• Latest

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan

Januari 21, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan

Nyakman Lamjameby Nyakman Lamjame
Januari 21, 2026
in Esai, Indonesia, Kepemimpinan
Reading Time: 3 mins read
603
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Nyakman Lamjame

​Di bawah temaram lampu jalan yang membiaskan kabut tipis, seorang pemuda gondrong berdiri mematung di jembatan penyeberangan. Rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin malam yang dingin, membingkai wajahnya yang menyimpan gurat kegelisahan yang dalam. Di tangannya, sebuah gawai menampilkan data Islamicity Index 2024. Ia tidak sedang melihat deretan angka biasa; ia sedang menatap sebuah peta kehancuran moral yang terbungkus dalam statistik ilmiah.

​Pandangannya tertancap pada nama Irlandia, Islandia, dan Selandia Baru yang bertengger angkuh di puncak daftar Paling Islami. Ada getaran getir yang merambat di dadanya. Ia menoleh ke bawah, menatap denyut nadi negerinya, Indonesia. Sebuah negeri di mana suara azan menggetarkan angkasa setiap waktu, di mana jutaan dahi bersentuhan dengan bumi dalam sujud yang khusyuk. Namun, ia menyadari sebuah paradoks historis yang telah diperingatkan oleh para ulama besar berabad-abad silam.

​Ia teringat pada Ibnu Taimiyah, seorang ulama dari abad ke tiga belas yang pemikirannya melintasi zaman. Dalam kitabnya, ulama itu menuliskan kalimat yang sangat mengguncang nurani: Sesungguhnya Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun ia kafir, dan tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun ia Muslim. Dunia ini akan tegak dengan keadilan dan kekufuran, tetapi tidak akan tegak dengan kezaliman dan Islam.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Belajar dari Depok: Tentang Kepercayaan, Kekuasaan, dan Nilai Agama

Maret 25, 2026


​Pemuda gondrong itu tertegun. Kalimat yang ditulis berabad-abad lalu itu seolah menjadi penjelasan logis mengapa negara-negara di puncak daftar itu bisa unggul. Mereka mungkin tidak beriman secara teologis, namun mereka menegakkan keadilan yang merupakan tulang punggung peradaban. Sementara itu, di negerinya, ia melihat kezaliman sosial, korupsi yang merajalela, dan ketimpangan ekonomi masih menjadi kawan akrab sehari-hari, meski penduduknya bersyahadat.

​Ia juga teringat refleksi Syekh Muhammad Abduh saat mengunjungi Eropa berabad kemudian, yang menggemakan rasa pedih yang sama: Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, tapi tidak melihat Muslim. Aku kembali ke Timur dan melihat Muslim, tapi tidak melihat Islam.

​Kenyataan ini terasa seperti tragedi yang berulang. Kita, pemilik sah dari kitab suci yang agung, ternyata hanya menjadi penjaga sampul yang setia, sementara esensi di dalamnya seperti kejujuran dan kemanusiaan justru telah dipraktikkan dengan presisi oleh mereka yang bahkan tidak mengenal konsep halal haram secara formal.

​Pemuda gondrong itu memejamkan mata, membiarkan kebisingan kota menjadi latar belakang perenungannya. Ia membayangkan betapa mengejutkannya fakta ini bagi mereka yang mabuk akan angka kuantitas. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di planet ini, justru terlempar jauh dari orbit nilai nilai Ilahiyah dalam urusan integritas sosial. Kita terjebak dalam obesitas ritual, namun menderita busung lapar moral.

​Dalam keheningan itu, ia menyadari peringatan dari Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa kerusakan rakyat adalah akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa adalah akibat kerusakan ulama yang telah dikuasai oleh cinta harta dan kedudukan. Rantai kerusakan inilah yang membuat nilai nilai luhur Islam seolah bermigrasi ke Barat, meninggalkan kita di sini hanya dengan simbol simbol yang kian hari kian kehilangan maknanya.

​Ada yang sadar, bahwa keberagamaan kita sedang diuji bukan oleh siapa yang paling keras meneriakkan nama Tuhan, melainkan oleh siapa yang paling setia menghidupkan sifat sifat Nya dalam setiap sendi kehidupan. Malam itu, di atas jembatan yang menghubungkan dua sisi kota yang kontras, ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit. Islam tidak akan pernah tegak hanya dengan suara yang keras atau jumlah yang banyak. Islam hanya akan benar benar hadir saat kejujuran di pasar sama sucinya dengan doa di atas sajadah. Tanpa itu, kita hanya sedang merayakan sebuah cangkang kosong, sementara isinya telah lama tertinggal di seberang lautan.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com