di episode berikutnya
Terinspirasi dari kisah nyata
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






