Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Kesedihan, jika berlebihan, menghancurkan tubuh dan pikiran; namun jika dalam jumlah sedang, ia mempertajam kecerdasan.” — Robert Burton (1577–1640), The Anatomy of Melancholy(1621).
Melankoli, sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani Kuno, menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri.
Dari melas(μέλας) yang berarti hitam dan kholé(empedu), lahirlah istilah “empedu hitam,” sebuah metafora medis yang pertama kali dipakai oleh Hippokrates pada abad ke-5 SM.
Menurut teori humoral Hippokrates, kesehatan manusia bergantung pada keseimbangan empat cairan tubuh: darah, dahak, empedu kuning, dan empedu hitam.
Ketika empedu hitam berlebihan, manusia dianggap jatuh ke dalam kondisi melankolia dengan ditandai oleh kesedihan mendalam, depresi, dan kecenderungan murung.
Sejak saat itu, melankoli tidak berhenti menjadi sekadar istilah medis. Akan tetapi, dalam perkembangan kemudian, melankoli tumbuh menjadi gagasan filosofis, psikologis, dan sastra.
Pada Abad Pertengahan dan Renaisans, melankoli bahkan dipandang sebagai tanda intelektualitas dan kreativitas, bukan hanya soal penyakit.
Diawali Robert Burton, melalui The Anatomy of Melancholy yang terbit pada 1621, memperluas cakrawala pemaknaannya.
Dengan karya setebal 361 halaman, Anatomi Melankoli Burton merupakan sebuah ensiklopedia pengetahuan yang luas.
Ia meneliti dan mengurai rinci melankoli melalui lensa medis, filosofis, dan sastra serta memadukan kutipan dari sumber klasik-kontemporer dengan penyimpangan yang penuh humor dan refleksi tentang kondisi manusia.
Risalah anatominya ini membahas penyebab, gejala, dan penyembuhan melankoli, dengan perhatian khusus pada melankoli cinta, kecemburuan, dan melankoli religius.
Semua ulasannya membuahkan eksplorasi emosi dan pengetahuan manusia yang kaya sekaligus menyimpang.
Burton menulis dengan gaya ensiklopedis, menggabungkan filsafat, teologi, kedokteran, dan sastra untuk menyingkap ambivalensi melankolia: penderitaan yang sekaligus menjadi sumber daya kreatif.
Ia menegaskan melalui kalimat yang kini abadi: “He that increaseth wisdom, increaseth sorrow.”
Semakin dalam pengetahuan dan refleksi manusia, semakin besar pula beban melankolia yang ia tanggung.
Kutipan lain seperti “What cannot be cured must be endured” menunjukkan bahwa melankolia adalah kondisi yang harus ditanggung, bukan selalu bisa disembuhkan.
Sementara kalimat “Thou canst not think worse of me than I do of myself” menyingkap kekuatan introspektif melankolia yang sering berujung pada kritik diri dan refleksi mendalam.
Pemikiran Burton kemudian bergema dalam lintas zaman dan memengaruhi tokoh-tokoh abad sesudahnya, antara lain:
Samuel Johnson di abad-18, dikenal man of letters paling terkemuka dalam sejarah Inggris dengan karyanya seperti A Dictionary of the English Language (1755), novel filosofis Rasselas(1759) dan Lives of the Most Eminent English Poets(1779–1781).
📚 Artikel Terkait
Ia juga aktif dalam lingkaran intelektual The Literary Club, bersama James Boswell, Edmund Burke, dan tokoh-tokoh besar lainnya, menjadikan dirinya pusat diskusi sastra dan politik.
Bagi yang dijuluki Dr. Johnson atau Age of Johnson, melankolia dianggap sebagai pengalaman pribadi sekaligus refleksi moral.
Sementara, salah satu penyair besar aliran Romantisisme Inggris, John Keats, wafat di usia muda 25(1821) di Roma, menjadikan melankoli sebagai sumber estetika dan keindahan tragis, yang tampak jelas dalam puisinya Ode on Melancholy(1819).
Dalam puisi panjangnya, Endymion(1818), ada kutipan paling terkenal dari estetika melankoli: „A thing of beauty is a joy for ever.”
Selain itu, dalam Ode on a Grecian Urn(1819), Keats menulis baris yang tak kalah terkenal:
“Beauty is truth, truth beauty,—that is all
Ye know on earth, and all ye need to know.”
