POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

RedaksiOleh Redaksi
February 13, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Beberapa hari lalu, seorang kawan lama mengeluh tentang negara. “Republik ini,” katanya, “seolah-olah hanya punya satu jurus pamungkas: Pasal.” Setiap persoalan, dari yang rumit hingga yang remeh-temeh, dijawab dengan ancaman pidana. Setiap konflik, dari sengketa tanah sampai selisih paham di media sosial, diselesaikan dengan vonis dan penjara. Seolah ketertiban itu bisa lahir dari rasa takut. Padahal, takut adalah pangkal dari banyak kepalsuan.


Pikiran itu terus berputar, berulang seperti gema dalam bilik sunyi. Kita sering lupa, pidana itu ultimum remedium, obat terakhir, bukan penawar segala sakit. Ia seharusnya menjadi tanda bahwa semua cara lain sudah mentok, bukan pilihan pertama dalam daftar solusi. Ketika negara sigap mengkriminalisasi setiap persoalan, itu tanda ia sedang bekerja di hilir, bukan di hulu. Seperti pemadam kebakaran yang hanya datang setelah api besar melalap habis, alih-alih mencegah percikan awal.


Kejahatan, sungguh, tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari tanah yang subur oleh ketimpangan, oleh kebodohan yang dipelihara, oleh kemiskinan yang terstruktur rapi. Ia adalah tunas pahit dari pendidikan yang gagal membentuk akal sehat, yang abai membangun karakter, yang luput menanamkan kesadaran kritis. Maka, jika sebuah negara ingin serius mencapai cita-citanya, jawabannya bukan dengan memperbanyak sel-sel penjara. Jawabannya, sesederhana itu, adalah memperkuat pendidikan.


Konstitusi kita, dalam semangat paling mulianya, sudah sangat tegas menggariskan: minimal 20% anggaran negara untuk pendidikan. Bukan untuk memoles citra presiden, bukan untuk kursi-kursi empuk para anggota dewan, tapi untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ini bukan sekadar angka teknis di lembar anggaran. Ini adalah sebuah pernyataan filosofis, sebuah deklarasi tentang masa depan republik yang ditentukan oleh kualitas manusianya.

📚 Artikel Terkait

Kutabur Kembang Kemuning di Atas Pusara Pujangga A.A. Pandji Tisna

Wako Payakumbuh, Suprayitno: Penting Menelusuri Jejak Yu Dafu

Teuku Markam Saudagar Aceh Penyumbang Emas di Puncak Monas

Tidak Suka Sayur dan Buah? Waspadai 12 Ancaman Ini


Anggaran 20% itu bukan sekadar formalitas, ia adalah janji. Sebuah janji bahwa negara percaya pada kekuatan akal budi, pada nurani yang diasah, pada etika yang ditanam sejak dini. Negara boleh memiliki aparat yang gagah perkasa. Negara boleh mempunyai undang-undang yang setebal kamus. Tapi jika manusianya tidak dibentuk dengan akal sehat, dengan etika, dan dengan kesadaran kritis, hukum hanya akan menjadi alat pemadam kebakaran yang tidak pernah selesai bekerja. Ia akan sibuk memadamkan api yang tak henti-hentinya menyala, karena kayu bakarnya selalu ada, selalu basah oleh ketidakpedulian.


Pendidikan, sebaliknya, membangun kesadaran sebelum pelanggaran terjadi. Ia menanam bibit budi pekerti sebelum kerusakan merajalela. Ia membentuk benteng dalam diri, benteng yang jauh lebih kokoh dari terali besi mana pun. Sebuah negara yang percaya pada pendidikan sedang membangun peradaban. Ia sedang menanam pohon yang akarnya akan menopang masa depan, yang batangnya akan menaungi keadilan, dan buahnya adalah kebaikan bersama.


Sebaliknya, negara yang terlalu percaya pada instrumen pidana, yang gemar mengancam dan menghukum, sebenarnya sedang sibuk menumpuk kegagalan dirinya sendiri. Ia gagal melihat akar masalah. Ia gagal mencegah. Ia gagal mendidik. Ia hanya pandai menghakimi di bagian ujung, setelah semuanya berantakan.


Pertanyaannya sederhana, tapi menusuk ulu hati: Republik macam apa yang sebenarnya ingin kita bangun? Republik yang mendidik, yang sabar membangun akal sehat dan nurani? Ataukah Republik yang menghukum, yang hanya pandai mencambuk dan mengurung, sementara akar masalah terus membusuk di bawah permukaan? Pilihan itu, pada akhirnya, akan menentukan apakah kita akan bergerak maju sebagai peradaban, atau terus terjerembap dalam lingkaran setan ketakutan dan pasal-pasal yang tak pernah menyelesaikan apa-apa.


Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 62x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 54x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
197
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Bongkar Buku - MADILOG

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00