Dengarkan Artikel
Oleh: Mustiar Ar
I. Kata yang Tidak Pernah Netral
Kata tidak pernah netral.
Ia selalu membawa sikap, menyimpan arah, dan kadang—tanpa disadari—menentukan nasib. Karena itulah, sejak awal, menulis tidak pernah sekadar aktivitas bahasa, melainkan tindakan etis.
Ketika Majalah POTRET pertama kali terbit pada 11 Januari 2003, ia hadir bukan sebagai pelengkap rak bacaan, tetapi sebagai ruang keberanian. Di tengah situasi sosial yang masih belajar berbicara jujur pascareformasi, POTRET memilih berpihak pada kata yang berpikir—bukan kata yang sekadar berbunyi.
POTRET tidak lahir dari keinginan menjadi ramai, melainkan dari kegelisahan untuk tetap waras di tengah arus opini yang sering kali tergesa. Sejak mula, ia menempatkan literasi sebagai kerja merawat nalar, bukan sekadar mengisi halaman.
II. Potret sebagai Rumah Gagasan
Berbeda dengan banyak media yang mengejar kecepatan, POTRET memilih ketekunan. Ia menjadi rumah bagi gagasan yang tidak selalu populer, tetapi penting. Tempat di mana kritik tidak dilahirkan dari amarah, melainkan dari pembacaan yang cermat terhadap realitas sosial.
Dalam POTRET, kata tidak dipaksa untuk segera sampai pada kesimpulan. Ia diberi ruang untuk ragu, bertanya, dan berkembang. Sikap inilah yang membuat POTRET bertahan, bukan karena mengikuti selera zaman, melainkan karena memelihara daya ingat kolektif.
Di sini, menulis bukan untuk mengalahkan pihak lain, melainkan untuk memperjelas persoalan.
III. Perubahan Medium dan Ujian Kesetiaan
Transformasi POTRET menjadi potretonline.com adalah keniscayaan zaman. Namun perubahan medium selalu membawa risiko: apakah kedalaman masih mungkin bertahan ketika segalanya dituntut ringkas dan cepat?
Di era digital, tulisan sering dipersempit menjadi sekadar konten. Opini diukur dari jumlah interaksi, bukan dari bobot pemikiran. Dalam situasi semacam ini, bertahan pada literasi yang reflektif bukan pilihan aman—justru sebaliknya.
Namun POTRET memilih tetap setia pada niat awalnya. Ia menyesuaikan cara hadir, tanpa menggadaikan nilai. Sebuah sikap yang barangkali tidak spektakuler, tetapi konsisten.
IV. Literasi di Tengah Zaman yang Gemar Berisik
📚 Artikel Terkait
Tema “POTRET yang Lahir dari Kata: Merawat Literasi, Menjaga Zaman” mengandung kegelisahan yang relevan hari ini. Sebab di tengah banjir informasi, justru makna yang paling sering tenggelam.
Literasi kerap dipersempit menjadi kemampuan membaca teks, padahal hakikatnya adalah kemampuan membaca situasi. Membaca ketimpangan yang dibungkus normalitas. Membaca kebijakan yang rapi di atas kertas, tetapi timpang di lapangan. Membaca kemiskinan yang kerap disalahkan pada individu, bukan pada sistem.
POTRET mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan sikap berpikir. Dan sikap semacam ini menuntut kesabaran, ketelitian, serta keberanian untuk tidak ikut larut dalam kebisingan.
V. Satire yang Beretika
Satire dalam tradisi POTRET tidak pernah diarahkan untuk mempermalukan yang lemah. Ia tidak menjadikan rakyat sebagai bahan tertawaan, melainkan mengarahkan senyum getirnya pada struktur kuasa yang kerap merasa paling benar.
Satire semacam ini bekerja secara halus. Ia tidak memaki, tetapi menyadarkan. Tidak menghakimi, tetapi mempertanyakan. Dalam dunia yang gemar berteriak, POTRET justru mengajukan kritik dengan nada tenang—dan justru karena itu terasa lebih menusuk.
Di sinilah satire menemukan martabatnya: bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai alat refleksi.
VI. Apresiasi sebagai Etika, Bukan Perayaan
Dalam dunia literasi, apresiasi sejati tidak selalu hadir dalam bentuk perayaan. Ia lebih sering hadir sebagai pengakuan diam-diam terhadap kerja berpikir yang jujur dan bertanggung jawab.
POTRET menempatkan apresiasi bukan pada hiruk-pikuk hasil, melainkan pada kesungguhan proses. Memberi ruang bagi tulisan untuk dibaca, diuji, dan dipertemukan dengan pembaca yang berpikir adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kata.
Sikap ini menunjukkan bahwa POTRET tidak sedang mengumpulkan tulisan, melainkan merawat ekosistem berpikir. Di mana penulis tidak dipacu untuk menang, tetapi diajak untuk matang.
Apresiasi, dalam pengertian ini, adalah kepercayaan—bahwa kata yang ditulis dengan kesadaran akan menemukan nilainya sendiri.
VII. Kata sebagai Penjaga Akal Sehat Zaman
Zaman bergerak cepat, sering kali tanpa jeda untuk merenung. Di tengah percepatan itu, kata berisiko kehilangan martabatnya, nalar tergelincir menjadi reaksi instan, dan ingatan publik terkikis oleh kelelahan informasi.
POTRET berdiri di titik yang berbeda. Ia tidak menolak perubahan, tetapi menolak kehilangan akal sehat. Dengan merawat literasi, POTRET menjaga agar perubahan tetap berpijak pada pertimbangan etis dan kesadaran sosial.
Ia tidak berlomba menjadi yang paling cepat, melainkan berusaha menjadi yang paling jernih. Tidak sibuk memproduksi kesimpulan, tetapi setia merawat pertanyaan.
Dan selama kata masih diperlakukan sebagai tanggung jawab, bukan sekadar alat, POTRET akan tetap relevan—bukan karena mengikuti zaman, tetapi karena mengingatkan zaman untuk berpikir.
Penutup: Kata sebagai Ingatan
POTRET lahir dari kata.
Dan kata, jika dirawat dengan nalar dan etika, akan selalu menemukan jalannya pulang.
Lomba menulis ini bukan sekadar peringatan usia, melainkan penegasan sikap: bahwa di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, masih ada ruang untuk menulis dengan tenang, membaca dengan jujur, dan berpikir dengan tanggung jawab.
Karena pada akhirnya,
menulis bukan tentang menjadi paling terdengar,
melainkan tentang menjaga agar yang penting tidak hilang.
Meulaboh,17 Januari 2026
Biografi penulis :
Mustiar Ar adalah penulis dan pegiat literasi dari Meulaboh, Aceh Barat. Ia menaruh minat pada penulisan opini, esai reflektif, puisi, dan narasi sosial dengan pendekatan satire santun dan bahasa elegan. Karya-karyanya kerap menyoroti isu literasi, kemanusiaan, dan dinamika sosial dari perspektif pinggiran. Bagi Mustiar Ar, menulis adalah cara menjaga nalar, merawat ingatan, dan memberi makna pada kata di tengah perubahan zaman.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