Jelang abad ke-20, istilah melankoli dipakai dalam disiplin psikologi. Salah satunya, Sigmund Freud(1856-1939) mengangkat melankolia ke ranah psikoanalisis.
Dalam esai Mourning and Melancholia(1917), Freud membedakan melankolia dari duka biasa dan menekankan bahwa kondisi ini melibatkan introspeksi, kehilangan, serta potensi destruktif terhadap diri.
Meskipun Freud menulis dalam kerangka klinis modern, terutama teori psikoanalisis tentang histeria dan neurosis, gagasannya tetap memiliki kesinambungan dengan Burton.
Dalam arti lain: melankolia sebagai kondisi ambivalen yang menghancurkan sekaligus memperdalam refleksi manusia.
Melankoli, dengan demikian, bukan sekadar istilah medis Yunani kuno. Ia adalah konsep yang melintasi zaman, dari Hippokrates hingga Freud, dari ensiklopedia Burton hingga puisi Keats.
Ia menjadi cermin ambivalensi manusia: penderitaan yang melahirkan kebijaksanaan, kesedihan yang mempertajam kecerdasan, dan introspeksi yang membuka jalan bagi kreativitas maupun kehancuran.
Berikut, dicangkok pada psikologi imajinasi, kutipan Burton yang menjadi ikon: “Melancholy, the mother of imagination.”
Ia melihat melankolia bukan semata penyakit jiwa, melainkan sebuah kondisi ambivalen yang justru dapat melahirkan daya cipta.
Kesedihan yang mendalam, introspeksi yang tajam, dan rasa keterasingan yang melekat pada melankolia, menurut Burton, membuka ruang bagi manusia untuk membangun dunia imajiner yang lebih kaya.
Melankolia, dalam pandangan ini, adalah energi psikis yang menggerakkan imajinasi, karena ia memaksa manusia menatap ke dalam dirinya, menimbang keterbatasan, dan menciptakan gambaran baru sebagai pelarian sekaligus sublimasi.
Jika pandangan Burton ini dikaitkan dengan pemikiran mutakhir Jean-Paul Sartre(1905-1980) tentang psikologi imajinasi, maka terlihat kesinambungan yang menarik.
Sartre, dalam L’Imaginaire(1940; Terjemahan Bentang 2000), menekankan bahwa imajinasi bukan sekadar reproduksi realitas, melainkan sebuah kebebasan radikal untuk meniadakan dunia sebagaimana adanya dan menghadirkan kemungkinan lain.
Imajinasi adalah tindakan kesadaran yang melampaui fakta, sebuah proyek eksistensial yang memungkinkan manusia menciptakan makna baru.
Dalam kerangka Sartre, melankolia dapat dipahami sebagai kondisi yang memicu kesadaran akan keterbatasan dunia nyata, sehingga mendorong manusia untuk menggunakan imajinasi sebagai jalan keluar dari absurditas dan penderitaan.
Jika Burton melihat melankolia sebagai ibu dari imajinasi karena ia melahirkan refleksi dan fantasi yang mendalam, maka Sartre menegaskan bahwa imajinasi adalah kebebasan kesadaran untuk menolak realitas yang menekan.
Jika keduanya dipertemukan, maka melankolia bukan hanya beban emosional, melainkan juga pintu menuju kreativitas.
Kesedihan yang menekan tubuh dan pikiran justru dapat memperkuat fungsi imajinasi, karena ia memaksa manusia untuk menata ulang dunia dalam bentuk simbol, puisi, seni, dan gagasan-gagasan lainnya.
Dengan demikian, melankolia dan imajinasi saling menguatkan: yang satu memberi kedalaman emosional, yang lain memberi kebebasan kreatif.
coversongs:
„My Melancholy Blues” adalah lagu Queen yang ditulis Freddie Mercury dan dirilis pada 28 Oktober 1977 sebagai penutup album News of the World.
News of the World(1977), salah satu album paling terkenal Queen yang juga berisi “We Will Rock You” dan “We Are the Champions.”
Lagu ini bernuansa jazz minimalis dan maknanya berpusat pada kesepian, patah hati, serta refleksi emosional setelah sebuah pesta berakhir dan cinta yang hilang.
credit foto berasal dari cover buku.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






