Dengarkan Artikel
Oleh Nyakman Lamjame
Pendidikan sejati bukanlah pekerjaan mekanis yang sekadar JM memindahkan data dari buku ke kepala, melainkan proses menghidupkan cahaya dalam diri manusia. Ia adalah perjalanan batin yang pelan, namun menentukan, seperti menyalakan pelita kecil di tengah ruang gelap.
Di zaman ketika kemajuan teknologi dipuja dan keberhasilan diukur dari angka serta gelar, pendidikan kerap direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja. Orientasinya menjadi ekonomis, bukan eksistensial. Kita sibuk mengejar prestise duniawi, sementara kompas moral yang seharusnya menjadi pusat orientasi hidup perlahan kehilangan daya pijarnya.
Peradaban Islam sejak awal tidak pernah memisahkan ilmu dari iman. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca, namun membaca dalam kesadaran ketuhanan. Tradisi keilmuan yang tumbuh di Madinah, berkembang di Damaskus, mencapai puncaknya di Baghdad, Kairo, hingga Andalusia, selalu berdiri di atas kesatuan antara akal dan ruh.
Para ilmuwan muslim bukan sekadar cendekiawan rasional, mereka adalah pribadi yang melihat ilmu sebagai amanah. Al Ghazali menegaskan pentingnya penyucian jiwa sebelum memperdalam logika. Ibnu Sina memahami kedokteran bukan hanya sebagai teknik penyembuhan, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan. Dalam khazanah Islam, adab mendahului ilmu, karena tanpa adab, ilmu kehilangan arah dan maknanya.
Aceh pernah berdiri dalam arus besar peradaban itu. Kesultanan Aceh Darussalam bukan hanya pusat kekuatan politik, tetapi juga simpul intelektual yang terhubung dengan dunia Islam yang luas. Masjid Raya, dayah dayah, dan balai pengkajian menjadi ruang tumbuhnya pemikiran dan spiritualitas. Ulama seperti Syamsuddin as Sumatrani dan Nuruddin ar Raniri menulis, berdialog, dan membangun kesadaran teologis sekaligus sosial.
Aceh memandang pendidikan sebagai fondasi martabat. Ilmu tidak dilepaskan dari tanggung jawab menjaga iman dan negeri. Dari tanah Serambi Mekkah ini lahir generasi yang mampu memadukan keteguhan akidah dengan keterbukaan terhadap dunia.
📚 Artikel Terkait
Kini kita berada dalam lanskap yang berbeda. Informasi mengalir tanpa henti, layar menyala hampir sepanjang waktu, dan perhatian manusia terpecah dalam fragmen fragmen singkat. Pendidikan menghadapi tantangan yang lebih halus namun lebih dalam. Bukan lagi soal akses pengetahuan, melainkan krisis makna. Murid dapat menguasai teknologi mutakhir, tetapi belum tentu memahami nilai kemanusiaan yang harus membimbing penggunaannya. Jika pendidikan hanya menekankan kompetensi teknis tanpa membangun kesadaran etis, maka kemajuan justru berpotensi melahirkan kerusakan.
Sejarah modern telah memperlihatkan bagaimana ilmu tanpa nurani dapat berubah menjadi alat eksploitasi dan kehancuran.
Karena itu pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan batin. Ia perlu menghadirkan keheningan di tengah kebisingan. Ia perlu memberi tempat bagi refleksi, tafakur, dan kesadaran diri.
Seorang pelajar tidak cukup hanya tahu bagaimana cara mencipta, tetapi juga harus memahami untuk tujuan apa ia mencipta. Dalam konteks Aceh, pendidikan yang berakar pada tradisi dayah dapat berdialog dengan sains dan teknologi modern tanpa kehilangan jati diri. Kearifan masa lalu bukan untuk dikenang sebagai nostalgia, melainkan dihidupkan kembali sebagai fondasi moral dalam menghadapi masa depan.
Peran guru dalam kerangka ini menjadi sangat mulia. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan penjaga api kesadaran. Ia memastikan bahwa rasa ingin tahu tidak berubah menjadi kesombongan, bahwa kecerdasan tidak menjauhkan murid dari empati.
Pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang utuh, yang pikirannya tajam, namun hatinya lembut, yang langkahnya mantap, namun tetap rendah hati di hadapan Tuhan.
Pada akhirnya tujuan pendidikan bukan hanya keberhasilan karier atau pencapaian sosial. Ia adalah pembentukan manusia yang mampu menjaga Matahari Iman tetap bersinar di dalam dadanya. Dari Aceh yang pernah menjadi mercusuar peradaban Islam, kita belajar bahwa kejayaan tidak dibangun semata oleh kekuatan materi, tetapi oleh kejernihan hati dan kedalaman ilmu yang berpadu dengan adab.
Jika cahaya itu tetap terjaga, maka generasi yang lahir hari ini tidak akan terombang ambing oleh perubahan zaman. Mereka akan menjadi cahaya itu sendiri, menerangi jalan sejarahnya dengan kesadaran, iman, dan tanggung jawab kemanusiaan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





