Dengarkan Artikel
Oleh : Hurriyatuddaraini
(Inong Literasi)
“Abang…
rindu…”
Suara Nadia patah di tenggorokan. Ia berdiri di ambang pintu rumah mungil mereka, jerit hatinya senada dengan bunyi pintu kayu yang bergesek saat dibuka. Tak ada jawaban. Hanya ruang kosong yang semakin nyaring oleh sunyi.
“Abang…
di mana?”
Pertanyaan itu menggantung, tak pernah benar-benar mencari alamat.
Sejenak Nadia melangkah masuk. Di kamar kecil itu, putrinya terlelap, usia tiga tahun setengah, rambut ikal pirang yang dulu menjadi impian ayahnya, kulit putih bak pualam. Khansa. Nama yang dipilih suaminya dengan penuh cinta, seakan doa yang dititipkan pada masa depan.
Tak ada firasat. Tak ada pertengkaran. Bahkan sehari sebelum kepergiannya, mereka masih saling memadu kasih dengan lembut, seperti dua orang yang yakin esok akan tetap saling menemukan. Namun pagi itu, suaminya pergi tanpa sepatah kata, tanpa jejak, tanpa alasan.
Nadia menutup pintu kamar perlahan, lalu menuju dapur. Ia menanak nasi dari sisa beras yang dibeli dengan uang terakhir pemberian suaminya.
Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan oleh hitung-hitungan di kepalanya yang semakin sempit. Uang hampir habis. Waktu terasa semakin mahal.
Namun Nadia bukan perempuan yang suka berpangku tangan. Ia pernah menulis, bukan penulis ternama, tapi pernah merasakan hasil dari kata-katanya. Di tengah kehilangan, ia menghidupkan kembali akun yang lama ditinggalkannya. Dunia digital menjanjikan banyak hal, tapi menagih kesabaran yang lebih besar. Pundi-pundi itu tak datang secepat harapan.
📚 Artikel Terkait
Ia mencoba mencari pekerjaan yang bisa dilakukannya dari rumah, tanpa meninggalkan Khansa. Pernah terlintas membuka bimbingan belajar bahasa Inggris kecil-kecilan.
Pengalamannya tak banyak, tapi keberanian kadang lahir dari keadaan yang memaksa. Untuk modal, ia berniat meminjam pada abang kandungnya.
Sore itu, langkah Nadia lunglai menuju rumah sang abang, tak jauh dari rumahnya sendiri. Di teras, ia berhenti sejenak, menata napas, menata harga diri.
“Ada apa, Nad?” tanya abangnya, setelah mendengar cerita yang tertahan di balik mata.
“Aku mau berusaha,” jawab Nadia pelan. “Bukan mengeluh. Aku cuma butuh sedikit waktu… dan sedikit kepercayaan.”
Abangnya menatap lama, lalu mengangguk. Tak banyak kata. Ia tahu, adiknya bukan sedang meminta belas kasihan, ia sedang meminta kesempatan.
Malam turun dengan tenang. Di rumah, Khansa terbangun dan tersenyum, memanggil ibunya. Nadia memeluk putrinya erat. Di dadanya, rindu masih berdenyut. Luka masih ada. Namun di antara keduanya, tumbuh sesuatu yang lain: tekad.
Jika kepergian bisa merobohkan rumah, maka kata-kata akan menjadi fondasi baru. Nadia duduk, menyalakan lampu, membuka halaman kosong. Ia menulis, bukan untuk mengutuk yang pergi, melainkan untuk merawat yang tinggal.
Dan di sana, di antara kalimat-kalimat sederhana, Nadia mulai menemukan dirinya kembali.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






