• Latest
Demi Anak Cucu - IMG_9480 | Cerpen | Potret Online

Demi Anak Cucu

Januari 21, 2026
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Demi Anak Cucu - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Demi Anak Cucu - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Demi Anak Cucu - IMG_9480 | Cerpen | Potret Online

Demi Anak Cucu

Asmaul Husna by Asmaul Husna
Januari 21, 2026
in Cerpen
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Demi Anak Cucu

By Asmaul Husna
Inong Literasi

Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan hijau kini hanya tinggal batang tak bernyawa. Ia tahu, semua itu bukan terjadi begitu saja. Ada keserakahan manusia yang memaksa alam berhenti bekerja sebelum waktunya, sebelum hutan sempat menjaga air, tanah, dan kehidupan seperti seharusnya.

Ingatan Fajar melayang pada liburan akhir semester lalu. Ia dan teman-temannya menghabiskan hari-hari di hutan desa: menghirup udara sejuk, bermain di sungai yang jernih, mendengar burung dan jangkrik bersahutan. Mereka menangkap ikan, tertawa, dan menikmati alam tanpa rasa takut. Kenangan itu terasa hangat, kenangan yang suatu hari ingin ia ceritakan dengan bangga kepada anak cucunya.

“Semoga di antara kita ada yang jadi besan, ya. Biar anak cucu kita bisa menikmati alam seperti yang kita rasakan sekarang,” seloroh Fajar.

“Amboiii… calon mak sinyak saja belum ada, apa pula besanan,” balas Rahmat.
Tawa mereka pun pecah, menyatu dengan riang alam sore itu.

Kini semua hanya tinggal kenangan. Air bah dari gunung di akhir November tahun lalu datang begitu cepat, mengubah segalanya. Menyapu apa pun yang dilalui, meluluhlantakkan hutan, sungai, dan rumah-rumah di sekitarnya. Banjir bandang itu tak hanya membawa kayu dan lumpur, tetapi juga menyisakan ketakutan, pada setiap hujan yang turun. Padahal hujan seharusnya menjadi tanda kehidupan: membasahi tanah gersang, menumbuhkan benih, dan membantu bunga berkembang.

Fajar kembali terdiam. Di kepalanya berputar satu pertanyaan, Apa yang bisa kulakukan agar hujan kembali menjadi sahabat bagi alam?

“Aku harus bergerak,” tekadnya. Ia pun meninggalkan hamparan kayu, membawa gagasan yang mulai tumbuh di hatinya.

“Tidak mungkin kita mampu. Ini terlalu berat. Lupakan saja rencanamu,” ujar Jal, teman seangkatannya.

“Fajar, berhentilah bermimpi. Di tengah deforestasi yang makin menggila, kita akan kalah sebelum bertanding. Kita ini rakyat kecil, tak banyak yang bisa kita lakukan,” lanjutnya.

Fajar menarik napas panjang. Ternyata aku belum menemukan orang yang tepat untuk berunding, batinnya. Namun suara lain di dalam dirinya kembali menguatkan, Ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.

“Iya, aku sependapat denganmu,” kata Rahmat, teman seangkatannya yang lain.

“Usaha kita akan sia-sia kalau tidak memulihkan hulu. Masalahnya memang di sana. Kalau hulu gundul, setiap hujan pasti membawa masalah ke hilir.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka sepaham. Gagasan mereka sama. Maka mulailah mereka menyusun rencana: membentuk tim, merancang langkah kerja, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Apa pun tanggapan yang datang, Fajar dan Rahmat telah siap.

“Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?” ucap Fajar menyemangati.

Mereka akan kembali menanam pohon di hulu, memperbaiki setiap jengkal hutan yang rusak. Mereka sadar, jalan ini panjang. Dibutuhkan tenaga, biaya, dan kesabaran yang tidak sedikit.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

“Mungkin kita tidak sempat melihat hasil dari apa yang kita mulai hari ini,” kata Fajar pelan, “tapi setidaknya kita sudah memulai. Kebaikan itu seperti wabah, ia menular kepada siapa pun yang melihat dan merasakannya.”

“Demi anak cucu, kan?” Rahmat tersenyum.

“Jadi… kita besanan?”
Tawa keduanya pun meledak, menggema di udara.

ADVERTISEMENT

Dalam bayangan mereka, hutan kembali hijau. Jutaan pohon tumbuh rindang, dan milyaran akar siap menampung setiap rintik hujan, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai berkah bagi kehidupan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 368x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 332x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Demi Anak Cucu - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
Demi Anak Cucu - d244e54c cddb 42eb 94da 81f4f48ab325 | Cerpen | Potret Online

Demokrasi sebagai Alat Menjinakkan Negara Lain (Analisis dalam Perspektif Global)

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com