Dengarkan Artikel
Urgensi Pendidikan Karakter, Seni, Filsafat, dan Agama dalam Menjaga Peradaban**
Oleh: Novita Sari Yahya
Pendahuluan
Beginilah contoh manusia cerdas yang menggunakan kecerdasannya tanpa kendali nilai, sehingga justru melahirkan kerusakan dan kehancuran tanpa rasa bersalah. Fenomena ini bukan sekadar gambaran moral, melainkan realitas sosial yang berulang dalam sejarah peradaban manusia. Kecerdasan yang tidak dibarengi pembentukan karakter dan pendidikan agama berpotensi menjadi alat pembenar bagi ambisi, keserakahan, dan kekuasaan.
Dalam berbagai peristiwa global, kita menyaksikan bagaimana jejaring kekuasaan, finansial, dan intelektual dapat membentuk sistem yang tampak legal, namun menyembunyikan praktik-praktik yang merendahkan martabat manusia. Kasus Jeffrey Epstein, misalnya, sering dijadikan contoh bagaimana relasi kekuasaan, pengaruh, dan kecerdasan dapat dimanfaatkan untuk melindungi tindakan yang melanggar hukum dalam lingkaran elit tertentu, sebagaimana diberitakan berbagai media internasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa kerusakan besar sering kali bukan lahir dari kebodohan, melainkan dari kecerdasan yang dilepaskan dari nurani dan etika.
Dengan demikian, persoalan utama bukan pada kecerdasan itu sendiri, melainkan pada absennya nilai yang membimbing penggunaan kecerdasan tersebut.
Kecerdasan sebagai Pedang Bermata Dua
Kecerdasan pada hakikatnya adalah anugerah. Kecerdasan memungkinkan manusia menciptakan teknologi, merancang sistem sosial, serta membangun peradaban. Namun, ketika kecerdasan tidak disertai tanggung jawab moral, ia dapat berubah menjadi pedang bermata dua.
Sejarah mencatat bahwa berbagai krisis global—mulai dari manipulasi keuangan, eksploitasi lingkungan, hingga penyalahgunaan kekuasaan, sering kali melibatkan individu atau kelompok dengan kapasitas intelektual tinggi. Mereka memahami hukum, sistem, dan teknologi. Akan tetapi, pemahaman tersebut dapat digunakan untuk mencari celah demi keuntungan pribadi.
Kasus Epstein memperlihatkan bagaimana jejaring sosial dan finansial yang kuat dapat menciptakan perlindungan sosial yang kompleks dalam waktu lama. Relasi kuasa dan legitimasi sosial dapat membentuk ilusi normalitas. Di sinilah terlihat bahwa kecerdasan tanpa kontrol etika mampu membangun sistem pembenaran yang terstruktur.
Artinya, persoalan utama bukan pada kecerdasan itu sendiri, melainkan pada lemahnya internalisasi nilai yang membimbing penggunaannya.
Kelemahan Pendidikan yang Terlalu Kognitif
Pendidikan modern sering kali menitikberatkan pada capaian akademik, penguasaan teknologi, dan efisiensi ekonomi. Sekolah dan perguruan tinggi berlomba menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi, keterampilan teknis, serta daya saing global.
Namun, ketika manusia hanya dilatih untuk “pandai” tanpa diajarkan untuk “baik”, maka kecerdasan berpotensi kehilangan arah. Pendidikan yang terlalu fokus pada aspek kognitif berisiko mengabaikan pembentukan karakter, empati, dan tanggung jawab sosial.
Dalam berbagai kajian pendidikan karakter di Indonesia ditegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya melalui transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui internalisasi nilai moral dan spiritual. Pendidikan karakter bertujuan membentuk integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Bukan berarti setiap individu yang tidak memperoleh pendidikan agama akan menyimpang, namun absennya penguatan nilai moral dan spiritual dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan kecerdasan.
Jika dimensi ini diabaikan, maka berpotensi lahir generasi yang kompeten secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Mereka mampu mengelola sistem, tetapi tidak memiliki kompas etika yang kokoh.
Peran Seni dalam Membentuk Kepekaan
Seni bukan sekadar ekspresi estetika. Ia adalah medium pembentuk kepekaan batin. Melalui seni, manusia belajar merasakan, memahami emosi, dan menghargai keindahan kehidupan.
Seni mengasah empati. Seorang anak yang terbiasa dengan musik, lukisan, atau teater cenderung lebih mudah memahami perasaan orang lain. Ia belajar bahwa kehidupan tidak hanya tentang logika, tetapi juga tentang rasa.
Dalam berbagai kajian sastra, karya seni dipahami sebagai refleksi pengalaman manusia yang mendalam. Sastra, misalnya, memungkinkan pembaca memasuki dunia batin tokoh lain, merasakan penderitaan, kebimbangan, dan harapan mereka.
Dengan demikian, seni berperan penting dalam membangun manusia yang tidak hanya rasional, tetapi juga peka terhadap kemanusiaan.
