Dengarkan Artikel
aldrinarief di CAFE Buku Reiner Emyot Ointoe
Agama tidak datang untuk membuatmu nyaman,
ia datang untuk membuatmu jujur.
Jujur pada luka,
pada kehancuran batin,
pada hati yang kehilangan arah
namun terlalu sombong untuk mengaku haus.
Agama bukan sekadar aturan dan larangan,
bukan hafalan doa,
bukan pakaian yang tampak saleh.
Agama adalah cermin
yang memaksa manusia menatap dirinya
tanpa topeng,
tanpa alasan,
tanpa pembelaan.
Ketika jiwamu lelah,
agama tidak selalu berkata,
“Tenanglah.”
Sering kali agama justru bertanya,
“Apa yang sedang kamu sembah sebenarnya?”
Karena banyak orang
mengucap nama Tuhan,
namun hidupnya diserahkan
pada uang,
status,
dan pengakuan manusia.
Agama mengajarkan satu hukum sunyi:
tidak ada kebangkitan
tanpa kematian.
Tidak ada cahaya
tanpa kegelapan yang dilalui.
Tidak ada iman
tanpa runtuhnya keakuan.
Hati yang hancur
bukan tanda ditinggalkan Tuhan,
melainkan tanda
bahwa pegangan palsu
sedang dicabut satu per satu.
Dan itu sakit.
Sangat sakit.
📚 Artikel Terkait
Agama tidak buru-buru menyembuhkan.
Ia membiarkanmu jatuh
agar kamu berhenti bersandar
pada dirimu sendiri.
Ia membiarkanmu kosong
agar kamu tahu
siapa yang sesungguhnya mengisi.
Banyak orang merasa gelisah
bukan karena kurang ibadah,
melainkan karena ibadahnya
tidak lagi menyentuh makna.
Mulut bergerak,
hati tetap bising.
Tubuh sujud,
jiwa tetap berlari.
Padahal agama sejak awal
ingin membawa manusia pulang.
Pulang dari kesibukan yang memabukkan,
dari ambisi yang mengikis jiwa,
dari kebanggaan yang pelan-pelan
membunuh ketenangan.
Agama tidak memperbaiki egomu.
Ia menghancurkannya.
Agar yang tersisa
bukan rasa hebat,
melainkan rasa berserah.
Dan ketika seseorang benar-benar beragama,
ia tidak menjadi paling benar,
tidak paling keras,
tidak paling merasa suci.
Ia justru menjadi
lebih rendah hati,
lebih lembut,
lebih takut menyakiti.
Karena ia tahu,
Tuhan tidak tinggal
di bangunan,
di simbol,
atau di teriakan moral.
Tuhan tinggal
di hati yang hancur
namun memilih jujur,
di jiwa yang lelah
namun tetap berharap,
di manusia yang akhirnya sadar
bahwa ia tidak punya apa-apa
selain kebutuhan
untuk berserah.
Itulah agama.
Bukan pelarian dari penderitaan,
melainkan cahaya
yang membuat penderitaan
bermakna.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






