POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Demi Anak Cucu

RedaksiOleh Redaksi
January 21, 2026
Demi Anak Cucu
🔊

Dengarkan Artikel

Demi Anak Cucu

By Asmaul Husna
Inong Literasi

Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan hijau kini hanya tinggal batang tak bernyawa. Ia tahu, semua itu bukan terjadi begitu saja. Ada keserakahan manusia yang memaksa alam berhenti bekerja sebelum waktunya, sebelum hutan sempat menjaga air, tanah, dan kehidupan seperti seharusnya.

Ingatan Fajar melayang pada liburan akhir semester lalu. Ia dan teman-temannya menghabiskan hari-hari di hutan desa: menghirup udara sejuk, bermain di sungai yang jernih, mendengar burung dan jangkrik bersahutan. Mereka menangkap ikan, tertawa, dan menikmati alam tanpa rasa takut. Kenangan itu terasa hangat, kenangan yang suatu hari ingin ia ceritakan dengan bangga kepada anak cucunya.

“Semoga di antara kita ada yang jadi besan, ya. Biar anak cucu kita bisa menikmati alam seperti yang kita rasakan sekarang,” seloroh Fajar.

“Amboiii… calon mak sinyak saja belum ada, apa pula besanan,” balas Rahmat.
Tawa mereka pun pecah, menyatu dengan riang alam sore itu.

Kini semua hanya tinggal kenangan. Air bah dari gunung di akhir November tahun lalu datang begitu cepat, mengubah segalanya. Menyapu apa pun yang dilalui, meluluhlantakkan hutan, sungai, dan rumah-rumah di sekitarnya. Banjir bandang itu tak hanya membawa kayu dan lumpur, tetapi juga menyisakan ketakutan, pada setiap hujan yang turun. Padahal hujan seharusnya menjadi tanda kehidupan: membasahi tanah gersang, menumbuhkan benih, dan membantu bunga berkembang.

Fajar kembali terdiam. Di kepalanya berputar satu pertanyaan, Apa yang bisa kulakukan agar hujan kembali menjadi sahabat bagi alam?

“Aku harus bergerak,” tekadnya. Ia pun meninggalkan hamparan kayu, membawa gagasan yang mulai tumbuh di hatinya.

“Tidak mungkin kita mampu. Ini terlalu berat. Lupakan saja rencanamu,” ujar Jal, teman seangkatannya.

📚 Artikel Terkait

Menyalakan Cahaya di Tengah Hutan

Nasionalisme Jawa-Sentris

Jamu Komunitas LRCI, Aminullah: Jadilah Duta Wisata Banda Aceh

Indonesia Siap Menantang Takdir

“Fajar, berhentilah bermimpi. Di tengah deforestasi yang makin menggila, kita akan kalah sebelum bertanding. Kita ini rakyat kecil, tak banyak yang bisa kita lakukan,” lanjutnya.

Fajar menarik napas panjang. Ternyata aku belum menemukan orang yang tepat untuk berunding, batinnya. Namun suara lain di dalam dirinya kembali menguatkan, Ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.

“Iya, aku sependapat denganmu,” kata Rahmat, teman seangkatannya yang lain.

“Usaha kita akan sia-sia kalau tidak memulihkan hulu. Masalahnya memang di sana. Kalau hulu gundul, setiap hujan pasti membawa masalah ke hilir.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka sepaham. Gagasan mereka sama. Maka mulailah mereka menyusun rencana: membentuk tim, merancang langkah kerja, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Apa pun tanggapan yang datang, Fajar dan Rahmat telah siap.

“Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?” ucap Fajar menyemangati.

Mereka akan kembali menanam pohon di hulu, memperbaiki setiap jengkal hutan yang rusak. Mereka sadar, jalan ini panjang. Dibutuhkan tenaga, biaya, dan kesabaran yang tidak sedikit.

“Mungkin kita tidak sempat melihat hasil dari apa yang kita mulai hari ini,” kata Fajar pelan, “tapi setidaknya kita sudah memulai. Kebaikan itu seperti wabah, ia menular kepada siapa pun yang melihat dan merasakannya.”

“Demi anak cucu, kan?” Rahmat tersenyum.

“Jadi… kita besanan?”
Tawa keduanya pun meledak, menggema di udara.

Dalam bayangan mereka, hutan kembali hijau. Jutaan pohon tumbuh rindang, dan milyaran akar siap menampung setiap rintik hujan, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai berkah bagi kehidupan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Moral Masyarakat dalam Bencana

Demokrasi sebagai Alat Menjinakkan Negara Lain (Analisis dalam Perspektif Global)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00