• Latest
AWANKAH YANG BERDUSTA

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

Juni 22, 2022
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

Catatan "kecil" dari Pengamat "Jalanan".

Redaksiby Redaksi
Juni 22, 2022
Reading Time: 3 mins read
AWANKAH YANG BERDUSTA
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Zulkifli Abdy Politik selalu saja memiliki pesona sebagai wahana berdemokrasi, dan membutuhkan relasi yang didominasi oleh kepentingan. Sehingga politik tak jarang pula dapat menggerus nilai-nilai persahabatan. Politik semestinya senantiasa dapat memberi manfaat bagi kehidupan bermasyarakat, dan jangan biarkan politik “memakan” apa saja sebagai mangsa. Kendati hampir semua orang tahu, tetapi banyak pula orang yang […]

Oleh Zulkifli Abdy

Politik selalu saja memiliki pesona sebagai wahana berdemokrasi, dan membutuhkan relasi yang didominasi oleh kepentingan. Sehingga politik tak jarang pula dapat menggerus nilai-nilai persahabatan.

Politik semestinya senantiasa dapat memberi manfaat bagi kehidupan bermasyarakat, dan jangan biarkan politik “memakan” apa saja sebagai mangsa. Kendati hampir semua orang tahu, tetapi banyak pula orang yang lupa atau bahkan pura-pura tidak tahu, bahwa politik itu juga mengusung nilai-nilai transedental yang luhur, yakni perkhidmatan untuk kemaslahatan.

Dalam konteks Indonesia, terutama di era pascareformasi, politik telah menjadi semacam “perayaan” yang tak pernah sepi, bahkan kerap menimbulkan kegaduhan hampir di sepanjang tahun.

Hal mana mungkin disebabkan oleh siklusnya yang secara berkala selalu berada pada “koma”, dan tidak pernah menemukan “titik” di mana semuanya harus berakhir.

Maka tidak berlebihan kalau kiprah seseorang di dunia politik tidak mengenal kata purna, yang ada hanya pengembaraan tanpa batas waktu.

Demikian hebatnya pesona dunia politik, sehingga para politisi tidak pernah akan berhenti hanya karena mengalami kegagalan semata. Bahkan adagium, “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” selalu dijadikan alasan oleh pegiat politik untuk tidak pernah berhenti.

Strategi dalam politik bukan hanya digunakan untuk menghadapi lawan, melainkan juga untuk menyiasati kawan. Sehingga ketika bekerjasama sekalipun, pertimbangan politik senantiasa menjadi rujukan bagi para pihak, paling tidak sebagai sarana untuk memantau pergerakan baik lawan maupun kawan.

Dua puluh tahun terakhir, suka atau tidak, Indonesia telah menjadi negara “industri politik” salah satu yang terbesar di dunia.

Inilah dampak nyata dari reformasi, sehingga di Indonesia segala sesuatunya diukur dengan parameter politik.

Pemilu serentak, agenda lima tahunan dengan tingkat partisipan ribuan calon sebagai kontestan, baik legislatif maupun eksekutif, telah menjadikan UKM yang bergerak di bidang digital printing, alat peraga atau atribut kampanye mengalami booming.

Itulah dampak ekonomi yang kita rasakan, namun pada sisi lain dampak moral dan sosial yang diakibatkannya juga sangat besar. Di mana budaya korupsi menjadi sangat menggejala, hal mana sebagai akibat dari besarnya cost politic atau biaya politik yang mesti digelontorkan oleh para kontestan. Hal ini terjadi akibat dari politik pragmatis yang dianggap sebagian politisi sebagai suatu keniscayaan di era yang serba “instan” ini.

Agaknya mesti ada ikhtiar dari segenap elemen bangsa, termasuk tumbuhnya kesadaran dari masyarakat luas untuk menafikan politik uang. Karena sesungguhnya itulah yang merusak sendi-sendi kehidupan bernegara kita, termasuk korupsi yang telah menjadi semacam parasit yang terus menggerogoti kehidupan berbangsa kita.

Korupsi menjadi sangat sulit diberantas, karena akar masalahnya tidak pernah “tersentuh”. Kita selalu melihat korupsi pada bagian hilirnya saja, ketika semuanya telah terjadi, dan kita tidak pernah melihatnya ke hulu, tempat dimana korupsi itu bermula.

Akhirnya korupsi itu pun menjadi trend dan gaya hidup, sehingga sebagian orang merasa tidak lengkap kalau tidak mengikuti kecenderungan ini.

Apalagi tuntutan gaya hidup hedonis dan konsumtif, yang membuat orang terdorong untuk melakukan korupsi sebagai jalan pintas untuk mendapatkan sebanyak mungkin uang.

Agaknya semua itu dapat di “reduksi” dengan menanamkan nilai-nilai agama sebagai penangkal, apapun agama yang dianut seseorang. Karena tidak ada satu agama pun yang membenarkan perbuatan yang merusak generasi harapan bangsa itu terjadi.

Mungkin dibutuhkan suatu “revolusi kecil” untuk mengubah kondisi yang kalau kita ibaratkan sebagai penyakit telah akut ini.

Setidaknya ada ikhtiar untuk menggugah keinginan bersama di antara para pemimpin dan tokoh bangsa, politisi serta masyarakat luas untuk segera keluar dari “zona” tidak nyaman ini. Untuk selanjutnya segera mencari dan menemukan format baru yang lebih bermoral dan bermartabat.

Zulkifli Abdy

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

Discussion about this post

Next Post
Sebuah Kematangan Perjalanan Dari Mahdi Idris

Sebuah Kematangan Perjalanan Dari Mahdi Idris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com