Dengarkan Artikel
Oleh. Juni Ahyar
Selamat datang di negeri ajaib,
tempat suara rakyat
ditakar dengan sebungkus mi instan
dan sebotol minyak goreng murah.
Delapan puluh tahun merdeka,
namun sebagian pikiran
masih terjajah oleh perutnya sendiri.
Politikusnya mencuri dengan dasi,
rakyatnya berbaris rapi
menjilat recehan sambil bertepuk tangan.
Negeri-negeri kecil
yang dulu menatap kita dengan iri
kini melesat menjadi macan.
Sementara kita bangga
menjadi kerbau jinak,
ditarik ke kandang
setiap lima tahun sekali.
Katanya rakyat adalah tuan,
padahal kenyataannya budak.
Katanya demokrasi,
namun yang berkuasa tetap amplop.
Lebih lucu lagi:
rakyat sendiri yang menyerahkan lehernya
untuk digorok,
sambil tersenyum puas
karena pulang membawa sembako basi.
Jangan bermimpi
anak cucu kita hidup makmur.
Mereka mungkin lahir
sebagai kebodohan kolektif,
dipaksa mencium tangan
para penjahat
yang kita undang sendiri
ke kursi kekuasaan.
Jika generasi ini tak juga sadar,
yang diwariskan bukan kemakmuran,
melainkan reruntuhan negeri
yang hancur oleh kerakusan.
Bukan oleh perang,
bukan oleh penjajah,
tetapi oleh kebodohan
yang dipelihara bersama.
Dan kelak,
ketika darah anak cucu
menjadi tebusan dosa hari ini,
jangan salahkan Tuhan.
Salahkan diri kita
yang rela menjual masa depan bangsa
demi kenyang satu hari.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





