HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hebat, Indonesia dan Malaysia Berani Blokir Produk Amerika

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Januari 13, 2026
in Artificial Intelligence, Artikel, komunikasi, Teknologi
Reading Time: 3 mins read
0
Hebat, Indonesia dan Malaysia Berani Blokir Produk Amerika
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Siapa bilang Indonesia negara penakut. Komdigi di bawah Meutya Hafid berani blokir produk Amerika Serikat, tepatnya Grok Ai besutan Elon Musk. Saya suka sikap beraninya. Malaysia juga ikut blokir. Ada kawan ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Dalam sebuah episode yang layak difilmkan oleh Christopher Nolan dan disutradarai ulang oleh Deddy Mizwar, Indonesia dan Malaysia tampil sebagai duet maut Asia Tenggara yang menantang hegemoni teknologi global. Pada 10 Januari 2026, Indonesia menekan tombol merah, Grok AI diblokir. Malaysia menyusul keesokan harinya. Alasannya bukan karena Grok menyebarkan paham radikal atau mengancam stabilitas negara, tapi karena ia, dengan kecerdasannya yang luar biasa, dipakai untuk menciptakan deepfake bokep. Ya, teknologi mutakhir dari Silicon Valley itu ternyata lebih sering dipakai untuk membuat konten cabul ketimbang menyelamatkan umat manusia dari krisis eksistensial.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, menyatakan pemblokiran ini sebagai bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak. Malaysia, tak mau kalah, menyebut X Corp (pemilik Grok) gagal total dalam mengendalikan konten eksplisit. Dua negara ini, yang biasanya hanya jadi pasar pasif bagi produk luar, kini tampil sebagai penjaga moral digital. Dunia terdiam. Silicon Valley bingung. Di suatu tempat di orbit rendah bumi, mungkin saja Elon Musk tertawa.

Ya, Elon Musk, manusia terkaya di kolong langit, pemilik kekayaan senilai US$726,3 miliar atau sekitar Rp11.620 triliun, mungkin sedang duduk di dalam kapsul SpaceX sambil menyeruput Koptagul antariksa, menyaksikan dua negara tropis ini mencoba menertibkan ciptaannya. Ia adalah penguasa angkasa, pemilik Tesla, SpaceX, Neuralink, dan kini Grok, AI yang katanya bisa menjawab segalanya, kecuali pertanyaan, “Kenapa kamu jadi alat produksi bokep?”

Yang menarik, Musk belum mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada cuitan sarkastik, tidak ada meme Doge, tidak ada sindiran terhadap “AI woke police.” Mungkin ia sedang menulis puisi tentang kebebasan digital, atau sedang sibuk menghitung berapa banyak negara lagi yang harus memblokir Grok sebelum ia peduli. Atau mungkin, dalam gaya khasnya, ia sedang menyiapkan balasan dalam bentuk roket.

Sementara itu, pengguna Grok di Indonesia dan Malaysia tidak tinggal diam. Mereka mengaktifkan VPN, menyamar sebagai warga Zurich atau Toronto, dan kembali bercengkerama dengan AI favorit mereka. Pemerintah tahu, tapi tetap bersikukuh, ini soal prinsip, bukan sekadar akses. Grok boleh pintar, tapi kalau jadi alat kriminal, ya silakan minggir dulu.

Negara-negara lain? Masih diam. Amerika Serikat? Sibuk mikirkan negara mana lagi mau diculik presidennya. Uni Eropa? Sibuk audit. Tapi Indonesia dan Malaysia sudah melangkah duluan, seperti dua pendekar digital yang menolak tunduk pada algoritma cabul. Apakah ini awal dari kebangkitan Asia Tenggara sebagai kekuatan moral digital? Ataukah hanya intermezzo dalam opera besar kapitalisme teknologi?

Yang jelas, untuk pertama kalinya, dua negara yang sering dianggap “pasar” justru tampil sebagai wasit. Grok, AI superpintar itu harus puas jadi penonton. Sementara Elon Musk, sang triliuner penguasa angkasa, mungkin sedang tertawa. Tapi siapa tahu, di balik tawanya, ada sedikit rasa kagum. Karena tidak setiap hari ada negara yang berani bilang, “Maaf, AI-mu terlalu cabul untuk kami.”
Siap, wak. Ini pesan moralnya, gaya camanewak, pendek tapi nyeletuk:

Teknologi setinggi langit tak otomatis lebih bermartabat dari manusia. Ketika AI lebih rajin melayani syahwat dari akal sehat, negara wajib turun tangan. Bukan untuk memusuhi kemajuan, tapi untuk mengingatkan, kecerdasan tanpa etika cuma mesin mahal yang salah alamat. Sesekali, berkata tidak pada raksasa global justru cara paling waras menjaga harga diri.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 267x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 243x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 168x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 138x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Next Post

Arah Tangan, Arah Hidup

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com