Dengarkan Artikel
Oleh : Aura Serene *
Abu-abu di atas langit merangkul raga di bawah sana. Kelompak bunga menumpahkan putik, menawar madu. Katanya hari ini akan sebaik matahari minggu lalu. Namun lembutnya sutra seolah lupa, termakan waktu.
Aliran sungai tak lagi setenang dulu, tanah pun enggan berbaik hati pada pijakan. Burung-burung di atas langit memisahkan diri, katanya, gelap sedang mengendap di pojok sana.
Aku duduk menatap semuanya—apa bumi sibuk menanggung beratnya sendiri? Bisa saja manusia kelelahan berdiri di sini.Tak ada yang tahu bagaimana akhirnya, tapi satu hal terasa pasti:hari ini, mereka tidak sedang berjalan bersama.
Aku mengambil alih selebaran itu—katanya, tulisan di sana suatu hari akan jadi ranahku. Saat itu aku hanya tersenyum, menyimpan harap dalam sikap yang kaku.
Mungkin kertasnya tak lebih dari abu, habis ditelan waktu, dan aku mengakuinya dengan ragu tanpa kepergian.
Jendelaku terbuka, sebagian—namun semilir itu penuh tipuan.
Semoga, semua baik saja. Meriksa tanpa memaksa.
📚 Artikel Terkait
Aku berada di seberang, meraup bungkusan kusut yang tertinggal. Mereka bilang, ini bukan kesalahan besar—padahal yang dimainkan adalah pikiran orang-orang penakut.
Andai rintik telah berhenti, andai tanah benar-benar terdiam, mungkin siang ini tetap cerah menyambut kami, mungkin kami masih sempat merasa segar.
Hijau yang kukenal bukan rekayasa paling rakus. Keindahan yang kulihat, bukan jejak para penjilat. Sudut pandang yang kudengar tak lebih dari bujuk rayu para penjelajah—manis yang disusun rapi untuk penenang suatu hari.
Aku menyusuri jalanan itu, tepat di hadapan mereka yang menggelegar meski tak terlihat. Tujuan yang sementara, bagi kerusakan yang terlelap.
Penerimaan kerap datang setelah segalanya selesai. Cinta yang tumbuh perlahan beterbangan, disapu hujan.
Tak ada yang benar-benar utuh, yang tertinggal hanyalah seberkas sinar di dalam gelap.
Alunan pita suaranya mengendap di telingaku. Roda berputar semakin cepat, melintasi lorong waktu. Semakin kubuka kulitnya, manis itu kian terasa, melebihi gula.
Bisa saja ini hanya angin lalu, namun hatiku tahu—ini bukan musik sewajarnya.
*Penulis adalah peserta kelas menulis 7 hari di Instagram Sigupai Mambaco
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






