POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

POTRET, Ruang Bagi Para Penulis Mengasah Kekritisan Dalam Gejolak Dunia.

RedaksiOleh Redaksi
February 7, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Ada momen dalam perjalanan hidup yang membuat seseorang tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga terdorong untuk merekam realitas melalui kata-kata tulisan. Bagi saya, momen itu hadir sejak bencana besar melanda Aceh 2025 yang lalu, ditambah dengan berbagai krisis sosial yang berlangsung panjang. Menyaksikan fenomena dan realitas yang terjadi sehari-hari perlahan menumbuhkan jiwa untuk menulis. Tulisan bagi saya bukan sekadar ungkapan keluhan, melainkan refleksi, catatan moral, dan bagian dari tanggung jawab akademik yang melekat dalam perjalanan intelektual saya.

Menulis kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses intelektual yang saya jalani. Ia lahir dari disiplin yang berulang: membaca, berdiskusi, merenung, dan akhirnya menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Dalam perjalanan itu, saya berkenalan dengan seorang senior di dunia media online, Assauti Wahid, yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan saya. Beliau tidak hanya mendorong saya untuk menulis lebih serius, tetapi juga membantu menemukan media yang tepat, sehingga gagasan yang saya tulis dapat tersampaikan dengan penuh makna.

Dari perjalanan itu, saya mulai mengenal POTRET, baik dalam format cetak maupun online. Sejak awal, Potret terasa sebagai ruang simbolik: tempat di mana kata-kata tidak hanya dibaca, tetapi juga diresapi. POTRET bukan sekadar media; ia adalah wadah berpikir di mana gagasan tumbuh, kritik membumi, dan refleksi sosial menemukan resonansinya di tengah derasnya arus informasi. Di era digital yang serba cepat ini, informasi memang mudah masuk, tetapi sering kehilangan kedalaman. Karena itu, kehadiran POTRET sangat penting, sebagai ruang di mana opini, esai, dan narasi reflektif tetap dipandang sebagai elemen penting dalam membangun kesadaran publik.

Ulang tahun POTRET bukan sekadar perayaan tanggal, tetapi juga perayaan keberanian berpikir kritis. Momen ini mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, melainkan tentang mengenali dunia, memetakan makna di balik setiap peristiwa, dan membangun kesadaran bersama.

Sebagai penulis yang telah hampir dua belas kali menyumbang opini di Potretonline.com, menulis untuk POTRET bagi saya bukan sekadar rutinitas publikasi. Setiap tulisan merupakan panggilan moral untuk menyandingkan gagasan dengan tanggung jawab sosial. Baik membahas persoalan sosial, pendidikan, budaya, refleksi keagamaan, gejolak global, maupun fenomena dan dinamika perubahan sehari-hari, semua berangkat dari kesadaran bahwa kata-kata kita ikut membentuk diskursus publik, membawa harapan sekaligus menantang pembaca untuk berpikir lebih dalam, kritis, dan menemukan solusi dalam menjawab tantangan zaman.

Dalam perjalanan menulis untuk POTRET, saya menghasilkan berbagai opini yang menjadi bagian dari dialog sosial dan refleksi publik. Tulisan-tulisan itu dimulai dari isu bencana dan tanggung jawab moral masyarakat, seperti Bencana dalam Perspektif Islam: Antara Ujian Ilahi, Tanggung Jawab Moral, dan Krisis Etika Manusia (15 Desember 2025), yang kemudian dilanjutkan dengan Moral Masyarakat dalam Bencana: Ujian Etika, Tanggung Jawab Sosial, dan Kesadaran Keagamaan (20 Desember 2025). Saya juga menyoroti urgensi penanganan bencana di Aceh melalui Aceh Butuh Komando Tunggal Darurat Banjir: Saatnya Bertindak, Bukan Rapat (25 Desember 2025), serta merekam peran masyarakat melalui sejarah dan bencana dalam Dari Sejarah ke Bencana, dari Bencana ke Bendera: Aceh dan Suara Rakyat yang Tak Pernah Diam (28 Desember 2025).

Kesadaran akan pentingnya status bencana nasional, saya tuangkan dalam Aceh di Ambang Darurat Kemanusiaan: Negara Wajib Menetapkan Status Bencana Nasional (29 Desember 2025), sementara refleksi terhadap aspek sosial dan budaya masyarakat dalam menghadapi bencana saya ungkapkan melalui tulisan Warung Kopi dalam Ketahanan Bencana di Aceh (3 Januari 2026), yang merekam bagaimana ruang sosial dan kebiasaan lokal ikut membentuk ketahanan komunitas.

📚 Artikel Terkait

Teungku Chik Abbas Kuta Karang; Ulama Pejuang dan Penasehat Teungku Chik Di Tiro

Dinas PUPR Banda Aceh Lakukan Pemeliharaan pada Pintu Air

Untaian Puisi Hajar’ul Aswad@1

Hijaukan Desa, Sehatkan Bangsa

Selain fokus pada isu bencana, saya juga menulis tentang perubahan persepsi masyarakat pascabencana melalui Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana (12 Januari 2026). Isu ekonomi dan dinamika generasi muda saya tuangkan dalam Emas Naik, Pemuda Galau: Antara Persoalan dan Solusi (14 Januari 2026), sementara budaya anak muda Aceh hari ini menjadi fokus dalam tulisan Budaya Ngopi dalam Perspektif Anak Muda (16 Januari 2026), yang merekam bagaimana praktik keseharian generasi muda menjadi cerminan aspirasi dan identitas sosial mereka.

