Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)
Syifa, gadis berkerudung biru itu tampak gelisah. Jemarinya sibuk memainkan sedotan plastik di dalam gelas yang sudah hampir kosong, sementara menu utama yang ia pesan telah lama habis, menyisakan piring putih tanpa jejak. Sesekali ia melirik arlojinya, lalu menoleh ke sekeliling. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Meski di sisinya telah duduk beberapa rekan, kegelisahan itu tak juga mereda.
“Ada apa, ya? Dia tidak pernah mangkir selama ini,” gumamnya dalam hati, diliputi rasa risau yang sulit dijelaskan.
“Assalamualaikum. Maaf ya, saya terlambat. Ada sedikit insiden.”
Suara itu membuat Syifa spontan menoleh. Malik, sosok yang sedari tadi ditunggu, akhirnya datang. Ia adalah ketua mereka, seorang pemuda sederhana berambut ikal, tak pandai berbasa-basi, namun setiap gagasan yang ia sampaikan selalu sampai ke hati. Kehadirannya seakan menjadi penanda bahwa pertemuan benar-benar dimulai.
Mereka adalah sekelompok generasi Z yang hidup di tengah arus perkembangan teknologi yang melaju tanpa jeda. Serbuan informasi datang bertubi-tubi, menyerang dari berbagai arah, nyaris tanpa saringan. Namun mereka bukan gen Z yang larut begitu saja. Mereka terhimpun dalam sebuah komunitas kecil, membahas persoalan besar, sesuatu yang menyangkut keberlangsungan nurani anak bangsa.
“Sepertinya kita harus menggandeng para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa dari beberapa kampus di kota ini,” ujar Malik membuka pembicaraan.
“Agar suara kita lebih didengar dan gerakan ini berdampak lebih luas.”
Usul itu langsung diaminkan oleh sebagian besar peserta.
“Iya, saya sepakat,” sahut Syifa. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.”
📚 Artikel Terkait
Keprihatinan mereka berakar pada musibah yang meluluhlantakkan Sumatera pada akhir November lalu, sebuah penutup tahun yang kelabu. Air bah datang tanpa ampun, memporak-porandakan jembatan dan fasilitas umum, menelan rumah-rumah yang dibangun dengan perjuangan bertahun-tahun. Desa-desa tenggelam, lumpur menutup jalan, dan harapan seakan ikut hanyut bersama arus deras. Harta benda yang dikumpulkan dengan kerja keras dan keringat lenyap seketika, menyisakan nyawa sebagai satu-satunya harta paling berharga.
Seluruh mata tertuju ke Sumatera. Uluran tangan datang dari berbagai penjuru. Donasi mengalir tanpa terhalang jarak dan tapal batas. Ribuan relawan berjibaku dengan lumpur dan tanah basah yang entah kapan akan mengering. Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan, sekecil apa pun, demi menghapus duka sesama. Dalam situasi seperti itu, misi kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.
Namun di sudut lain ibu kota, masih banyak anak bangsa yang terbuai kenyamanan. Rasa simpati perlahan tergerus, kepedulian memudar, dan rasa senasib sepenanggungan menguap begitu saja. Waktu dihabiskan untuk “membunuh waktu”: bermain game di layar genggaman, berpindah dari satu tempat tongkrongan ke tempat lainnya, berburu jaringan Wi-Fi tercepat. Padahal, di pundak merekalah kelanjutan negeri ini bergantung.
Malik dan teman-temannya menyadari hal itu. Mereka bertekad mengajak generasi muda tersebut untuk terjun langsung ke lokasi bencana. Membersihkan fasilitas umum dari kubangan lumpur yang kian enggan beranjak. Bukan sekadar hadir sebagai simbol, tetapi terlibat secara nyata. Karena itu, mereka berencana meminta bantuan kepada para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang memiliki koneksi dengan pembantu rektor III bidang kemahasiswaan, untuk menyerukan gerakan bersama lintas kampus.
“Niat baik saja tidak cukup,” ucap Syifa pelan, mengingat sebuah kalimat yang pernah ia baca berulang-ulang.
“Kita juga perlu mengandalkan mereka yang punya kuasa.” Kini, kalimat itu terasa semakin bermakna.
Bagi mereka, ini bukan soal seberapa banyak lumpur yang mampu disingkirkan. Bukan pula tentang berapa banyak sekolah yang kembali berfungsi, atau berapa masjid yang kembali siap menampung jamaah. Mungkin hasil fisiknya tak seberapa. Namun mereka yakin, akan ada banyak ego yang terkikis, bongkahan gengsi yang runtuh, dan tembok ketidakpedulian yang perlahan retak.
Dari sana, rasa kemanusiaan anak negeri diharapkan tumbuh kembali. Mengalir dalam empati yang sempat menghilang. Bahu-membahu, tanpa sekat latar belakang, memulihkan ibu pertiwi, bukan hanya tanahnya, tetapi juga jiwanya.
“Tidak perlu menunggu sempurna untuk bertindak,” kata Malik menutup pertemuan, seperti yang selalu ia lakukan di setiap rapat.
“Bertindaklah untuk menutupi kekurangan.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






