POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tatanan Global Dan Luka Peradaban

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 10, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Refleksi Kritis atas Dunia Ketiga dan Dunia Islam dalam Hegemoni Barat

Oleh Dayan Abdurrahman

Ilusi Keadilan Global

Kita hidup di dunia yang mengklaim dirinya modern, beradab dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Namun, di balik bahasa-bahasa indah tentang demokrasi dan kebebasan, jutaan manusia di dunia ketiga—terutama bangsa-bangsa Muslim—hidup dalam derita yang berkepanjangan. Pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu: mengapa penderitaan itu tampak sah, bahkan dinormalisasi, ketika dialami oleh mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan Barat?

Hari ini, tatanan global digerakkan oleh segelintir negara kuat: Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan sekutunya. Mereka bukan sekadar aktor politik, melainkan arsitek sistem dunia—menentukan siapa yang layak dibela dan siapa yang boleh dikorbankan. Dunia tidak lagi diukur dari keadilan, melainkan dari kepentingan.

Kapitalisme sebagai Agama Baru

Barat hari ini tidak bisa dipahami hanya sebagai entitas budaya. Ia adalah mesin kekuasaan global yang ditopang oleh kapitalisme, militerisme, dan kontrol narasi. Lembaga-lembaga seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan Dewan Keamanan PBB bekerja dengan satu logika: stabilitas bagi yang kuat, ketergantungan bagi yang lemah.

Lebih dari 70 persen negara miskin dunia merupakan bekas koloni Barat. Mayoritas berada di Asia, Afrika, dan dunia Muslim. Ini bukan kebetulan sejarah, melainkan jejak sistemik penjajahan yang berubah rupa. Jika dulu penjajahan dilakukan dengan senjata dan bendera, hari ini ia dilakukan dengan utang, sanksi, dan standar global yang mematikan kemandirian.

Dalam logika kapitalisme global, moral tunduk pada keuntungan. Perang bukan tragedi, tetapi peluang bisnis. Industri senjata di Amerika dan Eropa meraup ratusan miliar dolar dari konflik di Timur Tengah. Dalam sistem ini, nyawa manusia memiliki harga—dan sayangnya, nyawa Muslim sering dihargai paling murah.

Muslim sebagai Ancaman Permanen

Sejak peristiwa 11 September 2001, Islam tidak lagi diposisikan sebagai agama, melainkan sebagai ancaman peradaban. Gagasan Clash of Civilizations yang dipopulerkan Samuel P. Huntington menjelma menjadi legitimasi kebijakan luar negeri Barat.

Afghanistan dibombardir selama dua dekade. Irak dihancurkan tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush dengan alasan senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan. Lebih dari satu juta warga sipil tewas, dan tak satu pun aktor utama diadili. Suriah, Libya, Yaman—semuanya menjadi laboratorium penderitaan.

Data konflik global menunjukkan bahwa sekitar 60 persen korban perang dunia adalah Muslim, padahal populasi Muslim hanya seperempat penduduk bumi. Ini bukan kebetulan, ini pola kekerasan struktural.

Ketika Nyawa Dinilai Berdasarkan Identitas

📚 Artikel Terkait

Sedih, STY Out

Makna Hari ‘Meugang’ bagi Seorang Mak di Aceh

Pranata Sumedanglarang

Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius

Palestina adalah cermin paling jujur dari kemunafikan global. Israel, sebagai kekuatan pendudukan, selalu diberi ruang untuk membela diri. Sementara Palestina, korban penjajahan, diminta untuk menahan diri.

Ketika Ukraina diserang Rusia, dunia bergerak cepat: sanksi, embargo, solidaritas. Ketika Gaza dibombardir, dunia berdalih: “konflik ini kompleks.” Kompleks bagi siapa? Bagi mereka yang jauh dari reruntuhan dan darah.

Di sinilah terlihat jelas bahwa tatanan global hari ini tidak menjunjung kemanusiaan universal, melainkan kemanusiaan selektif.

Etika, Ilmu, dan Keadilan Sosial

Sejarah Islam bukan sejarah malaikat, tapi ia menawarkan paradigma yang berbeda. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Islam datang membebaskan budak, memuliakan perempuan, dan menegakkan keadilan sosial. Iman tidak dipaksakan, tetapi diajak.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem ditaklukkan tanpa pembantaian. Gereja dilindungi, pendeta dihormati. Di bawah Dinasti Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat ilmu dunia. Di Andalusia, Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan, melahirkan Ibn Sina, Ibn Rushd, dan Musa bin Maimun.

Bahkan sejarawan Barat seperti Gustave Le Bon mengakui bahwa peradaban Islam membawa toleransi yang tidak dikenal Eropa abad pertengahan. Islam unggul bukan karena pedang, tetapi karena etika dan ilmu.

Pengkhianatan Elite dan Rapuhnya Struktur

Namun kejujuran menuntut kita bercermin. Dunia Islam hari ini tidak hanya menjadi korban, tetapi juga korban dari dirinya sendiri. Banyak raja, elite, dan penguasa Muslim lebih setia pada kepentingan Barat daripada pada rakyatnya.

Negara-negara kaya sumber daya tetap miskin secara struktural. Minyak diekspor, sementara kemiskinan diimpor. Ketergantungan dibiarkan, bahkan dirawat. Inilah kolonialisme yang dibantu oleh penguasa lokal.

Tanpa pembenahan internal—ilmu, integritas, dan keadilan—umat Islam akan terus menjadi objek dalam permainan global.

Menunggu Peradaban yang Berhati Nurani

Tatanan global hari ini tidak dibangun di atas kebenaran, melainkan kekuatan. Yang kuat mendikte, yang lemah menanggung akibat. Jika keadilan didefinisikan sebagai kesetaraan, maka dunia ini gagal total.

Namun sejarah mengajarkan satu hal: tak ada peradaban abadi. Barat akan diuji oleh nilai yang ia khianati sendiri. Kapitalisme tanpa moral akan melahirkan kehancurannya sendiri.

Penutup: Dari Luka Menuju Kesadaran Baru

Islam, Kemanusiaan, dan Harapan Dunia

Tulisan ini bukan ajakan membenci Barat sebagai manusia, melainkan kritik terhadap sistem global yang kehilangan nurani. Islam tidak diturunkan untuk mendominasi, tetapi untuk memanusiakan.

Jika dunia ingin selamat dari siklus kekerasan, ia membutuhkan peradaban yang kembali berpihak pada manusia—bukan modal. Dan mungkin, luka-luka bangsa hari ini adalah isyarat bahwa dunia sedang mencari kembali nilai yang pernah ditawarkan Islam: keadilan, belas kasih, dan martabat manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 147x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 121x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
193
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
91
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00