📚 Artikel Terkait
Sastra dan Kesadaran Kemanusiaan
Sastra adalah cermin peradaban. Ia menyimpan kisah tentang perjuangan, ketidakadilan, cinta, dan pengkhianatan. Melalui sastra, manusia belajar memahami kompleksitas moral.
Novel, puisi, dan cerita pendek sering kali menghadirkan dilema etis yang mendorong pembaca untuk merenung. Pembaca tidak hanya menilai benar atau salah, tetapi juga memahami latar belakang dan konsekuensi tindakan.
Di sinilah sastra menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif. Ia menanamkan nilai melalui pengalaman batin, bukan sekadar melalui ceramah moral. Sastra membentuk kedewasaan emosional dan kemampuan reflektif.
Filsafat sebagai Latihan Berpikir Kritis dan Reflektif
Filsafat melatih manusia untuk bertanya tentang makna hidup, kebenaran, dan tanggung jawab. Ia tidak hanya mengajarkan cara berpikir logis, tetapi juga cara berpikir reflektif.
Dalam filsafat, manusia diajak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi etis. Kecerdasan tidak boleh dilepaskan dari pertanyaan tentang kebaikan bersama.
Filsafat membantu manusia membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik. Ia melatih keberanian untuk mengkritisi sistem yang tidak adil, sekaligus mengkritisi diri sendiri.
Dengan filsafat, kecerdasan tidak berhenti pada kemampuan analitis, tetapi berkembang menjadi kebijaksanaan.
Pendidikan Agama sebagai Fondasi Moral
Pendidikan agama berperan sebagai fondasi moral dan spiritual. Ia memberikan arah dan tujuan hidup.
Agama mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki dimensi pertanggungjawaban, baik secara sosial maupun spiritual. Prinsip ini memperkuat kesadaran bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari kekuasaan dan kekayaan.
Tanpa dimensi spiritual, manusia cenderung menilai segala sesuatu berdasarkan manfaat materi. Padahal, agama mengajarkan bahwa keberhasilan sejati adalah kebermanfaatan dan integritas.
Pendidikan agama yang hidup dalam praktik nyata berpotensi membentuk pribadi yang rendah hati, jujur, dan bertanggung jawab.
Sinergi Intelektual, Moral, dan Spiritual
Sinergi antara kecerdasan intelektual, kedalaman moral, dan spiritualitas perlu menjadi tujuan pendidikan. Tujuannya bukan sekadar mencetak manusia pintar, tetapi manusia yang bijak dan bermanfaat.
Manusia yang bijak menggunakan kecerdasannya untuk melindungi kehidupan, membangun peradaban, dan menjaga martabat sesama. Ia tidak memanfaatkan celah hukum untuk merugikan orang lain.
Berbagai kasus penyalahgunaan kekuasaan yang terungkap di media internasional menjadi pelajaran bahwa tanpa integritas, kecerdasan dapat berubah menjadi alat manipulasi.
Karena itu, reformasi pendidikan perlu menempatkan pendidikan karakter dan pendidikan agama sebagai inti, bukan sekadar pelengkap.
Penutup
Tanpa keseimbangan antara kecerdasan dan nilai, peradaban berada dalam ancaman. Kecerdasan yang dilepaskan dari nurani berpotensi melahirkan kekuasaan tanpa tanggung jawab.
Namun, dengan pendidikan karakter yang kuat, didukung oleh seni, sastra, filsafat, dan agama, kecerdasan dapat menjadi cahaya yang menerangi. Ia tidak lagi menjadi api yang membakar peradaban, melainkan energi yang membangun masa depan yang bermartabat.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa cerdas generasinya, tetapi oleh seberapa dalam integritas dan empatinya. Di situlah letak harapan peradaban.
Daftar Pustaka
The Guardian. (2025, November 16). Jeffrey Epstein’s powerful friends and the network of influence.
https://www.theguardian.com/us-news/2025/nov/16/jeffrey-epstein-powerful-friends
Jawa Pos. (2025). Jejak koneksi gelap Epstein: Bagaimana kejahatan Jeffrey Epstein dinormalisasi oleh elit global.
https://www.jawapos.com/internasional/017144198/jejak-koneksi-gelap-epstein-bagaimana-kejahatan-jeffrey-epstein-dinormalisasi-oleh-elit-global
Ghancaran: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, IAIN Madura. (2023). Pendidikan karakter dalam perspektif Islam.
https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/ghancaran/article/download/21672/4932/
Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Universitas Muhammadiyah Surabaya. (2022). Peran sastra dalam pembentukan karakter.
https://journal.um-surabaya.ac.id/Stilistika/article/view/13379
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu miss & mister nusantara archipelago international
Pencipta lagu : Gede Jerson
Ceo dan Natdir Miss & Mister Nusantara Archipelago International adalah Novita Sari Yahy
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