Pada ranah yang lebih luas, saya juga menulis analisis tentang demokrasi dan politik global melalui Demokrasi sebagai Alat Menjinakkan Negara Lain (Analisis dalam Perspektif Global) (21 Januari 2026), sekaligus menyoroti isu krisis dan konflik internasional dalam Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga: Antara Persoalan, Antisipasi, dan Solusi (25 Januari 2026). Kedua tulisan ini merupakan upaya membaca fenomena global sekaligus memetakan implikasi sosial dan politiknya bagi masyarakat lokal maupun dunia, juga memperluas perspektif diskusi yang dimulai dari isu-isu lokal hingga ranah internasional.

Tak hanya itu, saya juga menulis tentang kearifan lokal dan tradisi budaya Aceh Barat Selatan melalui Tradisi Tet Leumang di Barsela (Barat Selatan) Aceh, sebuah praktik menjelang Ramadhan yang bukan hanya warisan kuliner, tetapi juga ruang solidaritas sosial dan identitas keislaman masyarakat setempat. Semua tulisan itu pada dasarnya merupakan bagian dari dialog panjang antara gagasan dan realitas sosial, menjadi jejak reflektif yang saya pelajari sepanjang perjalanan literasi, serta bukti bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk merekam, menyampaikan, dan mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat dan budaya kita.

Di sinilah POTRET memiliki peran yang sangat penting. Media ini memberi ruang bagi suara dan karya tulisan yang reflektif, ruang di mana kata-kata tidak hanya ditulis, tetapi juga dipikirkan secara mendalam. Ia menjaga integritas gagasan, mendorong kesadaran sosial, dan menjadi rumah bagi dialog kritis yang membangun. Melalui POTRET, tulisan-tulisan saya tentang bencana, perubahan sosial, dinamika generasi muda, politik global, hingga tradisi budaya Aceh Barat Selatan menemukan audiens yang menghargai kedalaman refleksi. Media ini bukan hanya sekadar menyalurkan informasi, tetapi menumbuhkan kesadaran bersama, menjaga nilai literasi, dan memberi makna pada setiap kata yang ditulis.

Dalam rangka memperingati hari lahir Majalah POTRET , yang pertama kali terbit pada 11 Januari 2003 dan kini bertransformasi menjadi Potretonline.com, media ini kembali menegaskan posisinya sebagai ruang literasi yang bertumpu pada kekuatan kata, nalar, serta keberanian berpikir secara kritis dan solutif. Sejak kelahirannya, POTRET tidak hadir sekadar sebagai majalah, tetapi sebagai tempat gagasan tumbuh, kritik menemukan pijakan, dan refleksi sosial memperoleh rumahnya. Semangat itu terus dirawat hingga kini, meski medium dan bentuknya menyesuaikan perkembangan zaman. Dalam era digital yang serba cepat, POTRET tetap menghadirkan kedalaman tulisan dan ruang berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi yang kerap kehilangan konteks dan makna.

Melalui tema “POTRET yang Lahir dari Kata: Merawat Literasi, Menjaga Zaman”, media ini mengajak penulis, pembaca, dan pegiat literasi untuk merefleksikan peran kata, mengokohkan kekuatan intelektual, serta menelaah dan menganalisis secara mendalam dalam membentuk kesadaran publik, sekaligus menegaskan tanggung jawab menulis di tengah dinamika realitas sosial yang terus bergerak. Lomba menulis yang diselenggarakan bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari visi Potret untuk menjaga tradisi literasi, membuka ruang dialog intelektual, dan memastikan kata tetap memiliki daya hidup yang menerangi zaman. Dengan demikian, setiap tulisan yang lahir bukan hanya catatan pribadi atau opini semata, tetapi bagian dari percakapan kolektif yang membangun kesadaran kritis, mendorong refleksi sosial, dan menjaga integritas kata sebagai kekuatan perubahan.

Pada akhirnya, setiap tulisan yang lahir di Potret bukan sekadar angka publikasi, melainkan bagian dari percakapan bersama. Ia adalah upaya membangun kesadaran kritis, menjaga integritas kata, dan mendorong masyarakat untuk berpikir lebih jauh. POTRET telah memberi saya ruang untuk itu, ruang di mana gagasan dapat tumbuh, refleksi sosial dapat terdengar, dan kata-kata memperoleh makna. Saya berharap media ini terus menjadi rumah gagasan yang menyinari literasi dari pinggiran hingga pusat peradaban, menjadi tempat penulis, pembaca, dan pemikir muda bertemu, berdialog, dan mengukir perubahan melalui kata-katanya.

Selamat ulang tahun, POTRET . Teruslah hidup melalui kata-kata yang bermakna, menjadi ruang bagi penulis untuk mengasah kekritisan di tengah gejolak dunia, dan menyalakan api literasi bagi generasi mendatang, sehingga gagasan dan refleksi sosial terus menemukan tempatnya, dan masyarakat terdorong berpikir lebih kritis untuk membentuk generasi masa depan yang memiliki ide, serta menjadi konseptor, inisiator, orator, dan eksekutor dari opini yang dibaca, sehingga mampu menemukan jawaban dan tindakan demi kemakmuran serta kesejahteraan kedepan. Semoga POTRET senantiasa hadir bukan hanya sebagai penyampai opini dan berita, tetapi juga sebagai ruang pencerdasan publik yang membentuk generasi agar tumbuh kokoh secara spiritual, matang secara intelektual, mandiri secara finansial, dan mampu mencerdaskan kehidupan agama serta bangsa.

Selamat Milad ke-23, Majalah POTRET! 🎉

Semoga terus menjadi ruang literasi yang menginspirasi, menyalakan semangat berpikir kritis, dan mencerdaskan masyarakat melalui kata-kata yang bermakna.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 225x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 208x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 162x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 134x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 133x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
190
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Catatan Perjalanan Relawan ke Beutong Ateuh

Catatan Perjalanan Relawan ke Beutong Ateuh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00