POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hebat, Indonesia dan Malaysia Berani Blokir Produk Amerika

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 13, 2026
Hebat, Indonesia dan Malaysia Berani Blokir Produk Amerika
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Siapa bilang Indonesia negara penakut. Komdigi di bawah Meutya Hafid berani blokir produk Amerika Serikat, tepatnya Grok Ai besutan Elon Musk. Saya suka sikap beraninya. Malaysia juga ikut blokir. Ada kawan ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dalam sebuah episode yang layak difilmkan oleh Christopher Nolan dan disutradarai ulang oleh Deddy Mizwar, Indonesia dan Malaysia tampil sebagai duet maut Asia Tenggara yang menantang hegemoni teknologi global. Pada 10 Januari 2026, Indonesia menekan tombol merah, Grok AI diblokir. Malaysia menyusul keesokan harinya. Alasannya bukan karena Grok menyebarkan paham radikal atau mengancam stabilitas negara, tapi karena ia, dengan kecerdasannya yang luar biasa, dipakai untuk menciptakan deepfake bokep. Ya, teknologi mutakhir dari Silicon Valley itu ternyata lebih sering dipakai untuk membuat konten cabul ketimbang menyelamatkan umat manusia dari krisis eksistensial.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, menyatakan pemblokiran ini sebagai bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak. Malaysia, tak mau kalah, menyebut X Corp (pemilik Grok) gagal total dalam mengendalikan konten eksplisit. Dua negara ini, yang biasanya hanya jadi pasar pasif bagi produk luar, kini tampil sebagai penjaga moral digital. Dunia terdiam. Silicon Valley bingung. Di suatu tempat di orbit rendah bumi, mungkin saja Elon Musk tertawa.

Ya, Elon Musk, manusia terkaya di kolong langit, pemilik kekayaan senilai US$726,3 miliar atau sekitar Rp11.620 triliun, mungkin sedang duduk di dalam kapsul SpaceX sambil menyeruput Koptagul antariksa, menyaksikan dua negara tropis ini mencoba menertibkan ciptaannya. Ia adalah penguasa angkasa, pemilik Tesla, SpaceX, Neuralink, dan kini Grok, AI yang katanya bisa menjawab segalanya, kecuali pertanyaan, “Kenapa kamu jadi alat produksi bokep?”

Yang menarik, Musk belum mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada cuitan sarkastik, tidak ada meme Doge, tidak ada sindiran terhadap “AI woke police.” Mungkin ia sedang menulis puisi tentang kebebasan digital, atau sedang sibuk menghitung berapa banyak negara lagi yang harus memblokir Grok sebelum ia peduli. Atau mungkin, dalam gaya khasnya, ia sedang menyiapkan balasan dalam bentuk roket.

📚 Artikel Terkait

Budaya Ukir Inai Dilombakan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Nada-Nada Alam yang Membentuk Kekuatan

Hakikat Kata dan Nada: Menyelami Tembang Puitik bersama Ananda Sukarlan

Sementara itu, pengguna Grok di Indonesia dan Malaysia tidak tinggal diam. Mereka mengaktifkan VPN, menyamar sebagai warga Zurich atau Toronto, dan kembali bercengkerama dengan AI favorit mereka. Pemerintah tahu, tapi tetap bersikukuh, ini soal prinsip, bukan sekadar akses. Grok boleh pintar, tapi kalau jadi alat kriminal, ya silakan minggir dulu.

Negara-negara lain? Masih diam. Amerika Serikat? Sibuk mikirkan negara mana lagi mau diculik presidennya. Uni Eropa? Sibuk audit. Tapi Indonesia dan Malaysia sudah melangkah duluan, seperti dua pendekar digital yang menolak tunduk pada algoritma cabul. Apakah ini awal dari kebangkitan Asia Tenggara sebagai kekuatan moral digital? Ataukah hanya intermezzo dalam opera besar kapitalisme teknologi?

Yang jelas, untuk pertama kalinya, dua negara yang sering dianggap “pasar” justru tampil sebagai wasit. Grok, AI superpintar itu harus puas jadi penonton. Sementara Elon Musk, sang triliuner penguasa angkasa, mungkin sedang tertawa. Tapi siapa tahu, di balik tawanya, ada sedikit rasa kagum. Karena tidak setiap hari ada negara yang berani bilang, “Maaf, AI-mu terlalu cabul untuk kami.”
Siap, wak. Ini pesan moralnya, gaya camanewak, pendek tapi nyeletuk:

Teknologi setinggi langit tak otomatis lebih bermartabat dari manusia. Ketika AI lebih rajin melayani syahwat dari akal sehat, negara wajib turun tangan. Bukan untuk memusuhi kemajuan, tapi untuk mengingatkan, kecerdasan tanpa etika cuma mesin mahal yang salah alamat. Sesekali, berkata tidak pada raksasa global justru cara paling waras menjaga harga diri.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Arah Tangan, Arah Hidup

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00