• Latest

Tatanan Global Dan Luka Peradaban

Februari 10, 2026
IMG_0523

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tatanan Global Dan Luka Peradaban

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Februari 10, 2026
in Artikel, Internasional
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Refleksi Kritis atas Dunia Ketiga dan Dunia Islam dalam Hegemoni Barat

Oleh Dayan Abdurrahman

Ilusi Keadilan Global

Kita hidup di dunia yang mengklaim dirinya modern, beradab dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Namun, di balik bahasa-bahasa indah tentang demokrasi dan kebebasan, jutaan manusia di dunia ketiga—terutama bangsa-bangsa Muslim—hidup dalam derita yang berkepanjangan. Pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu: mengapa penderitaan itu tampak sah, bahkan dinormalisasi, ketika dialami oleh mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan Barat?

Hari ini, tatanan global digerakkan oleh segelintir negara kuat: Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan sekutunya. Mereka bukan sekadar aktor politik, melainkan arsitek sistem dunia—menentukan siapa yang layak dibela dan siapa yang boleh dikorbankan. Dunia tidak lagi diukur dari keadilan, melainkan dari kepentingan.

Kapitalisme sebagai Agama Baru

Barat hari ini tidak bisa dipahami hanya sebagai entitas budaya. Ia adalah mesin kekuasaan global yang ditopang oleh kapitalisme, militerisme, dan kontrol narasi. Lembaga-lembaga seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan Dewan Keamanan PBB bekerja dengan satu logika: stabilitas bagi yang kuat, ketergantungan bagi yang lemah.

Lebih dari 70 persen negara miskin dunia merupakan bekas koloni Barat. Mayoritas berada di Asia, Afrika, dan dunia Muslim. Ini bukan kebetulan sejarah, melainkan jejak sistemik penjajahan yang berubah rupa. Jika dulu penjajahan dilakukan dengan senjata dan bendera, hari ini ia dilakukan dengan utang, sanksi, dan standar global yang mematikan kemandirian.

Dalam logika kapitalisme global, moral tunduk pada keuntungan. Perang bukan tragedi, tetapi peluang bisnis. Industri senjata di Amerika dan Eropa meraup ratusan miliar dolar dari konflik di Timur Tengah. Dalam sistem ini, nyawa manusia memiliki harga—dan sayangnya, nyawa Muslim sering dihargai paling murah.

Muslim sebagai Ancaman Permanen

Sejak peristiwa 11 September 2001, Islam tidak lagi diposisikan sebagai agama, melainkan sebagai ancaman peradaban. Gagasan Clash of Civilizations yang dipopulerkan Samuel P. Huntington menjelma menjadi legitimasi kebijakan luar negeri Barat.

Afghanistan dibombardir selama dua dekade. Irak dihancurkan tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush dengan alasan senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan. Lebih dari satu juta warga sipil tewas, dan tak satu pun aktor utama diadili. Suriah, Libya, Yaman—semuanya menjadi laboratorium penderitaan.

Data konflik global menunjukkan bahwa sekitar 60 persen korban perang dunia adalah Muslim, padahal populasi Muslim hanya seperempat penduduk bumi. Ini bukan kebetulan, ini pola kekerasan struktural.

Ketika Nyawa Dinilai Berdasarkan Identitas

Palestina adalah cermin paling jujur dari kemunafikan global. Israel, sebagai kekuatan pendudukan, selalu diberi ruang untuk membela diri. Sementara Palestina, korban penjajahan, diminta untuk menahan diri.

Ketika Ukraina diserang Rusia, dunia bergerak cepat: sanksi, embargo, solidaritas. Ketika Gaza dibombardir, dunia berdalih: “konflik ini kompleks.” Kompleks bagi siapa? Bagi mereka yang jauh dari reruntuhan dan darah.

Di sinilah terlihat jelas bahwa tatanan global hari ini tidak menjunjung kemanusiaan universal, melainkan kemanusiaan selektif.

Etika, Ilmu, dan Keadilan Sosial

Sejarah Islam bukan sejarah malaikat, tapi ia menawarkan paradigma yang berbeda. Pada masa Nabi Muhammad SAW, Islam datang membebaskan budak, memuliakan perempuan, dan menegakkan keadilan sosial. Iman tidak dipaksakan, tetapi diajak.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
1001386795_11zon (1)

Kapal Induk “Gratis” Dari Italia?!

Maret 27, 2026

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem ditaklukkan tanpa pembantaian. Gereja dilindungi, pendeta dihormati. Di bawah Dinasti Abbasiyah, Baghdad menjadi pusat ilmu dunia. Di Andalusia, Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan, melahirkan Ibn Sina, Ibn Rushd, dan Musa bin Maimun.

ADVERTISEMENT

Bahkan sejarawan Barat seperti Gustave Le Bon mengakui bahwa peradaban Islam membawa toleransi yang tidak dikenal Eropa abad pertengahan. Islam unggul bukan karena pedang, tetapi karena etika dan ilmu.

Pengkhianatan Elite dan Rapuhnya Struktur

Namun kejujuran menuntut kita bercermin. Dunia Islam hari ini tidak hanya menjadi korban, tetapi juga korban dari dirinya sendiri. Banyak raja, elite, dan penguasa Muslim lebih setia pada kepentingan Barat daripada pada rakyatnya.

Negara-negara kaya sumber daya tetap miskin secara struktural. Minyak diekspor, sementara kemiskinan diimpor. Ketergantungan dibiarkan, bahkan dirawat. Inilah kolonialisme yang dibantu oleh penguasa lokal.

Tanpa pembenahan internal—ilmu, integritas, dan keadilan—umat Islam akan terus menjadi objek dalam permainan global.

Menunggu Peradaban yang Berhati Nurani

Tatanan global hari ini tidak dibangun di atas kebenaran, melainkan kekuatan. Yang kuat mendikte, yang lemah menanggung akibat. Jika keadilan didefinisikan sebagai kesetaraan, maka dunia ini gagal total.

Namun sejarah mengajarkan satu hal: tak ada peradaban abadi. Barat akan diuji oleh nilai yang ia khianati sendiri. Kapitalisme tanpa moral akan melahirkan kehancurannya sendiri.

Penutup: Dari Luka Menuju Kesadaran Baru

Islam, Kemanusiaan, dan Harapan Dunia

Tulisan ini bukan ajakan membenci Barat sebagai manusia, melainkan kritik terhadap sistem global yang kehilangan nurani. Islam tidak diturunkan untuk mendominasi, tetapi untuk memanusiakan.

Jika dunia ingin selamat dari siklus kekerasan, ia membutuhkan peradaban yang kembali berpihak pada manusia—bukan modal. Dan mungkin, luka-luka bangsa hari ini adalah isyarat bahwa dunia sedang mencari kembali nilai yang pernah ditawarkan Islam: keadilan, belas kasih, dan martabat manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 267x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 156x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 147x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

IMG_0523
Sejarah

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026
Pendidikan karakter

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077
Antologi Puisi

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
Next Post
NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

NEGARA Rp10.000: Ketika Seorang Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com