• Latest
PESONA POLITIK DAN KORUPSI - 36AB306B 9E5C 4982 BA3F 6A563392C695 | Essay | Potret Online

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

Juni 22, 2022
Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
IMG_0733

Berjuang Hingga Akhir

April 11, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
PESONA POLITIK DAN KORUPSI - 36AB306B 9E5C 4982 BA3F 6A563392C695 | Essay | Potret Online

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

Catatan "kecil" dari Pengamat "Jalanan".

Redaksi by Redaksi
Juni 22, 2022
in Essay, Frame
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Baca Juga

phpThumb_generated_thumbnail

Perempuan Pelindung Laki-Laki

April 6, 2026
PESONA POLITIK DAN KORUPSI - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Essay | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
PESONA POLITIK DAN KORUPSI - 9154bb9b 6587 4b8f baa1 a1aa4a22f49c | Essay | Potret Online

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026

Oleh Zulkifli Abdy

Politik selalu saja memiliki pesona sebagai wahana berdemokrasi, dan membutuhkan relasi yang didominasi oleh kepentingan. Sehingga politik tak jarang pula dapat menggerus nilai-nilai persahabatan.

Baca Juga:
  • Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa
  • Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
  • Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Politik semestinya senantiasa dapat memberi manfaat bagi kehidupan bermasyarakat, dan jangan biarkan politik “memakan” apa saja sebagai mangsa. Kendati hampir semua orang tahu, tetapi banyak pula orang yang lupa atau bahkan pura-pura tidak tahu, bahwa politik itu juga mengusung nilai-nilai transedental yang luhur, yakni perkhidmatan untuk kemaslahatan.

Dalam konteks Indonesia, terutama di era pascareformasi, politik telah menjadi semacam “perayaan” yang tak pernah sepi, bahkan kerap menimbulkan kegaduhan hampir di sepanjang tahun.

Hal mana mungkin disebabkan oleh siklusnya yang secara berkala selalu berada pada “koma”, dan tidak pernah menemukan “titik” di mana semuanya harus berakhir.

Maka tidak berlebihan kalau kiprah seseorang di dunia politik tidak mengenal kata purna, yang ada hanya pengembaraan tanpa batas waktu.

Demikian hebatnya pesona dunia politik, sehingga para politisi tidak pernah akan berhenti hanya karena mengalami kegagalan semata. Bahkan adagium, “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” selalu dijadikan alasan oleh pegiat politik untuk tidak pernah berhenti.

Strategi dalam politik bukan hanya digunakan untuk menghadapi lawan, melainkan juga untuk menyiasati kawan. Sehingga ketika bekerjasama sekalipun, pertimbangan politik senantiasa menjadi rujukan bagi para pihak, paling tidak sebagai sarana untuk memantau pergerakan baik lawan maupun kawan.

Dua puluh tahun terakhir, suka atau tidak, Indonesia telah menjadi negara “industri politik” salah satu yang terbesar di dunia.

Inilah dampak nyata dari reformasi, sehingga di Indonesia segala sesuatunya diukur dengan parameter politik.

Pemilu serentak, agenda lima tahunan dengan tingkat partisipan ribuan calon sebagai kontestan, baik legislatif maupun eksekutif, telah menjadikan UKM yang bergerak di bidang digital printing, alat peraga atau atribut kampanye mengalami booming.

Itulah dampak ekonomi yang kita rasakan, namun pada sisi lain dampak moral dan sosial yang diakibatkannya juga sangat besar. Di mana budaya korupsi menjadi sangat menggejala, hal mana sebagai akibat dari besarnya cost politic atau biaya politik yang mesti digelontorkan oleh para kontestan. Hal ini terjadi akibat dari politik pragmatis yang dianggap sebagian politisi sebagai suatu keniscayaan di era yang serba “instan” ini.

Agaknya mesti ada ikhtiar dari segenap elemen bangsa, termasuk tumbuhnya kesadaran dari masyarakat luas untuk menafikan politik uang. Karena sesungguhnya itulah yang merusak sendi-sendi kehidupan bernegara kita, termasuk korupsi yang telah menjadi semacam parasit yang terus menggerogoti kehidupan berbangsa kita.

Korupsi menjadi sangat sulit diberantas, karena akar masalahnya tidak pernah “tersentuh”. Kita selalu melihat korupsi pada bagian hilirnya saja, ketika semuanya telah terjadi, dan kita tidak pernah melihatnya ke hulu, tempat dimana korupsi itu bermula.

Akhirnya korupsi itu pun menjadi trend dan gaya hidup, sehingga sebagian orang merasa tidak lengkap kalau tidak mengikuti kecenderungan ini.

Apalagi tuntutan gaya hidup hedonis dan konsumtif, yang membuat orang terdorong untuk melakukan korupsi sebagai jalan pintas untuk mendapatkan sebanyak mungkin uang.

Agaknya semua itu dapat di “reduksi” dengan menanamkan nilai-nilai agama sebagai penangkal, apapun agama yang dianut seseorang. Karena tidak ada satu agama pun yang membenarkan perbuatan yang merusak generasi harapan bangsa itu terjadi.

Mungkin dibutuhkan suatu “revolusi kecil” untuk mengubah kondisi yang kalau kita ibaratkan sebagai penyakit telah akut ini.

Setidaknya ada ikhtiar untuk menggugah keinginan bersama di antara para pemimpin dan tokoh bangsa, politisi serta masyarakat luas untuk segera keluar dari “zona” tidak nyaman ini. Untuk selanjutnya segera mencari dan menemukan format baru yang lebih bermoral dan bermartabat.

Zulkifli Abdy

SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya
Psikologi

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172
Iran

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db
Esai

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026
# Ironi

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
Next Post
PESONA POLITIK DAN KORUPSI - 0D708C3A 8092 4F84 979B 6F13BE90FF95 | Essay | Potret Online

Sebuah Kematangan Perjalanan Dari Mahdi Idris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com