• Latest

Memulihkan Ibu Pertiwi

Januari 3, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memulihkan Ibu Pertiwi

Asmaul Husna by Asmaul Husna
Januari 3, 2026
in #Cerpen, #Korban Bencana, #Sumatera Utara, Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Sumatera Barat
Reading Time: 3 mins read
0
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)

Syifa, gadis berkerudung biru itu tampak gelisah. Jemarinya sibuk memainkan sedotan plastik di dalam gelas yang sudah hampir kosong, sementara menu utama yang ia pesan telah lama habis, menyisakan piring putih tanpa jejak. Sesekali ia melirik arlojinya, lalu menoleh ke sekeliling. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Meski di sisinya telah duduk beberapa rekan, kegelisahan itu tak juga mereda.

“Ada apa, ya? Dia tidak pernah mangkir selama ini,” gumamnya dalam hati, diliputi rasa risau yang sulit dijelaskan.

“Assalamualaikum. Maaf ya, saya terlambat. Ada sedikit insiden.”
Suara itu membuat Syifa spontan menoleh. Malik, sosok yang sedari tadi ditunggu, akhirnya datang. Ia adalah ketua mereka, seorang pemuda sederhana berambut ikal, tak pandai berbasa-basi, namun setiap gagasan yang ia sampaikan selalu sampai ke hati. Kehadirannya seakan menjadi penanda bahwa pertemuan benar-benar dimulai.

Mereka adalah sekelompok generasi Z yang hidup di tengah arus perkembangan teknologi yang melaju tanpa jeda. Serbuan informasi datang bertubi-tubi, menyerang dari berbagai arah, nyaris tanpa saringan. Namun mereka bukan gen Z yang larut begitu saja. Mereka terhimpun dalam sebuah komunitas kecil, membahas persoalan besar, sesuatu yang menyangkut keberlangsungan nurani anak bangsa.

“Sepertinya kita harus menggandeng para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa dari beberapa kampus di kota ini,” ujar Malik membuka pembicaraan.

“Agar suara kita lebih didengar dan gerakan ini berdampak lebih luas.”
Usul itu langsung diaminkan oleh sebagian besar peserta.

“Iya, saya sepakat,” sahut Syifa. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.”

Keprihatinan mereka berakar pada musibah yang meluluhlantakkan Sumatera pada akhir November lalu, sebuah penutup tahun yang kelabu. Air bah datang tanpa ampun, memporak-porandakan jembatan dan fasilitas umum, menelan rumah-rumah yang dibangun dengan perjuangan bertahun-tahun. Desa-desa tenggelam, lumpur menutup jalan, dan harapan seakan ikut hanyut bersama arus deras. Harta benda yang dikumpulkan dengan kerja keras dan keringat lenyap seketika, menyisakan nyawa sebagai satu-satunya harta paling berharga.

Seluruh mata tertuju ke Sumatera. Uluran tangan datang dari berbagai penjuru. Donasi mengalir tanpa terhalang jarak dan tapal batas. Ribuan relawan berjibaku dengan lumpur dan tanah basah yang entah kapan akan mengering. Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan, sekecil apa pun, demi menghapus duka sesama. Dalam situasi seperti itu, misi kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.

Namun di sudut lain ibu kota, masih banyak anak bangsa yang terbuai kenyamanan. Rasa simpati perlahan tergerus, kepedulian memudar, dan rasa senasib sepenanggungan menguap begitu saja. Waktu dihabiskan untuk “membunuh waktu”: bermain game di layar genggaman, berpindah dari satu tempat tongkrongan ke tempat lainnya, berburu jaringan Wi-Fi tercepat. Padahal, di pundak merekalah kelanjutan negeri ini bergantung.

Malik dan teman-temannya menyadari hal itu. Mereka bertekad mengajak generasi muda tersebut untuk terjun langsung ke lokasi bencana. Membersihkan fasilitas umum dari kubangan lumpur yang kian enggan beranjak. Bukan sekadar hadir sebagai simbol, tetapi terlibat secara nyata. Karena itu, mereka berencana meminta bantuan kepada para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang memiliki koneksi dengan pembantu rektor III bidang kemahasiswaan, untuk menyerukan gerakan bersama lintas kampus.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

“Niat baik saja tidak cukup,” ucap Syifa pelan, mengingat sebuah kalimat yang pernah ia baca berulang-ulang.

“Kita juga perlu mengandalkan mereka yang punya kuasa.” Kini, kalimat itu terasa semakin bermakna.

Bagi mereka, ini bukan soal seberapa banyak lumpur yang mampu disingkirkan. Bukan pula tentang berapa banyak sekolah yang kembali berfungsi, atau berapa masjid yang kembali siap menampung jamaah. Mungkin hasil fisiknya tak seberapa. Namun mereka yakin, akan ada banyak ego yang terkikis, bongkahan gengsi yang runtuh, dan tembok ketidakpedulian yang perlahan retak.
Dari sana, rasa kemanusiaan anak negeri diharapkan tumbuh kembali. Mengalir dalam empati yang sempat menghilang. Bahu-membahu, tanpa sekat latar belakang, memulihkan ibu pertiwi, bukan hanya tanahnya, tetapi juga jiwanya.

“Tidak perlu menunggu sempurna untuk bertindak,” kata Malik menutup pertemuan, seperti yang selalu ia lakukan di setiap rapat.
“Bertindaklah untuk menutupi kekurangan.”

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com